Emilia Clarke Blak-blakan Soal Instagram: '30 Detik Bikin Saya Sengsara'
Baca dalam 60 detik
- Emilia Clarke mengaku tidak pernah membuka Instagram karena hanya dalam setengah menit ia sudah merasa tidak bahagia.
- Aktris Game of Thrones itu menilai algoritma media sosial tidak bisa menggantikan dukungan emosional dan kebahagiaan nyata.
- Ia juga menyoroti standar ganda masyarakat yang lebih cepat mengkritik penampilan perempuan dibandingkan laki-laki.

Emilia Clarke, bintang serial Game of Thrones, mengungkapkan alasan dirinya sama sekali tidak menyentuh Instagram. Dalam wawancara dengan majalah Marie Claire UK, ia mengaku hanya butuh waktu 30 detik untuk merasa tidak bahagia begitu membuka aplikasi tersebut. “Saya tidak ikut ambil bagian di Instagram sama sekali karena dalam 30 detik saya sudah sengsara,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa ia bahkan tidak pernah melihat foto dirinya di acara Emmy.
Pernyataan ini bukan sekadar keluhan seorang selebritas. Clarke menyoroti bagaimana media sosial, terutama Instagram, telah menjadi panggung yang memperparah tekanan citra tubuh, khususnya bagi perempuan. Ia menilai ekspektasi penampilan yang beredar di platform digital sudah melampaui batas kewajaran. “Anda ingin kami semua terlihat sama? Hanya satu populasi dengan wajah dan tubuh yang seragam? Ayolah, kita manusia, kita akan berubah,” katanya.
Menurut Clarke, ada ketidakadilan yang mengakar dalam cara masyarakat menilai penampilan. Ia menegaskan bahwa perempuan jauh lebih cepat dikritik dibandingkan laki-laki ketika menyangkut standar visual. “Perbedaannya, saya pikir, kita masih hidup dalam masyarakat yang akan mengkritik perempuan lebih cepat daripada mengkritik laki-laki,” tuturnya. Pandangan ini sejalan dengan berbagai studi yang menunjukkan bahwa aktris perempuan di industri hiburan menghadapi tekanan usia dan penampilan yang jauh lebih besar dibandingkan rekan pria mereka.
“Kunci dari kesengsaraan total adalah perbandingan. Saya tidak bilang saya tidak melakukannya, tapi saya berusaha menangkap diri sendiri dan menemukan kekuatan pada siapa saya.” — Emilia Clarke
Clarke juga mengakui bahwa kekhawatiran akan kariernya sebagai aktris yang menua membuatnya sulit tidur. Ia berusaha tidak menaruh harga diri pada ekspektasi orang lain, namun mengakui hal itu tidak mudah. “Saya mencoba mencari cara agar tidak menempatkan rasa berharga saya pada pandangan orang lain. Dan itu sangat sulit,” ujarnya. Ia menyebut dirinya “terobsesi secara tidak sehat” dengan apa yang akan datang, sebuah pengakuan yang menunjukkan sisi rentan di balik citra publiknya.
Dalam wawancara tersebut, Clarke juga merefleksikan perjalanan kariernya. Ia mengaku sepuluh tahun pertama kariernya, di luar Game of Thrones, banyak diisi dengan menerima tawaran karena belum tahu cara menolak. Kini, ia jauh lebih selektif dalam memilih proyek dan rekan kerja. “Saya ingin benar-benar ingin pergi bekerja, dan satu-satunya cara adalah bekerja dengan orang-orang yang membuat Anda merasa nyaman. Kalau pun proyeknya tidak sukses, setidaknya Anda punya waktu yang menyenangkan,” katanya.
Clarke akan segera tampil di panggung National Theatre London melalui lakon Plenty karya Sir David Hare. Debut teater ini menjadi penanda babak baru dalam kariernya, sekaligus pembuktian bahwa ia ingin mengambil kendali atas pilihan artistiknya. Di tengah industri yang sering kali menuntut penampilan dan citra tertentu, sikap Clarke menjadi semacam perlawanan halus terhadap budaya media sosial yang ia nilai merusak.
Pertanyaannya, akankah semakin banyak figur publik mengikuti jejak Clarke untuk menarik diri dari tekanan algoritma? Atau justru sebaliknya, media sosial tetap menjadi ukuran eksistensi yang sulit dihindari? Yang jelas, pengakuan Clarke memberi wajah pada perdebatan yang lebih luas tentang kesehatan mental di era digital — sebuah isu yang juga relevan bagi banyak pengguna di Indonesia, di mana tekanan sosial media kerap menjadi pemicu kecemasan dan perbandingan diri.



