DeWalt Rilis Charger MagSafe Rp700 Ribuan, Bisa Dipakai di Lokasi Kerja Tanpa Listrik
Baca dalam 60 detik
- DeWalt menjual pengisi daya nirkabel 2-in-1 MagSafe seharga USD44 yang kompatibel dengan baterai 20V Max miliknya.
- Perangkat ini menyasar pekerja lapangan, penggemar camping, dan situasi darurat yang tidak punya akses stopkontak.
- Strategi ini memperluas ekosistem baterai DeWalt ke segmen elektronik konsumen, meski belum masuk pasar Indonesia secara resmi.

Produsen peralatan listrik DeWalt meluncurkan pengisi daya nirkabel 2-in-1 MagSafe seharga USD44, sebuah perangkat yang mengubah baterai 20V Max mereka menjadi sumber listrik portabel untuk ponsel dan Apple Watch. Penawaran ini muncul di penghujung ajang diskon Amazon Prime Big Deal Days, dengan penanda waktu yang menunjukkan potongan harga bersifat sementara.
Langkah DeWalt ini menandai pergeseran menarik: perusahaan yang identik dengan bor, gerinda, dan gergaji listrik itu kini menjajaki pasar aksesori elektronik konsumen. Bagi pengguna setia DeWalt yang sudah menumpuk baterai 20V, charger ini menjadi pelengkap logis—bukan sekadar gimmick. Perangkat seberat setengah pon itu dapat disematkan langsung ke atas baterai, dinyalakan, lalu digunakan untuk mengisi daya ponsel lewat magnet MagSafe atau pad khusus Apple Watch. Koneksi USB-C juga tersedia sebagai alternatif saat berada di rumah atau kantor.
Dari sisi penggunaan, charger ini menjawab masalah klasik pekerja lapangan: kehabisan daya ponsel saat listrik tidak tersedia. Dengan menyematkannya ke baterai 20V, pengguna bisa mengisi daya di lokasi proyek, area perkemahan, atau saat keadaan darurat. Area MagSafe-nya juga berfungsi ganda sebagai penyangga agar ponsel dapat dimiringkan—memudahkan menonton video tutorial atau hiburan sambil bekerja.
"Sebagian besar pembeli menyebut perangkat ini bekerja sesuai klaim, dengan kecepatan pengisian yang memuaskan dan tanpa keluhan panas berlebih," demikian ringkasan ulasan di halaman produk.
Bagi pasar Indonesia, produk ini belum tersedia secara resmi. Namun, sinyalnya patut dicermati. Pengguna alat listrik di Tanah Air—dari kontraktor hingga teknisi lepas—sudah akrab dengan baterai 20V dari berbagai merek. Jika DeWalt atau pesaing seperti Makita dan Bosch mulai serius menggarap aksesori pengisian daya berbasis baterai, bukan tidak mungkin tren ini merembet ke pasar lokal melalui importir atau toko online.
Yang lebih penting, langkah ini memperlihatkan bagaimana produsen peralatan kerja berlomba menambah nilai pada ekosistem baterai mereka. Baterai bukan lagi komponen pasif, melainkan pusat dari berbagai perangkat tambahan. Strategi ini berpotensi mengunci pelanggan pada satu merek—semakin banyak aksesori yang kompatibel, semakin enggan pengguna berpindah.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya soal harga diskon, melainkan apakah model bisnis "baterai sebagai platform" ini akan diadopsi lebih luas. Jika ya, pekerja Indonesia mungkin suatu hari bisa mengisi daya ponsel dari baterai bor yang sama—sebuah kemudahan yang selama ini hanya ada di bayangan.



