Margaret Qualley: Kebahagiaan Sejati Dimulai dari Menerima Keadaan Diri
Baca dalam 60 detik
- Margaret Qualley membagikan pandangan hidupnya tentang cinta dan penerimaan diri dalam wawancara dengan E! News.
- Aktris 31 tahun itu mengaku sempat merasa tertekan di awal karier karena tekanan industri hiburan.
- Kesuksesan film The Substance dan perceraian dari Jack Antonoff justru membuatnya lebih percaya diri dan feminin.

Aktris Hollywood Margaret Qualley menilai bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari pencapaian ambisi, melainkan dari kemampuan berdamai dengan kenyataan hidup. Dalam wawancara dengan E! News, bintang film The Substance itu mengungkapkan filosofinya tentang cinta dan penerimaan diri, yang ia yakini sebagai kunci untuk menjalani hidup lebih tenang.
Qualley, yang kini berusia 31 tahun, tengah mempromosikan film drama romantis terbarunya, Love of Your Life, garapan sutradara Rachel Morrison. Ia mengaku tertarik pada proyek tersebut karena skenario karya Julia Cox dinilai mampu menangkap kompleksitas perjalanan cinta dan kehilangan yang dialami tokoh utamanya, Maya. "Saya suka bagaimana Maya harus menerima hidupnya yang berantakan," ujarnya.
Dalam wawancara itu, Qualley mengutip dialog dari karakter yang diperankan Catherine Keener di akhir film. Menurutnya, kalimat tersebut menyiratkan pesan mendalam tentang mencintai kehidupan sendiri. "Sifat penderitaan adalah menginginkan sesuatu yang tidak kita miliki, dan mampu menerima apa yang kita punya. Kadang itu mudah, kadang sangat sulit. Tapi belajar melepaskan dan berdamai dengan posisi kita saat ini adalah sebuah keindahan," tuturnya.
Perjalanan karier Qualley tidak selalu mulus. Putri aktris Andie MacDowell ini mengaku sempat merasa kewalahan saat memulai debut aktingnya di usia muda. Dalam wawancara dengan majalah Vanity Fair, ia mengungkapkan rasa takut yang membuatnya sulit mengekspresikan diri. "Saya merasa jika menjadi diri sendiri sepenuhnya, perempuan akan membenci saya dan laki-laki akan menyakiti saya. Itu menghilangkan beberapa alat yang seharusnya dimiliki seorang perempuan karena saya takut," kenangnya.
Namun, seiring waktu dan kesuksesan yang diraih lewat film seperti Once Upon a Time in Hollywood dan The Substance, Qualley merasa lebih percaya diri. Ia menyatakan bahwa kendali atas hidupnya kini lebih besar, sehingga ia bisa lebih mengeksplorasi sisi sensual dan feminin. "Perlahan-lahan, sekarang saya bisa lebih condong ke arah itu," ujarnya.
Pandangan Qualley ini sejalan dengan tren di kalangan publik figur yang semakin terbuka membahas kesehatan mental dan pencarian jati diri. Di Indonesia, isu serupa juga mendapat perhatian, terutama di kalangan generasi muda yang menghadapi tekanan sosial dan ekspektasi karier. Meski tidak secara langsung terkait, pernyataan Qualley dapat menjadi cermin bahwa keberhasilan tidak selalu identik dengan kebahagiaan, dan penerimaan diri adalah proses yang berkelanjutan.
Ke depan, Qualley akan terus menjadi sorotan melalui peran-perannya di Hollywood. Namun, pesan yang ia sampaikan tentang cinta dan penerimaan diri mungkin akan lebih membekas daripada sekadar penampilan di layar lebar. Apakah industri hiburan akan semakin menghargai kerentanan sebagai kekuatan, bukan kelemahan?



