Ketika Trump Ganti "AI" Jadi "SI": Domain Slovenia Diserbu, India Salip AS
Baca dalam 60 detik
- Kebijakan Trump mengganti istilah AI menjadi SI memicu lonjakan registrasi domain .si hingga lima kali lipat dalam sehari.
- Data Hostinger menunjukkan India (3.174) menyalip AS (3.135) dalam pembelian domain .si, dengan Maroko di posisi ketiga.
- Spekulasi mendominasi pasar, tetapi hanya dua dari 35 penjualan domain .si yang digunakan perusahaan nyata.

Perintah Eksekutif 14434 yang diteken Presiden AS Donald Trump pada 29 September 2026 tidak hanya mengubah terminologi kecerdasan buatan di lingkungan federal, tetapi juga memicu gelombang pendaftaran domain .si—kode negara Slovenia—secara global. Dalam 24 jam pada 9 Oktober 2026, Register.si mencatat 19.541 nama domain baru, sekitar lima kali lipat rata-rata harian sebelum perintah tersebut.
Lonjakan ini berawal dari pidato Trump di Sidang Umum PBB pada 22 September 2026, di mana ia menyatakan pemerintah AS akan menyebut AI sebagai "super intelligence" atau SI. Sepekan kemudian, ia menandatangani perintah yang memerintahkan lembaga federal mengganti istilah tersebut dan tidak mengakui penggunaan "Artificial Intelligence" maupun "AI". Kebetulan, singkatan SI identik dengan kode negara Slovenia, yang telah digunakan sejak 1992.
Berbeda dengan domain .ai milik Anguilla yang mensyaratkan pendaftaran minimal dua tahun, domain .si dapat dibeli per tahun tanpa alamat Slovenia. Hostinger, salah satu penjual ritel terbesar, menetapkan harga $11,99 untuk tahun pertama dan $16,99 untuk perpanjangan, sementara Register.si mematok €10 per domain. Dengan biaya rendah, siapa pun bisa mendaftarkan ratusan nama untuk dijual kembali.
Data eksklusif Hostinger yang diperoleh TechRadar Pro mengungkap bahwa India mencatat 3.174 registrasi (25,5%), sedikit di atas AS dengan 3.135 (25,2%). Maroko mengejutkan di posisi ketiga dengan 678, disusul Inggris (425), Kanada (409), Jerman (374), dan UEA (363). Pakistan berada di peringkat kedelapan dengan 260, sementara Mesir dan Aljazair juga masuk 20 besar.
Meski demikian, mayoritas pembeli tampaknya adalah spekulan. Netcraft menemukan lebih dari separuh domain .si yang didaftarkan di Dynadot antara jajak pendapat Trump di Truth Social dan pidato PBB langsung terdaftar di pasar jual beli. Selain itu, 87 domain .com yang menggabungkan merek terkenal dengan "superintelligence" didaftarkan beberapa jam sebelum perintah diteken dan dipasang dengan harga $20.000 per unit, meski belum ada bukti penjualan.
"Nama seperti build.si mematok harga jutaan dolar, dan dari 35 penjualan .si yang terdokumentasi pada paruh pertama 2026, hanya dua yang digunakan perusahaan nyata," demikian temuan Netcraft.
Domain Name Wire memperkirakan lonjakan September menyumbang sekitar €300.000 pendapatan tambahan bagi registry—jumlah kecil dibandingkan $85,3 juta yang diraup Anguilla dari .ai sepanjang 2025. Pertanyaan besarnya adalah berapa banyak domain yang bertahan hingga perpanjangan pertama pada akhir 2027. Jika "SI" tetap menjadi istilah Gedung Putih sementara industri global tetap menggunakan AI, sebagian besar registrasi spekulatif akan gugur dengan sendirinya.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi cermin bagaimana kebijakan di satu negara dapat menggerakkan pasar digital lintas batas. Meski tidak ada indikasi keterlibatan signifikan dari pendaftar Indonesia, lonjakan .si menunjukkan bahwa domain negara kecil pun bisa menjadi komoditas spekulatif ketika ada pemicu kebijakan. Pemerintah dan pelaku usaha digital dalam negeri perlu mencermati dinamika ini, terutama dalam konteks pengelolaan domain .id yang memiliki potensi serupa jika terjadi perubahan kebijakan global.
Ke depan, tenggat 60 hari untuk definisi federal resmi dapat mengubah kalkulasi para spekulan. Jika administrasi Trump konsisten dengan perubahan istilah, nilai .si mungkin bertahan; sebaliknya, jika industri tetap setia pada AI, gelombang registrasi ini hanya akan menjadi gelembung sesaat. Pasar domain akan menguji apakah "SI" benar-benar menjadi standar baru atau sekadar anomali politik.



