Bitcoin Terhenti di Bawah $84.000, Tembok Resistance dari Pembeli 2025 Jadi Ujian Berikutnya
Baca dalam 60 detik
- Harga Bitcoin kembali melemah di bawah $84.000 setelah gagal menembus level tertinggi bulanan $87.500 pada September lalu.
- Kelompok pembeli sepanjang 2025 dengan harga rata-rata sekitar $88.000 masih menanggung kerugian dan berpotensi menjadi penghalang kenaikan.
- Basis biaya ETF Bitcoin spot AS di kisaran $82.300 menjadi garis pertahanan krusial yang menentukan arah jangka pendek.

Bitcoin kembali kehilangan momentum setelah reli yang berlangsung sejak Agustus lalu. Pada perdagangan Rabu, aset kripto terbesar itu diperdagangkan di bawah $84.000, mundur dari puncak bulanan $87.500 yang dicapai pada September. Penurunan ini meninggalkan satu kelompok pembeli yang masih terjebak dalam posisi rugi, yakni investor yang mengakumulasi Bitcoin sepanjang 2025 dengan harga rata-rata sekitar $88.000.
Menurut data Checkonchain, basis biaya tahunan berbobot volume itu kini berfungsi sebagai resistance. Ketika harga mendekati titik impas suatu kohort, sebagian investor cenderung memilih keluar tanpa untung, sementara yang lain justru menambah posisi. Dinamika inilah yang membuat level $88.000 berpotensi menahan laju Bitcoin dalam beberapa pekan ke depan.
Pola resistance dan support dari basis biaya tahunan bukan hal baru. Pada Mei, Bitcoin sempat menanjak ke $82.100, persis menyentuh basis biaya kohort 2024, sebelum tertahan dan merosot ke $60.000. Level itu baru berhasil ditembus pada Agustus. Sebaliknya, basis biaya kohort 2023 di sekitar $65.000 berulang kali menjadi penopang. Ketika Bitcoin melemah mendekati $60.000 pada Februari, level tersebut bertahan sebagai support meski sempat ditembus sesaat.
Kohort 2026 dengan basis biaya sekitar $73.500 kini berada di posisi nyaman. Sejak akhir Agustus, kelompok ini menikmati keuntungan setelah harga melampaui ambang tersebut. Namun, perhatian pasar saat ini lebih tertuju pada basis biaya ETF Bitcoin spot AS yang berada di kisaran $82.300. Angka ini mencerminkan harga rata-rata setoran dana ke ETF dan baru pertama kali kembali positif tahun ini. Jika Bitcoin terus melemah, level tersebut berpotensi menjadi support berikutnya.
"Basis biaya tahunan berfungsi sebagai cermin psikologis pasar. Ketika harga mendekati titik impas, tekanan jual dari investor yang ingin keluar biasanya meningkat," ujar seorang analis on-chain yang tidak ingin disebutkan namanya.
Bagi investor Indonesia, dinamika ini patut dicermati. Sejumlah exchange lokal melaporkan peningkatan volume perdagangan Bitcoin sepanjang kuartal ketiga, seiring minat ritel yang kembali menguat. Level resistance $88.000 dan support $82.300 dapat menjadi acuan untuk mengukur risiko masuk atau keluar posisi. Apalagi, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut memengaruhi harga Bitcoin dalam denominasi lokal.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Bitcoin mampu menembus tembok $88.000 sebelum tekanan jual dari kohort 2025 menguat. Jika gagal, level $82.300 akan menjadi garis pertahanan berikutnya. Sebaliknya, jika berhasil, reli menuju $90.000 bukan hal mustahil. Pasar akan menguji kedua level tersebut dalam beberapa pekan mendatang.



