Di Balik Sukses Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Peran Asisten Pelatih Kiper Persita yang Tak Terdengar
Baca dalam 60 detik
- Raden Muhammad Sabilillahi, asisten pelatih kiper Persita Tangerang, terlibat dalam staf kepelatihan Timnas Indonesia yang menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026.
- Pemanggilan Sabilillahi ke timnas menunjukkan apresiasi terhadap kompetisi domestik sebagai sumber daya pelatih berkualitas.
- Keberhasilan ini dapat mendorong klub-klub Liga 1 untuk lebih mengembangkan staf pelatih lokal dan memberi mereka panggung di level internasional.

Kemenangan Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 meninggalkan jejak yang tidak hanya dirasakan para pemain dan pelatih utama. Raden Muhammad Sabilillahi, asisten pelatih kiper Persita Tangerang, menjadi salah satu figur di balik layar yang turut menyumbang kontribusi dalam kesuksesan Skuad Garuda.
Sabilillahi bergabung dengan tim pelatih kiper timnas setelah melalui proses seleksi pada akhir Agustus 2026. Ia dipercaya untuk mendampingi kiper-kiper utama seperti Maarten Paes dan Emil Audero, yang berkarier di Eropa. Kesempatan ini menjadi pengalaman berharga baginya, terutama karena bisa bekerja di bawah arahan John Herdman dan kepala pelatih kiper Andrej Kostolansky.
Dalam wawancaranya, Sabilillahi mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya bisa menjadi bagian dari sejarah baru Timnas Indonesia. "Saya sangat bersyukur, terharu, senang, dan bangga karena bisa jadi bagian dari sejarah baru untuk Timnas Indonesia," ujarnya. Ia juga menyoroti ilmu baru yang diperolehnya, khususnya dalam mengatur set pieces menyerang dan bertahan, yang menjadi tanggung jawab Kostolansky di timnas.
Peran Sabilillahi di timnas juga menyoroti pentingnya kontribusi klub-klub Liga 1 dalam menyuplai tenaga ahli untuk level internasional. Selain Sabilillahi, Persita juga mengirimkan Dion Markx, bek naturalisasi berusia 21 tahun yang dipinjam dari Persib Bandung. Meski Markx tidak mendapat menit bermain karena persaingan ketat di lini belakang, pemanggilannya tetap menjadi kebanggaan bagi Persita dan bukti kualitas pemain yang dimiliki klub tersebut.
Keberhasilan Timnas Indonesia di turnamen ini tidak lepas dari kerja sama solid antara pemain, pelatih, dan staf pendukung. Sabilillahi menekankan bahwa pengalaman bekerja dengan tiga kiper terbaik Indonesia—yang memiliki karakter berbeda—memberinya wawasan baru tentang manajemen kiper. "Selama berlatih, mereka selalu memberikan intensitas bagus dan merupakan pribadi yang luar biasa," tambahnya.
"Alhamdulillah, awalnya saya mendapat pemanggilan di tahun 2025 untuk membantu Timnas Indonesia U-23 di masa persiapan Piala AFF U-23. Kemudian, sekitar akhir Agustus lalu, saya kembali dihubungi dan melakukan interview untuk posisi asisten pelatih kiper timnas di FIFA ASEAN Cup 2026." — Raden Muhammad Sabilillahi
Kisah Sabilillahi menjadi cerminan bagaimana kompetisi domestik dapat menjadi batu loncatan bagi pelatih lokal untuk berkontribusi di level yang lebih tinggi. Hal ini juga dapat memicu diskusi tentang perlunya pengembangan berkelanjutan bagi staf pelatih di Liga 1, sehingga lebih banyak talenta lokal yang mendapat kesempatan serupa di masa depan.
Ke depan, keberhasilan ini diharapkan tidak hanya menjadi euforia sesaat, tetapi juga momentum untuk memperkuat ekosistem sepak bola nasional. Pertanyaannya, akankah klub-klub Liga 1 semakin proaktif mengirimkan staf terbaiknya ke timnas, dan bagaimana dampaknya bagi peningkatan kualitas pembinaan di Tanah Air?


