Samsung Frame Pro Diskon Rp13 Juta di Prime Big Deal Days, TV Seni yang Lebih dari Sekadar Layar
Baca dalam 60 detik
- Samsung Frame Pro 65 inci potong $800 selama Prime Big Deal Days yang berakhir malam ini, menawarkan mini LED dan One Connect Box nirkabel.
- Model standar Frame 65 inci juga turun $600, sementara TV seni pesaing seperti Amazon Ember Artline diskon hampir 50%.
- Pasar TV seni di Indonesia berpotensi tumbuh seiring meningkatnya minat desain interior dan hunian minimalis, meski harga masih jadi penghalang.

JAKARTA โ Bagi sebagian orang, TV modern hanya terlihat memukau saat menyala. Begitu dimatikan, layar hitam raksasa itu menjelma kotak kosong yang mengganggu estetika ruangan. Samsung menawarkan solusi lewat lini Frame Pro, dan selama gelaran Prime Big Deal Days yang berakhir malam ini, harga TV tersebut dipangkas $800 dari label awalnya.
Diskon tersebut menjadikan Frame Pro sebagai salah satu produk unggulan dalam promosi belanja Amazon. Model ini membawa sejumlah peningkatan signifikan dibandingkan Frame generasi standar, terutama pada teknologi panel dan kemudahan instalasi. Bagi konsumen yang menginginkan perangkat hiburan tanpa mengorbankan nilai dekoratif ruangan, tawaran ini menjadi momen yang jarang muncul.
Sejak diperkenalkan hampir satu dekade lalu, Frame memang menjadi pelopor kategori TV seni. Layarnya dapat dipasang nyaris rata dengan dinding menggunakan bingkai yang bisa diganti-ganti. Ketika tidak digunakan untuk menonton, mode Art Mode akan menampilkan lukisan atau foto pilihan pengguna. Lapisan matte anti-reflektif membantu meminimalkan pantulan cahaya, sehingga TV tampak seperti karya seni yang tergantung di dinding, bukan perangkat elektronik yang sedang nonaktif.
Peningkatan terbesar pada Frame Pro terletak pada sistem pencahayaan mini LED. Ribuan zona peredupan kecil di belakang layar memungkinkan kontras lebih tajam, dengan sorotan yang lebih terang dan bayangan yang tidak tampak keabu-abuan. Panel ini juga mendukung refresh rate 144Hz, membuat gerakan cepat tetap mulus saat menonton olahraga atau bermain gim PC.
Selain panel, Frame Pro mengubah cara penanganan kabel. Semua perangkat eksternal dapat dicolokkan ke One Connect Box terpisah, bukan langsung ke TV. Kotak ini bahkan dapat terhubung secara nirkabel, sehingga bisa diletakkan di lemari kabinet di seberang ruangan. Hasilnya, area sekitar TV menjadi lebih rapi dan fleksibel dalam penataan ruang.
"Layar anti-glare saja sudah cukup meyakinkan saya," ujar Jonathan Evans, pengulas dari Esquire, seperti dikutip dalam sumber.
Art Mode menyediakan koleksi karya seni gratis yang berganti secara berkala. Namun, untuk mengakses perpustakaan lengkap yang mencakup ribuan karya dari museum dan galeri, pengguna perlu berlangganan Art Store dengan biaya $4,99 per bulan atau $49,99 per tahun. Pengguna juga dapat mengunggah foto pribadi, mengubah TV menjadi bingkai foto raksasa.
Jika Frame Pro dianggap terlalu mahal, Samsung masih menawarkan Frame standar 65 inci dengan diskon $600. Model ini tidak memiliki mini LED dan One Connect Box nirkabel, tetapi mode Art dan layar matte tetap berfungsi sama. Pesaing dari merek lain juga tidak ketinggalan; Amazon Ember Artline 55 inci misalnya, dipotong hampir 50 persen.
Di Indonesia, tren TV seni mulai mendapat tempat di segmen premium. Meski harga resmi di pasar domestik belum tentu sama dengan diskon di Amerika Serikat, kehadiran perangkat seperti Frame Pro mendorong standar baru bagi produsen lain. Konsumen urban yang semakin memperhatikan desain interior dan hunian minimalis menjadi target utama. Namun, daya beli dan ketersediaan layanan purna jual tetap menjadi pertimbangan.
Ke depan, persaingan di kategori TV seni diprediksi semakin ketat. Samsung tidak hanya bersaing dengan LG dan Sony, tetapi juga pemain baru seperti Amazon. Pertanyaannya, apakah konsumen Indonesia akan bersedia membayar premi untuk estetika, atau tetap memilih TV konvensional dengan harga lebih bersaing? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal pasti: TV yang cantik saat dimatikan kini bukan lagi kemewahan yang mustahil.



