Michael Douglas Ungkap Ultimatum Catherine Zeta-Jones: Hentikan Lima Pacar atau Kehilangan Saya
Baca dalam 60 detik
- Catherine Zeta-Jones menolak menjadi kekasih keenam Michael Douglas dan memberi syarat eksklusivitas sebelum hubungan mereka dimulai.
- Douglas mengakhiri lima hubungan sekaligus dalam sehari, mengungkap dinamika romansa Hollywood era 1990-an yang penuh negosiasi.
- Memoar One Helluva Ride membuka kembali sejarah asmara Douglas, termasuk perselingkuhan dengan Kathleen Turner dan perpisahan sementara pada 2013.

Aktor senior Michael Douglas mengungkap bahwa Catherine Zeta-Jones pernah memberikan syarat tegas di awal pendekatan mereka: ia bersedia menjalin hubungan asalkan Douglas menghentikan semua hubungan dengan perempuan lain. Permintaan itu disampaikan ketika Douglas, yang saat itu baru berpisah dari istri pertamanya, Diandra, sedang menjalin komunikasi dengan lima perempuan sekaligus.
Dalam memoar terbarunya, One Helluva Ride, Douglas menuturkan bahwa Zeta-Jones tidak tertarik menjadi tambahan dalam daftar kekasihnya. "Saya tidak mau berkencan denganmu jika kamu masih berkencan dengan orang lain. Kamu bisa lanjut dengan mereka atau mengakhirinya dan bersamaku," kenang Douglas menirukan ucapan Zeta-Jones, seperti dikutip dari memoir tersebut.
Respons Douglas pun tak biasa. Ia mengaku langsung meminta Zeta-Jones menunggu, lalu melakukan lima panggilan telepon untuk memutuskan hubungan dengan kelima perempuan tersebut pada hari yang sama. "Lima? Kamu harus menelepon lima orang?" ujar Zeta-Jones heran, seperti ditulis Douglas.
Kisah ini bukan sekadar nostalgia romansa selebritas. Pola hubungan yang diungkap Douglas memperlihatkan bagaimana negosiasi eksklusivitas dan batasan pribadi menjadi bagian dari dinamika kuasa di industri hiburan. Douglas, yang saat itu berstatus separated dan sedang dalam proses perceraian, mengaku sempat mengatur agar kelima kekasihnya tinggal di kota berbeda—sebuah strategi yang ia sebut sebagai cara "menghormati" hubungan non-monogami. Namun, tak satu pun dari mereka menuntut komitmen, hingga Zeta-Jones datang dengan permintaan yang jelas.
Pertemuan pertama Douglas dan Zeta-Jones terjadi setelah ia terkesan pada penampilan aktris Wales itu di The Mask of Zorro (1998). Douglas kemudian meminta publicist-nya mengatur pertemuan di Festival Film Amerika Deauville, Prancis, saat ia mempromosikan A Perfect Murder. "Dia cerdas, lucu, tidak dibuat-buat, dan tentu saja sangat cantik. Dia juga tampak percaya diri," tulis Douglas. Malam itu, setelah makan malam bersama Antonio Banderas dan Melanie Griffith, Douglas mengantar Zeta-Jones ke lift hotel dan melontarkan kalimat yang kemudian menjadi kenyataan: "Saya akan menjadi ayah dari anak-anakmu."
"Itu bukan rayuan murahan. Itu adalah kebenaran," tulis Douglas dalam memoarnya.
Hubungan mereka tidak selalu mulus. Pada 2013, pasangan ini sempat berpisah sementara sebelum akhirnya rujuk. Dalam wawancara dengan Diane Sawyer di Good Morning America, Douglas mengakui bahwa hubungan mereka kini telah berkembang melampaui ketertarikan fisik. "Ada ikatan yang tidak diketahui pada titik tertentu. Ini lebih dari sekadar ketertarikan—sebuah ikatan kedekatan dan rasa saling menghormati," ujarnya kepada People.
Memoar tersebut juga mengungkap perselingkuhan Douglas dengan Kathleen Turner saat syuting Romancing the Stone (1984), serta hubungannya dengan Jeanne Tripplehorn, lawan mainnya di Basic Instinct (1992). Douglas mengaku telah meminta izin Turner sebelum memasukkan detail hubungan mereka ke dalam buku. Pengungkapan ini menambah panjang daftar kontroversi yang membuat One Helluva Ride menjadi salah satu memoar Hollywood paling banyak dibicarakan pekan ini.
Bagi publik Indonesia, kisah Douglas dan Zeta-Jones bisa menjadi cermin bagaimana selebritas global mengelola narasi privat di tengah sorotan media. Di era ketika kehidupan pribadi figur publik kerap menjadi konsumsi daring, batas antara hak privasi dan kepentingan publik semakin kabur. Buku ini menunjukkan bahwa bahkan aktor sekaliber Douglas memilih mengungkap sendiri kisahnya—sebuah strategi kontrol narasi yang lazim di kalangan selebritas internasional, termasuk di Asia.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah memoar ini akan terus memicu perdebatan, melainkan bagaimana publik menimbang antara hak seorang tokoh untuk bercerita dan dampaknya bagi orang-orang yang disebut di dalamnya. Apakah pengungkapan semacam ini memperkaya pemahaman tentang kehidupan selebritas, atau justru memperdagangkan privasi demi perhatian?



