Studi Ungkap Mengapa Penderita IBD di Fase Remisi Masih Alami Sensitivitas Makanan
Baca dalam 60 detik
- Penelitian terbaru menemukan bahwa peradangan usus dapat mengubah komposisi mikrobioma, memicu reaksi imun terhadap makanan yang sebelumnya ditoleransi.
- Hingga 70% pasien IBD melaporkan gejala seperti nyeri perut dan kembung akibat makanan tertentu, meski penyakitnya sedang terkendali.
- Temuan ini membuka peluang diagnosis dan terapi baru, tetapi masih memerlukan uji klinis pada manusia untuk memastikan mekanismenya.

Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Gastroenterology mengungkap mekanisme biologis di balik keluhan sensitivitas makanan yang sering dialami pasien penyakit radang usus (IBD) meski penyakit mereka sedang dalam fase remisi. Peneliti menemukan bahwa peradangan usus dapat mengubah ekosistem bakteri di saluran cerna, sehingga memicu respons imun terhadap makanan yang sebelumnya aman dikonsumsi.
IBD adalah istilah payung untuk kondisi peradangan kronis pada saluran pencernaan, dengan dua jenis utama: kolitis ulseratif dan penyakit Crohn. Data global tahun 2021 menunjukkan sekitar 3,8 juta orang hidup dengan IBD. Meski belum ada obat yang menyembuhkan, gejala biasanya dikelola dengan obat-obatan dan penyesuaian gaya hidup, termasuk menghindari makanan pemicu seperti produk susu, gluten, dan makanan berlemak tinggi.
Namun, banyak pasien yang telah mencapai remisi—ketika gejala utama mereda—tetap melaporkan reaksi negatif terhadap makanan tertentu. "Sampai 70% pasien IBD mengatakan makanan tertentu memicu gejala seperti nyeri perut, kembung, atau perubahan pola buang air besar," ujar Alberto Caminero, PhD, peneliti dari McMaster University, Kanada, dalam wawancara dengan Medical News Today.
Untuk mengurai misteri ini, tim peneliti menggunakan dua model tikus dengan peradangan usus. Hasilnya, peradangan meningkatkan kerentanan hewan terhadap respons imun spesifik terhadap gluten dan susu. Caminero menjelaskan bahwa respons tersebut melibatkan imunoglobulin E (IgE) dan sel mast—sel imun yang juga berperan dalam alergi makanan. "Menariknya, respons ini sebagian besar terbatas di usus, bukan menyebar ke seluruh tubuh, sehingga berbeda dari alergi makanan biasa yang bisa memicu anafilaksis," tambahnya.
Peneliti juga merekrut 148 partisipan manusia untuk melihat pola serupa. Mereka menemukan bahwa peradangan mengganggu mikrobiota usus, mengurangi bakteri yang biasanya membantu memecah komponen makanan seperti gluten dan laktosa. Ketika mikrobiota dari tikus yang meradang ditransplantasikan ke tikus sehat, penerima menjadi lebih rentan terhadap reaksi makanan. Pola perubahan mikrobiota yang sama juga terlihat pada pasien IBD yang melaporkan sensitivitas makanan.
"Selama ini, pasien IBD dalam remisi klinis mengeluh makanan yang dulu mereka toleransi tiba-tiba memicu gejala gastrointestinal. Kini kami memiliki penjelasan fisiologis yang masuk akal," ujar Alyssa M. Parian, MD, gastroenterolog dari Hackensack University Medical Center, yang tidak terlibat dalam studi.
Parian menambahkan bahwa temuan ini sangat melegakan pasien karena memberikan validasi ilmiah atas pengalaman mereka. "Melihat bukti konkret bahwa peradangan usus sebelumnya mengubah cara mikrobioma memecah makanan—mengubah produk sampingan makanan menjadi pemicu imun baru—menjawab teka-teki yang hilang," katanya.
Rudolph Bedford, MD, gastroenterolog dari Providence Saint John's Health Center, juga mengomentari bahwa temuan ini tidak hanya relevan untuk IBD. "Kami juga melihat pasien setelah mengonsumsi antibiotik mengalami sensitivitas makanan, yang saya sebut IBS pasca-infeksi. Jadi ini bisa meluas ke penyakit lain," ujarnya. Bedford menekankan bahwa pertanyaan kuncinya adalah apakah memulihkan mikrobioma atau fungsi bakteri yang hilang dapat membantu pasien mentoleransi makanan tertentu. "Itu membutuhkan studi manusia yang jauh lebih besar, tetapi ini awal yang baik," tambahnya.
Meski demikian, Caminero mengingatkan bahwa penelitian pada tikus tidak secara otomatis berlaku pada manusia. "Ini tidak membuktikan mekanisme yang sama terjadi pada manusia, tetapi memberikan petunjuk penting bahwa proses serupa mungkin terlibat," tegasnya. Ia berharap temuan ini dapat membuka jalan baru untuk diagnosis dan penatalaksanaan gejala terkait makanan pada pasien IBD.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat prevalensi IBD yang terus meningkat di negara berkembang, termasuk Indonesia, seiring perubahan pola makan dan urbanisasi. Kesadaran akan peran mikrobioma usus dapat mendorong pendekatan pengobatan yang lebih personal, tidak sekadar menghindari makanan pemicu, tetapi juga memperbaiki kesehatan mikrobiota melalui diet, probiotik, atau terapi mikrobioma di masa depan.
Ke depan, pertanyaan besar yang masih menunggu jawaban: apakah intervensi yang menargetkan mikrobioma dapat memulihkan toleransi makanan pada pasien IBD? Uji klinis pada manusia akan menjadi kunci untuk menjawabnya.



