Pikachu Boneka Jelajahi ISS, ESA dan Pokémon Jalin Kemitraan Sains
Baca dalam 60 detik
- European Space Agency (ESA) merilis video boneka Pikachu berkeliling Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) bersama astronaut Sophie Adenot.
- Boneka itu menghabiskan 67 hari di orbit, dari 11 April hingga 17 Juni, sebagai bagian dari misi edukasi dan promosi World Space Week 2026.
- Kemitraan ESA dengan The Pokémon Company juga menghadirkan pameran temporer di berbagai museum Eropa dan event khusus di Pokémon Go.

Boneka Pikachu yang mengenakan kostum astronaut menjadi pusat perhatian dalam video terbaru yang dirilis European Space Agency (ESA). Video tersebut memperlihatkan boneka ikonik itu menjelajahi Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) bersama astronaut Sophie Adenot, sebagai bagian dari kolaborasi antara ESA dan The Pokémon Company.
Kemitraan ini diumumkan bertepatan dengan World Space Week 2026 yang dimulai pada Minggu (6/10). Langkah tersebut dinilai sebagai upaya ESA mendekatkan sains antariksa kepada publik yang lebih luas, terutama generasi muda yang akrab dengan waralaba Pokémon. Boneka Pikachu itu sendiri telah menghabiskan 67 hari di orbit, tepatnya dari 11 April hingga 17 Juni, mendampingi Adenot dalam misinya.
Dalam video yang diunggah ke akun YouTube ESA, Adenot memandu tur ke beberapa bagian penting ISS. Salah satu momen yang mencuri perhatian adalah ketika ia menjelaskan sistem filtrasi air stasiun tersebut. "Kami mendaur ulang 98% air kami," ujar Adenot. "Itu luar biasa. Bahkan urine pun didaur ulang." Pernyataan ini menyoroti efisiensi teknologi daur ulang air di ISS, yang menjadi salah satu kunci keberlangsungan hidup para astronaut dalam jangka panjang.
Tur berlanjut ke bagian freezer stasiun yang mampu mencapai suhu -98 derajat Celsius (-144,4 Fahrenheit). Freezer ini digunakan untuk menyimpan sampel darah dan berbagai eksperimen ilmiah. Pikachu kemudian diajak ke crew quarters, tempat tinggal para astronaut selama berada di orbit. Video ini tidak hanya menampilkan sisi humanis misi antariksa, tetapi juga mengedukasi penonton tentang teknologi dan tantangan hidup di luar angkasa.
Selain video, kemitraan ESA dan The Pokémon Company juga menghadirkan pameran temporer bertema antariksa dan Pokémon di sejumlah lokasi ESA serta museum-museum besar di Eropa. Pameran ini menawarkan merchandise eksklusif dan event khusus dalam game mobile Pokémon Go. Langkah ini sejalan dengan strategi ESA untuk memperluas jangkauan audiens melalui budaya pop, sekaligus meningkatkan literasi sains di kalangan penggemar game dan anime.
"Kami mendaur ulang 98% air kami. Itu luar biasa. Bahkan urine pun didaur ulang." — Sophie Adenot, astronaut ESA
Bagi Indonesia, kolaborasi semacam ini bisa menjadi contoh bagaimana lembaga antariksa atau riset dapat menggandeng entitas budaya pop untuk menarik minat generasi muda terhadap sains dan teknologi. Dengan populasi penggemar Pokémon yang besar, Indonesia berpotensi mengembangkan program edukasi serupa, misalnya melalui kerja sama dengan LAPAN (kini BRIN) atau komunitas lokal. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan engagement, tetapi juga memperkuat citra lembaga riset sebagai institusi yang relevan dan adaptif terhadap tren global.
Ke depan, model kemitraan lintas sektor seperti ini diperkirakan akan semakin sering dilakukan oleh organisasi antariksa dunia. Pertanyaannya, akankah ESA dan The Pokémon Company melanjutkan kolaborasi ini untuk misi-misi berikutnya, atau justru membuka peluang bagi negara lain untuk mengadopsi strategi serupa? Yang jelas, Pikachu telah membuktikan bahwa boneka kecil pun bisa menjadi duta sains yang efektif.



