Andrew Garfield Ungkap Trauma Makan Siang Sekolah: Muntah di Guru hingga Sembunyi di Toilet
Baca dalam 60 detik
- Andrew Garfield mengaku pernah muntah di seorang guru setelah dipaksa menghabiskan makan siang sekolahnya.
- Pengalaman itu meninggalkan trauma yang membuatnya hingga kini tak bisa menyantap jagung manis lepas dari tongkolnya.
- Di tengah promosi film Artificial, cerita masa kecil Garfield justru mencuri perhatian publik dan menjadi viral di media sosial.

Aktor Hollywood Andrew Garfield membuka lembaran kelam masa kecilnya saat menjadi bintang tamu dalam podcast Dish bersama Nick Grimshaw dan chef Angela Hartnett. Dalam episode yang dirilis Rabu (7/10), pria 43 tahun itu mengaku pernah muntah tepat di tubuh seorang guru setelah dipaksa menghabiskan makan siang sekolahnya. Ia juga kerap bersembunyi di toilet demi menghindari menu yang ia sebut "brutal".
Pengalaman tersebut meninggalkan bekas mendalam. Garfield mengaku hingga kini tidak sanggup menyantap jagung manis yang sudah dilepas dari tongkolnya. Anehnya, jagung utuh dengan tongkol justru menjadi salah satu makanan favoritnya, terutama jika disiram mentega dalam jumlah banyak. "Kalau masih di tongkol, itu salah satu hal terbaik. Tapi begitu lepas dari tongkol, saya tidak bisa," ujarnya.
Ia menduga fobia itu muncul dari asosiasi visceral terhadap kejadian memalukan di sekolah dasar. "Saya muntah ke arah seorang guru yang memaksa saya makan. Saya akan sembunyi di toilet agar tidak harus menghabiskan makan siang," kenang Garfield. Ia bahkan menyamakan pengalaman itu dengan versi waterboarding, hanya saja menggunakan kentang tumbuk dan jagung manis lepas.
Kisah itu sontak mengundang tawa Grimshaw dan Hartnett. Namun di balik kelucuannya, cerita Garfield menyentuh isu yang lebih luas: bagaimana pengalaman makan di sekolah dapat membentuk hubungan seseorang dengan makanan hingga dewasa. Di Indonesia, program makan bergizi gratis yang digulirkan pemerintah juga menyoroti pentingnya pendekatan psikologis dalam pemberian makanan kepada anak, bukan sekadar asupan gizi.
Saat berbincang, Garfield juga mempromosikan film terbarunya, The Uprising, arahan Paul Greengrass yang berlatar Revolusi Petani 1381. Namun perhatian publik justru tertuju pada perannya sebagai CEO OpenAI Sam Altman dalam film Artificial garapan Luca Guadagnino. Film komedi gelap itu baru saja menggelar premier dunia di New York Film Festival dan langsung menuai perbandingan dengan The Social Network.
Artificial mendramatisasi kebangkitan OpenAI, termasuk gejolak November 2023 ketika Altman dicopot dari jabatannya lalu kembali lima hari kemudian. Neon, rumah produksi yang menaungi film ini, menempatkan Garfield sebagai kandidat aktor pendukung dalam musim penghargaan mendatang. Sementara Yura Borisov yang memerankan Ilya Sutskever diposisikan sebagai calon aktor utama, dan Mark Rylance yang berperan sebagai pionir AI Geoffrey Hinton juga masuk bursa aktor pendukung.
"Saya berharap kita bisa memberikan gigitan yang lebih tajam. Kita perlu menyorot seterang mungkin sudut-sudut tersembunyi dari orang-orang yang kita beri otonomi dan kekuasaan penuh," ujar Garfield kepada Variety.
Untuk mendalami peran Altman, Garfield menghabiskan dua hingga tiga bulan menonton dan mendengarkan berbagai rekaman wawancara. Ia juga mencermati laporan-laporan yang meningkat soal potensi bahaya kecerdasan buatan. Transformasinya sebagai Altman disebut-sebut menjadi salah satu daya tarik utama film ini, membawa namanya kembali ke percakapan Oscar setelah dua nominasi aktor terbaik sebelumnya lewat Hacksaw Ridge dan Tick, Tickโฆ Boom!.
Bagi industri hiburan Indonesia, kisah Garfield menjadi pengingat bahwa narasi personal yang autentik kerap lebih efektif menarik perhatian ketimbang promosi konvensional. Podcast dan wawancara mendalam bisa menjadi kanal efektif untuk membangun kedekatan dengan audiens, sekaligus mengangkat isu sosial yang lebih luas. Di saat yang sama, film bertema teknologi seperti Artificial berpotensi memicu diskusi publik tentang etika AI, sesuatu yang juga semakin relevan di Tanah Air seiring masifnya adopsi kecerdasan buatan di berbagai sektor.
Dengan jadwal rilis Artificial di bioskop AS pada Hari Natal dan ekspansi pada Januari, akankah cerita trauma makan siang Garfield justru menjadi bumerang atau malah memperkuat daya tariknya di mata penonton? Yang jelas, bagi Garfield, jagung manis lepas dari tongkol akan selamanya menjadi musuh yang tak terkira.



