Bottas Kayuh Sepeda 420 Km di Hutan Malaysia, Akui 'Pikiran Mulai Bermain' di Malam Hari
Baca dalam 60 detik
- Valtteri Bottas menempuh rute darat 420 km dari Malaysia ke Singapura dengan sepeda gravel selama tiga hari di sela balapan F1.
- Aksi ini bukan sekadar hobi, tetapi strategi mental dan aklimatisasi menjelang Sprint Weekend Singapura setelah hasil buruk di Bahrain.
- Petualangan Bottas menyoroti sisi lain kehidupan pembalap F1 yang jarang terekspos: eksplorasi alam dan kesiapan fisik di luar sirkuit.

Pembalap Cadillac F1, Valtteri Bottas, memilih cara tak biasa untuk berpindah dari Malaysia ke Singapura: mengayuh sepeda gravel sejauh 420 kilometer melintasi hutan selama tiga hari, di sela jeda balapan. Ia mengaku pengalaman bersepeda malam di hutan membuat pikirannya "mulai bermain-main".
Jarak antara dua kota itu sebenarnya hanya 360 km dan bisa ditempuh dalam satu jam penerbangan. Namun Bottas, yang dikenal sebagai penggemar berat gravel cycling, menyambut ide dari pasangannya, atlet sepeda profesional Tiffany Cromwell, untuk menempuh rute darat. "Tiffany awalnya hanya bercanda, 'Kamu bisa kan gowes dari sana, kan tidak terlalu jauh.' Lalu saya berpikir, mungkin bisa," ujarnya kepada media, Kamis (3/10).
Bottas tidak sekadar mengayuh. Ia menyusun rencana matang bersama pesepeda lokal yang hafal medan. Dua hari pertama, Senin dan Selasa, ia tempuh dengan jarak lebih panjang, lalu Rabu sebagai hari pemulihan dengan rute lebih pendek menuju Singapura. "Saya harus cek jarak, kondisi jalan, waktu, lalu buat rencana solid per hari. Dua hari besar sengaja saya letakkan di awal agar tidak mengganggu akhir pekan balapan," jelasnya.
Bagi Bottas, ini bukan hanya soal fisik. Ia mengaku balapan di Bahrain—di mana ia sempat spin di lintasan basah—meninggalkan frustrasi. "Bersepeda langsung menjernihkan pikiran saya. Saya buang frustrasi dengan cepat," katanya. Ia juga memanfaatkan momen ini untuk berlatih menghadapi jadwal malam Grand Prix Singapura. "Saya sengaja mulai sore, dua jam pertama paling berat karena panas. Tapi malamnya, bersepeda di hutan itu luar biasa. Suara-suara di dalam sana... pikiran mulai bermain. Siapa yang tahu ada apa di luar, tapi kita harus terus jalan," tuturnya.
"Saya melihat ular kobra, python menyeberang jalan, kadal besar. Satu kadal hampir saya tabrak, saya harus lompati dengan sepeda. Ada juga anjing mengejar dan sekawanan sapi menghalangi jalan," ujar Bottas menggambarkan pertemuannya dengan satwa liar.
Ia bahkan sempat dibuat terkejut ketika seorang jurnalis mengingatkannya bahwa harimau masih berkeliaran di hutan Malaysia. "Oh, baguslah sekarang tahu... Tidak ada yang memberi tahu saya, jadi di kepala saya tidak ada apa-apa," ujarnya sambil tertawa.
Petualangan ini juga menyoroti keramahan pengendara Malaysia. "Orang lokal dan mobil-mobil sangat sopan, selalu memberi ruang. Begitu berita menyebar, banyak yang menyemangati saya," kata Bottas. Ia menilai Malaysia, meski beriklim panas, lebih ramah pesepeda dibanding banyak negara Eropa.
Bottas berharap aktivitas ini membantu performanya di Sprint Weekend Singapura. "Saya sudah cukup teraklimatisasi. Banyak berkeringat memang, tapi itu membantu. Saya juga lebih siap secara mental," pungkasnya. Dengan pengalaman ini, Bottas membuktikan bahwa persiapan pembalap F1 tidak melulu soal simulator dan gym—kadang, hutan dan sepeda justru menjadi terapi.



