Valerie Bertinelli Tantang Haters Usai Dihujat karena Kenang Eddie Van Halen
Baca dalam 60 detik
- Valerie Bertinelli memperingati enam tahun wafatnya Eddie Van Halen dengan unggahan foto lawas di Instagram, namun menuai reaksi negatif dari warganet.
- Ia mengungkap pola perundungan daring yang halus: kritik tidak langsung namun terus-menerus hingga membuat korban meragukan perasaannya sendiri.
- Aktris 66 tahun itu menegaskan cintanya pada Eddie tidak pernah pudar dan mengajak publik untuk tidak membiarkan orang lain mengatur emosi mereka.

Aktris senior Valerie Bertinelli kembali menjadi sorotan setelah mengunggah foto lawas bersama mendiang mantan suaminya, Eddie Van Halen, pada peringatan enam tahun kematian sang gitaris, Selasa (6/10). Alih-alih mendapat simpati, unggahan itu justru memicu gelombang komentar negatif yang membuatnya angkat bicara.
Dalam foto tersebut, Bertinelli dan Van Halen tampak berada di dalam mobil. Ia menuliskan keterangan puitis: “Foto mungkin memudar, seperti foto lama, tapi kenangan dan cinta tidak pernah pudar.” Namun, beberapa jam kemudian, perempuan 66 tahun itu mengaku sudah terbiasa menerima reaksi tidak menyenangkan setiap kali membagikan potret kebersamaannya dengan mendiang.
“Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk mendapat banyak tentangan saat mengunggah foto saya dan Ed,” ujarnya, seperti dikutip dari Bang Premier. “Dulu itu sangat mengganggu saya. Sekarang tidak lagi.”
Bertinelli, yang menikah dengan Van Halen dari 1981 hingga 2007 dan dikaruniai putra Wolfgang, 35, menyoroti pola perundungan daring yang menurutnya berbahaya karena tidak pernah disampaikan secara terang-terangan. Para pengkritik, katanya, tidak akan pernah melarang secara langsung, melainkan terus-menerus mencela hingga korban merasa dirinya salah.
“Mereka tidak akan pernah bilang, ‘Turunkan foto itu, foto mantan suamimu bersama kamu dan anakmu di masa indah.’ Tapi mereka bilang kamu terobsesi, mengatakan segala hal buruk sampai kamu akhirnya menurunkan foto itu,” tuturnya.
Ia menyebut tindakan tersebut sebagai “insidious” dan “menghancurkan jiwa”. Menurutnya, tekanan semacam itu bisa membuat seseorang meragukan perasaannya sendiri. “Saya belajar banyak, dan kamu tidak bisa memberitahu saya bagaimana perasaan saya. Tidak ada yang bisa memberitahu kamu bagaimana perasaanmu,” tegasnya.
Meski telah bercerai, Bertinelli mengaku masih menyimpan banyak cinta untuk Van Halen, yang meninggal pada 6 Oktober 2020 setelah berjuang melawan kanker tenggorokan pada usia 65 tahun. Ia menegaskan bahwa cinta itu tidak menutup kemungkinan untuk mencintai orang lain di masa depan.
“Jika saya jatuh cinta lagi, saya akan memberi ruang di hati saya untuk orang itu, tanpa mengurangi cinta saya untuk Ed, anak saya, menantu saya, semua orang yang saya cintai,” ujarnya. “Hatimu terbuka. Karena hatimu bisa menampung banyak cinta. Semua hati kita bisa.”
Di akhir unggahannya, Bertinelli menuliskan pesan menantang: “Bersiaplah, para pembenci, mari kita jalan-jalan sebentar.”
Kasus Bertinelli mencerminkan fenomena yang kerap dialami figur publik di media sosial: ekspresi duka atau kasih sayang yang tulus sering kali dibalas dengan cemoohan. Di Indonesia, pola serupa juga menghantui selebritas maupun warganet biasa yang membagikan kenangan tentang mantan pasangan. Tekanan sosial untuk “move on” atau “tidak boleh mencintai mantan” sering kali mengabaikan kompleksitas emosi manusia.
Psikolog sosial menilai bahwa perundungan daring yang bersifat halus—tidak berupa ancaman langsung, tetapi kritik yang terus-menerus—dapat merusak kesehatan mental korban. Mereka yang menjadi target bisa mengalami kecemasan, depresi, bahkan menarik diri dari ruang publik. Bertinelli, dengan sikapnya yang tegas, menunjukkan bahwa batas antara kritik dan pelecehan perlu dipertanyakan.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya tentang bagaimana selebritas menghadapi haters, tetapi juga sejauh mana platform media sosial melindungi penggunanya dari pola perundungan yang sistematis. Apakah kita akan terus membiarkan budaya mencela perasaan orang lain, atau mulai menghargai bahwa cinta—bahkan pada mantan—adalah hak setiap individu?



