Racing Bulls Tunda Keputusan Kursi F1 2027: Lawson vs Tsolov, Siapa yang Bertahan?
Baca dalam 60 detik
- Racing Bulls menargetkan keputusan line-up F1 2027 dalam beberapa pekan ke depan, dengan Liam Lawson dan Nikola Tsolov bersaing untuk satu kursi tersisa.
- Tim mengakui memiliki tiga pembalap berkualitas, tetapi hanya dua kokpit tersedia, sehingga faktor jangka panjang dan pengembangan talenta menjadi pertimbangan utama.
- Keputusan ini akan menentukan arah karier Lawson dan Tsolov, sekaligus menguji komitmen Red Bull terhadap pembinaan pembalap muda.

Racing Bulls belum akan mengumumkan susunan pembalap mereka untuk musim Formula 1 2027 dalam waktu dekat. Prinsipal tim Alan Permane menyatakan bahwa keputusan final baru akan diambil dalam beberapa pekan ke depan, dengan dua nama bersaing ketat untuk mendampingi Arvid Lindblad: Liam Lawson dan Nikola Tsolov.
Perebutan kursi kedua di tim yang bermarkas di Faenza itu menjadi salah satu drama transfer paling menarik menjelang musim baru. Di satu sisi, Lawson telah membuktikan diri sebagai pembalap yang tangguh setelah kembali ke performa terbaiknya sepanjang 2026. Di sisi lain, Tsolov—pembalap Bulgaria berusia 19 tahun—tengah menanjak di Formula 2 dan menjadi aset masa depan program junior Red Bull.
Permane mengakui bahwa timnya berada dalam situasi yang ia sebut sebagai "masalah mewah". Dengan tiga pembalap berkualitas, hanya dua kursi yang tersedia, sehingga tim harus mempertimbangkan berbagai faktor sebelum mengambil keputusan. "Kami tidak terburu-buru. Semua orang tahu kami punya dua pembalap hebat, dan satu lagi sedang bersinar di F2. Mereka semua siap, tetapi tiga tidak muat di dua kursi," ujarnya dalam sesi jumpa pers di Singapura, Jumat lalu.
Lawson bukan nama baru di paddock. Ia sempat menjalani periode singkat bersama Red Bull Racing pada 2025 sebelum kembali ke Racing Bulls. Musim ini, ia kembali dipercaya mengisi kursi Red Bull saat Isack Hadjar absen karena cedera, dan tampil mengesankan di beberapa balapan. Namun, ia belum pernah menyelesaikan satu musim penuh bersama satu tim, sebuah fakta yang membuat posisinya belum sepenuhnya aman.
Sementara itu, Tsolov menjelma sebagai kandidat kuat berkat performa konsistennya di F2. Sebagai bagian dari akademi Red Bull, ia dipandang sebagai penerus potensial yang bisa dipromosikan ke kursi balap sesungguhnya. Filosofi Racing Bulls sebagai tim batu loncatan menuju Red Bull Racing membuat promosi Tsolov menjadi opsi yang sulit diabaikan.
Permane menegaskan bahwa kriteria pemilihan tidak hanya soal kecepatan saat ini, tetapi juga potensi jangka panjang. "Ada banyak hal yang kami pertimbangkan. Yang terpenting tentu saja kecepatan dan pace. Kami ingin mengembangkan pembalap muda dan melihat mereka berkembang. Jadi bukan hanya soal sekarang, tetapi juga masa depan," jelasnya.
"Kami ingin membawa talenta muda dan memiliki satu mata untuk kemajuan mereka di masa depan. Ini bukan hanya tentang saat ini, tetapi juga tentang apa yang bisa mereka lakukan nanti." — Alan Permane, Prinsipal Tim Racing Bulls
Keputusan ini juga akan berdampak pada dinamika tim. Jika Lawson dipertahankan, Racing Bulls mendapatkan stabilitas dan pengalaman. Namun, jika Tsolov dipromosikan, tim mengirim sinyal kuat bahwa mereka serius membina generasi baru. Apa pun pilihannya, langkah ini akan memengaruhi peta kekuatan di lini tengah F1 dan menjadi indikator arah kebijakan Red Bull dalam mengelola talenta.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, saga ini menarik disimak karena menunjukkan betapa ketatnya persaingan di kursi tim satelit. Keputusan Racing Bulls bisa menjadi preseden bagi tim-tim lain dalam menyeimbangkan ambisi jangka pendek dan investasi jangka panjang. Dalam beberapa pekan ke depan, nama Lawson dan Tsolov akan terus menjadi sorotan. Siapa yang akhirnya mendapat lampu hijau?



