Drake Kembali Absen dari Grammy 2027, Buntut Kontroversi Kategori Asian Pop
Baca dalam 60 detik
- Drake dikabarkan tidak mengajukan karya dari tiga albumnya untuk Grammy 2027, meneruskan pola pemboikotan yang sudah berlangsung bertahun-tahun.
- Keputusan ini muncul setelah BTS menolak kategori Asian Pop baru yang dianggap membatasi kreativitas musisi Asia.
- Recording Academy berupaya meredam kritik, tetapi absennya nama-nama besar berpotensi menggerus prestise ajang penghargaan tertinggi industri musik tersebut.

Drake dilaporkan kembali menarik diri dari kompetisi Grammy Awards 2027. Menurut laporan Billboard, rapper berusia 39 tahun itu memilih untuk tidak mendaftarkan satu pun lagu dari tiga album yang dirilisnya sepanjang 2026—Iceman, Maid of Honor, dan Habibti—ke dalam seleksi ajang tersebut. Langkah ini menegaskan sikap konsisten Drake yang sudah beberapa kali menolak berpartisipasi, setelah sebelumnya juga tidak mengikutsertakan More Life, Certified Lover Boy, dan Honestly, Nevermind.
Meski tidak memberikan pernyataan resmi, keputusan Drake kali ini hadir di tengah gejolak industri musik yang memanas. Pada 2025, lagu "Not Like Us" milik Kendrick Lamar mendominasi panggung Grammy dan menjadi pemicu ketegangan publik antara kedua rapper. Drake masih menempuh jalur hukum terhadap Universal Music Group (UMG), menuduh label tersebut mendukung perilisan lagu yang dianggapnya mencemarkan nama baik. Ia bahkan telah memberi sinyal lewat lirik penutup album Iceman, "Make Them Know", dengan baris: "This album, I'm never submittin' it."
Yang tak kalah penting, gelombang penolakan terhadap Grammy tahun ini juga datang dari BTS. Grup K-pop itu secara resmi memboikot perhelatan 2027 sebagai bentuk protes terhadap kategori baru Asian Pop. Menurut ketujuh personelnya, persyaratan bahasa dalam kategori tersebut—yang menuntut penggunaan "secara bermakna" bahasa Asia—justru mengurung musisi alih-alih merayakan keberagaman. Mereka berargumen bahwa sebuah karya seharusnya dinilai dari dampaknya, bukan dari letak geografis atau kosakata yang dipakai. Ironisnya, singel BTS "Swim" yang mencapai peringkat satu di Amerika Serikat dianggap sebagai kandidat kuat Song of the Year, tetapi liriknya yang sepenuhnya berbahasa Inggris membuatnya tidak memenuhi syarat untuk kategori Asian Pop.
Kepala Recording Academy, Harvey Mason Jr., menghabiskan musim panas untuk meredakan ketegangan. Ia mengakui bahwa kategori Asian Pop tidak berkembang sesuai harapan. Mason menyatakan pihaknya telah menggelar pembicaraan intensif selama berminggu-minggu dengan para musisi yang merasa penghargaan tersebut tidak mencerminkan karya mereka. Ia menekankan pentingnya memastikan "tidak ada suara atau komunitas yang terabaikan atau salah dipahami." Mason juga menegaskan bahwa kategori itu dirancang untuk memperluas pengakuan, bukan memecah belah, dan Academy siap bergerak cepat agar para seniman "merasa benar-benar dilihat dan didengar."
"Kami ingin memastikan tidak ada suara atau komunitas yang terabaikan atau salah dipahami," ujar Harvey Mason Jr., seperti dikutip dari pernyataannya.
Bagi industri musik global, absennya Drake dan BTS bukan sekadar kehilangan dua nama besar. Keduanya merupakan kekuatan komersial yang mampu menarik perhatian audiens lintas generasi. Keputusan mereka bisa menjadi preseden bagi artis lain untuk mempertanyakan relevansi Grammy sebagai tolok ukur kesuksesan. Di sisi lain, Recording Academy berada di posisi sulit: mempertahankan kategori baru yang kontroversial atau merombaknya demi mengembalikan kepercayaan para bintang.
Di Indonesia, fenomena ini turut menyoroti bagaimana ajang penghargaan musik dalam negeri kerap menghadapi tantangan serupa. Kategorisasi yang kaku dan dominasi selera tertentu sering dikritik karena dianggap tidak mewakili keragaman genre dan bahasa daerah. Jika Grammy—dengan sumber daya dan jangkauan globalnya—masih kesulitan mengakomodasi inklusivitas, penyelenggara penghargaan di tingkat nasional pun perlu belajar dari polemik ini. Pertanyaannya, akankah Grammy 2027 menjadi titik balik perbaikan, atau justru menandai makin terpinggirkannya ajang tersebut di mata para musisi papan atas?



