Baterai 10 kWh di Rumah Inggris Pangkas Tagihan Listrik: Uji Coba Satu Minggu, Impor Siang Turun Drastis
Baca dalam 60 detik
- Pemasangan baterai 10 kWh dan empat panel surya di rumah Inggris memangkas impor listrik siang hari dari 80 kWh menjadi 15 kWh dalam sepekan.
- Sistem ini memanfaatkan tarif malam murah 8,5p per kWh untuk mengisi baterai, lalu menggunakannya saat tarif siang 30,1p per kWh, menghasilkan penghematan ยฃ16,50.
- Keterbatasan kapasitas baterai terlihat saat cuaca dingin, memberi pelajaran bagi adopsi penyimpanan energi rumah tangga di pasar seperti Indonesia.

Sebuah rumah tangga di Inggris melaporkan penurunan drastis penggunaan listrik dari jaringan pada jam sibuk setelah memasang baterai berkapasitas 10 kilowatt-jam (kWh) yang dipadukan dengan panel surya atap. Dalam sepekan pertama, impor listrik siang hari turun dari sekitar 80 kWh menjadi hanya 15 kWh, menurut unggahan di forum Reddit yang dikutip Yahoo Tech. Kisah ini menjadi contoh awal bagaimana penyimpanan baterai dapat menekan biaya listrik bagi konsumen yang menghadapi tarif waktu penggunaan (time-of-use) yang fluktuatif.
Rumah tersebut menggunakan tarif Octopus Go, dengan harga listrik 8,5 pence per kWh pada malam hari dan 30,1 pence per kWh pada siang hari. Perbedaan tarif yang mencapai lebih dari tiga kali lipat ini menjadi insentif utama untuk menggeser konsumsi dari jam mahal ke jam murah. Sistem yang dipasang terdiri dari dua unit Anker Solarbank 4 Pro yang ditumpuk, ditambah empat panel surya 410 watt yang terhubung ke input MPPT. Kombinasi ini memungkinkan rumah menyimpan energi murah pada malam hari dan energi surya pada siang hari untuk digunakan saat dibutuhkan.
Berdasarkan perhitungan pemilik rumah, penghematan bersih minggu pertama mencapai sekitar ยฃ16,50 (sekitar US$21,90). Sekitar 65 kWh listrik yang seharusnya dibeli pada tarif puncak berhasil dihindari. Panel surya menghasilkan total sekitar 40 kWh, dengan 30 kWh disimpan di baterai saat penghuni bekerja dan 10 kWh langsung digunakan di rumah. Hanya sekitar 35 kWh yang perlu ditambahkan pada jendela pengisian malam, dengan biaya sekitar ยฃ3 (US$4). Angka ini menunjukkan potensi penghematan yang signifikan jika sistem dapat beroperasi konsisten sepanjang tahun.
Meski demikian, pemilik rumah mengakui keterbatasan baterai berukuran sedang saat cuaca lebih dingin. "Dua malam kami menyalakan pemanas dan baterai habis sebelum pukul 00:30, sehingga dua jam terakhir langsung mengambil dari jaringan," ujarnya. Ia juga memperingatkan bahwa sistem akan menghadapi tekanan lebih besar pada musim dingin ketika produksi surya menurun. Komentar lain di forum tersebut menunjukkan kinerja surya yang serupa, dengan seorang pengguna melaporkan menghasilkan 174 kWh sejak pemasangan pada 10 September menggunakan delapan panel 495 watt yang tersebar empat di timur dan empat di barat.
"40 kWh sangat bagus untuk empat panel 410 watt pada akhir September. Pasti jauh lebih cerah dari rata-rata. Akan menarik melihat data jangka panjang. Ini jelas arah yang tepat," kata seorang komentator.
Penyimpanan baterai rumah tangga memang semakin diakui sebagai cara untuk mengurangi ketergantungan pada jaringan listrik. Dengan menggeser listrik murah dari malam ke siang, rumah tangga dapat memangkas biaya sekaligus memanfaatkan energi surya yang jika tidak disimpan akan diekspor atau terbuang. Di Inggris, proposal baterai skala lingkungan disebut dapat memotong tagihan dengan menyimpan daya murah, dan penduduk di England berhasil mengumpulkan ยฃ440.000 untuk baterai milik komunitas pertama di negara itu guna menangkap kelebihan surya.
Bagi Indonesia, fenomena ini menawarkan perspektif menarik. Meskipun tarif listrik rumah tangga di Tanah Air masih disubsidi dan belum sepenuhnya menerapkan skema time-of-use secara luas, pertumbuhan panel surya atap dan baterai penyimpanan mulai menarik minat konsumen perkotaan. Jika kebijakan tarif bertingkat dan insentif energi terbarukan diperluas, model yang diuji di Inggris ini bisa menjadi acuan untuk mengurangi beban puncak jaringan dan mendorong kemandirian energi rumah tangga. Tantangan utamanya tetap pada biaya investasi awal dan kapasitas baterai yang memadai untuk iklim tropis dengan pola konsumsi yang berbeda.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah penyimpanan baterai rumah tangga akan menjadi arus utama, melainkan seberapa cepat harga per kWh turun dan regulasi mendukung. Jika tren ini berlanjut, rumah-rumah di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, berpotensi menjadi produsen sekaligus konsumen listrik yang lebih cerdas dan hemat.



