Dua Pekerja Migran, Satu Perusahaan, dan Panas yang Tak Pernah Menuntut Pertanggungjawaban
Baca dalam 60 detik
- Carlos Vargas Moreno, pekerja H-2A asal Meksiko, mengalami heatstroke di ladang semangka North Carolina pada Juli 2022 dan kini lumpuh total akibat cedera otak.
- Dua tahun sebelumnya, pekerja lain di perusahaan yang sama, Carmen Sebastian Hernandez Mosqueda, tewas karena hipertermia di ladang yang sama.
- Meski berulang kali melanggar kewajiban keselamatan, Florida Orange Gold tetap diperbolehkan mendatangkan ratusan pekerja migran ke Amerika Serikat.

Carlos Vargas Moreno tidak pernah kembali ke rumah dalam keadaan utuh. Pada sore 19 Juli 2022, pria 38 tahun itu roboh di ladang semangka di Goldsboro, North Carolina, setelah seharian bekerja di bawah indeks panas yang oleh aplikasi keselamatan kerja OSHA-NIOSH dikategorikan berbahaya. Ia didiagnosis heatstroke. Kini ia lumpuh, kehilangan kemampuan berbicara, dan sepenuhnya bergantung pada istrinya untuk mandi, berpakaian, makan, dan buang air.
Yang membuat kasus ini bukan sekadar kecelakaan kerja biasa adalah rekam jejak perusahaannya. Florida Orange Gold, kontraktor tenaga kerja pertanian yang mempekerjakan Vargas Moreno, hampir tepat dua tahun sebelumnya kehilangan pekerja lain bernama Carmen Sebastian Hernandez Mosqueda. Pemuda 25 tahun itu tewas karena hipertermia pada Juli 2020, juga saat menyiangi tanaman di ladang North Carolina. Dua nyawa, satu perusahaan, dan pola kelalaian yang nyaris identik.
Vargas Moreno bekerja di bawah program visa H-2A, skema federal yang mengizinkan petani Amerika mendatangkan pekerja migran temporer. Ia tiba di AS dengan harapan sederhana: agar istrinya, Daysi Romero Arellano, bisa tinggal di rumah mengurus putri mereka di Meksiko. Sebaliknya, Romero Arellano kini menghabiskan hari-harinya merawat suami yang tak lagi bisa mengurus dirinya sendiri. "Tidak ada yang sama lagi," ujarnya dalam wawancara Agustus lalu, seperti dikutip The Guardian.
Dokumen pengadilan dan catatan pemerintah mengungkap bahwa pada hari kejadian, tidak ada supervisor Florida Orange Gold di lokasi. Ketika Vargas Moreno mulai kejang, rekan-rekannya tidak tahu harus berbuat apa. Seorang pekerja menelepon Jose Gutierrez, pendiri perusahaan, yang berada beberapa mil jauhnya. Gutierrez tidak menyuruh siapa pun menghubungi 911. Ia meminta para pekerja menunggunya.
Vargas Moreno kemudian dibawa dengan bus tanpa pendingin udara ke pinggir jalan, lalu diletakkan di tanah hingga Gutierrez tiba sekitar 15 menit kemudian. Alih-alih menempatkannya di kabin pikap ber-AC, Gutierrez memerintahkan pekerja mengangkat Vargas Moreno ke bak truk. Saat tiba di ruang gawat darurat pukul 18.32, suhu tubuhnya mencapai 109 derajat Fahrenheit. Ia dirawat di rumah sakit hampir setahun penuh.
Ironi terbesar terletak pada dokumen yang seharusnya melindungi pekerja. Setelah kematian Hernandez Mosqueda, NC DOL mewajibkan Florida Orange Gold menyusun program pencegahan heat stress. Perusahaan mengirimkan template dari situs NC DOL, hanya mengganti nama perusahaan di kolom kosong dan menunjuk Gilberto Gutierrez sebagai penanggung jawab. "Seorang pekerja meninggal, dan mereka menempelkan nama di formulir lalu tidak pernah melihatnya lagi," kata Katherine Bricio, pengacara yang mewakili Vargas Moreno.
Dalam deposisi Mei 2024, Gilberto mengaku tidak ada seorang pun di perusahaannya yang bertugas memantau cuaca, meski namanya tercantum berulang kali sebagai penanggung jawab. Jose tidak mengenal istilah "heat index" dan tidak tahu apa itu elektrolit. Keduanya belum pernah mendengar sistem "buddy system" yang direkomendasikan OSHA.
Yang lebih mengkhawatirkan, para pekerja H-2A yang diwawancarai NC DOL awalnya mengklaim mendapat pelatihan heat stress dan cukup istirahat. Namun dalam deposisi terpisah, banyak dari mereka membantah pernah menerima pelatihan semacam itu. Para pengacara menduga mereka telah diarahkan oleh perusahaan sebelum diwawancarai. Menolak bekerja, bagi pemegang visa H-2A, berarti kehilangan pekerjaan sekaligus hak tinggal legal di AS. Florida Orange Gold bahkan mewajibkan pekerja menandatangani pernyataan yang menyebut penolakan kerja berakibat pemutusan kontrak dan tunjangan.
Kasus ini bukan anomali. Kontraktor tenaga kerja pertanian adalah segmen ketenagakerjaan yang tumbuh paling cepat di AS, sekaligus pelanggar hukum ketenagakerjaan federal terburuk di sektor pertanian. Mereka mengelola ratusan pekerja rentan tanpa memerlukan pelatihan atau sertifikasi khusus. Di North Carolina, koalisi advokasi pekerja telah bertahun-tahun mendesak standar panas negara bagian, tetapi Komisioner Tenaga Kerja Luke Farley justru membentuk dewan penasihat yang didominasi perwakilan pengusaha. "Itu hanya gimmick politik," kata Leticia Zavala dari El Futuro Es Nuestro.
Di tingkat federal, pemerintahan Biden sempat mengusulkan aturan pencegahan cedera panas pada Juli 2024, tetapi aturan itu terhenti dan pemerintahan Trump dikabarkan berencana merevisinya agar lebih ramah bisnis. Sementara itu, perubahan iklim membuat gelombang panas semakin ekstrem. Suhu malam di banyak wilayah AS jarang turun di bawah 80 derajat Fahrenheit, sehingga tubuh pekerja H-2A tidak pernah benar-benar pulih karena asrama mereka tanpa pendingin udara.
Bagi Romero Arellano, keadilan tampak mustahil. Gugatan perdata suaminya bulan lalu ditolak pengadilan, meski ia menang dalam klaim kompensasi pekerja. Ia memilih berbicara kepada publik dengan satu harapan: agar kisah Carlos memaksa mereka yang berkuasa bertindak. "Orang-orang yang punya kekuasaan harus melakukan sesuatu agar apa yang terjadi pada Carlos tidak menimpa orang lain," katanya. Pertanyaannya kini: berapa banyak lagi pekerja migran yang harus roboh di ladang sebelum Amerika Serikat menganggap panas ekstrem sebagai bahaya kerja yang nyata?



