Houthi Hantam Dua Bandara Saudi, Korban Berjatuhan dan Aliansi Pertahanan Tiga Negara Diuji
Baca dalam 60 detik
- Serangan rudal balistik Houthi ke Bandara Abha dan King Khalid menewaskan tiga orang dan melukai 36 lainnya, memicu eskalasi konflik Yaman.
- Arab Saudi mengerahkan bantuan Pakistan dan Turki berdasarkan pakta pertahanan trilateral yang baru diteken, menandai babak baru proxy war di Timur Tengah.
- Insiden ini menguji efektivitas aliansi pertahanan kolektif dan berpotensi mengubah peta keamanan penerbangan sipil di kawasan.

Milisi Houthi Yaman melancarkan serangan rudal balistik ke dua bandara internasional Arab Saudi, menewaskan tiga orang dan melukai 36 lainnya. Otoritas Penerbangan Sipil Umum Saudi (GACA) mengonfirmasi bahwa Bandara Abha dan Bandara King Khalid di Riyadh menjadi target pada Selasa (6/10) dan Rabu (7/10). Ini adalah serangan langsung pertama yang mengguncang infrastruktur vital Saudi dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut pernyataan GACA, korban tewas di Abha adalah seorang warga Maroko dan seorang Aljazair, sementara 28 orang lainnya mengalami luka-luka. Di Bandara King Khalid, satu warga Saudi tewas dan delapan terluka. Juru bicara militer Saudi, Turki Al Maliki, menyatakan pasukannya berhasil menghancurkan peluncur rudal balistik yang digunakan untuk menyerang Riyadh, namun tidak merinci berapa banyak proyektil yang berhasil dicegat.
Serangan ini terjadi di tengah Operasi Fajar Yaman, kampanye militer besar-besaran yang dipimpin pasukan pemerintah Yaman dan didukung koalisi Saudi untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi. Konflik memanas sejak Juli lalu setelah serangan di Bandara Sanaa, yang dituduhkan Houthi ke Saudi. Eskalasi ini menunjukkan bahwa perang proksi di Yaman tidak hanya berlangsung di daratan Yaman, tetapi mulai merembet ke pusat-pusat populasi Saudi.
"Kami telah menghancurkan peluncur rudal balistik yang digunakan dalam serangan terhadap Riyadh," ujar Turki Al Maliki, juru bicara militer Saudi, seperti dikutip dari pernyataan resminya.
Yang membuat situasi semakin kompleks, Arab Saudi telah meminta bantuan Pakistan dan Turki untuk menangkal serangan Houthi. Awal pekan ini, kedua negara menyatakan kesiapan mengerahkan pasukan ke Saudi berdasarkan pakta pertahanan trilateral yang diteken pada Agustus lalu. Pakta tersebut menegaskan bahwa serangan terhadap salah satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota—sebuah klausul kolektif yang kini tengah diuji.
Bagi Indonesia, eskalasi ini memiliki implikasi tidak langsung namun signifikan. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar dan hubungan dagang erat dengan Saudi, stabilitas kawasan Teluk sangat memengaruhi harga minyak dunia dan biaya energi domestik. Selain itu, banyak tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Saudi, sehingga keamanan di sana menjadi perhatian langsung. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini, terutama jika konflik meluas ke kota-kota lain yang menjadi kantong pekerja migran.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah aliansi Saudi-Turki-Pakistan akan benar-benar mengerahkan kekuatan militer atau hanya menjadi instrumen tekanan diplomatik. Jika pasukan asing masuk ke Saudi, konflik bisa berubah menjadi perang regional terbuka yang melibatkan lebih banyak negara. Sebaliknya, jika Houthi terus melancarkan serangan, Saudi mungkin akan memperluas operasi udara ke Yaman utara, yang berisiko menambah korban sipil. Dunia menunggu langkah berikutnya—dan apakah gencatan senjata yang rapuh masih bisa diselamatkan.



