Microsoft Buka Preorder Surface Laptop Ultra Rp40 Jutaan, Tantang MacBook Pro dengan Trade-in Rp15 Juta
Baca dalam 60 detik
- Microsoft resmi membuka preorder Surface Laptop Ultra seharga $2.599, menawarkan trade-in hingga $1.000 bagi pengguna MacBook Pro yang beralih.
- Laptop 15 inci ini ditenagai chip Nvidia RTX Spark dengan performa AI satu petaflop, memungkinkan model AI besar berjalan lokal tanpa cloud.
- Langkah ini mempertegas persaingan di segmen laptop premium, namun analis memperingatkan biaya memori yang melonjak membuat perangkat AI lokal semakin tak terjangkau.

Microsoft resmi membuka preorder untuk Surface Laptop Ultra, laptop Windows 15 inci yang mengusung chip Nvidia RTX Spark, dengan harga mulai $2.599. Perangkat ini dijadwalkan mulai dikirim pada 16 Oktober, menurut Kepala Windows dan Devices Microsoft Pavan Davuluri dalam acara perusahaan di San Francisco, seperti dilaporkan CNBC.
Untuk menarik pembeli dari ekosistem Apple, Microsoft menawarkan insentif trade-in hingga $1.000 bagi pemilik MacBook Pro yang memenuhi syarat. Promosi ini berlaku hingga 23 November dan hanya tersedia melalui Microsoft Store online di Amerika Serikat dan Kanada. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya agresif Microsoft untuk menggerus pangsa pasar Apple di segmen laptop premium.
Surface Laptop Ultra membawa spesifikasi tinggi: GPU Nvidia Blackwell RTX dengan hingga 6.144 core, CPU Nvidia Grace hingga 20 core, dan memori terpadu hingga 128 GB. Microsoft mengklaim perangkat ini mampu menghasilkan performa AI hingga satu petaflop, memungkinkan pengguna menjalankan model AI berskala besar secara lokal tanpa bergantung pada server cloud. Bobotnya di bawah 4,5 pon (sekitar 2 kg) dengan ketebalan kurang dari 18 milimeter.
Salah satu fitur pembeda adalah Magnetic Connect, port pengisian USB-C dengan mekanisme magnetik yang diklaim Microsoft belum pernah ada di laptop lain. Port ini tetap berfungsi penuh untuk video dan data. Selain itu, tersedia dua port USB-C, HDMI, USB-A, pembaca kartu SD, dan jack headphone. Penyimpanan dapat diganti sendiri oleh pengguna.
Microsoft juga membuka preorder untuk desktop pendamping, Surface RTX Spark Dev Box, seharga $5.999 yang menyasar pengembang dan insinyur AI. Perangkat ini akan dikirim pada November dan dijual eksklusif melalui Microsoft.com di Amerika Serikat.
"Perangkat lunaknya belum siap, tetapi perangkat kerasnya sudah. Sekarang perangkat lunaknya siap dan perangkat kerasnya terlalu mahal untuk menjalankan AI secara lokal," ujar Anshel Sag, analis dari Moor Insights & Strategy, kepada Reuters. "Jadi ini menjadi situasi di mana hanya mereka yang memiliki anggaran besar yang benar-benar mampu menjalankan AI secara lokal."
Pernyataan Sag menyoroti paradoks dalam industri: adopsi AI lokal yang digadang-gadang sebagai masa depan komputasi justru terkendala oleh harga komponen. Lonjakan biaya memori global telah mendorong harga perangkat keras berkemampuan AI ke level yang sulit dijangkau konsumen umum. Microsoft dan Nvidia tampaknya menyadari hal ini, namun tetap meluncurkan produk demi memenuhi permintaan segmen profesional dan pengembang.
CEO Microsoft Satya Nadella dan CEO Nvidia Jensen Huang hadir dalam acara peluncuran. Menurut CNBC, Huang menyatakan bahwa GPU Blackwell RTX Spark di Surface Laptop Ultra memiliki kekuatan pemrosesan setara dengan server pusat data DGX-1 Nvidia pada 2016. Klaim ini menegaskan lompatan besar dalam komputasi personal, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang efisiensi biaya.
Bagi pasar Indonesia, kehadiran Surface Laptop Ultra dan perangkat AI lokal lainnya berpotensi memengaruhi segmen kreator dan pengembang yang selama ini mengandalkan layanan cloud. Namun dengan harga yang setara puluhan juta rupiah, daya beli menjadi tantangan utama. Pemerintah melalui program transformasi digital nasional perlu mendorong ketersediaan perangkat AI yang lebih terjangkau, atau mendorong pengembangan model AI ringan yang dapat berjalan di perangkat mid-range.
Ke depan, persaingan di segmen laptop AI akan semakin ketat. Apple diperkirakan merespons dengan chip M-series generasi berikutnya, sementara produsen Windows lainnya seperti Lenovo dan Dell juga menyiapkan perangkat berbasis Nvidia. Pertanyaannya, apakah strategi trade-in agresif Microsoft cukup untuk membalikkan dominasi Apple di kalangan profesional kreatif, atau justru memperlebar jurang antara pengguna mampu dan tidak mampu?



