Insiden Quartararo di Mandalika: Gravel Trap Kembali Disorot, Rider Minta Perbaikan
Baca dalam 60 detik
- Fabio Quartararo mengalami cedera ringan setelah terjatuh dan menghantam gravel trap di Sirkuit Mandalika saat sesi latihan bebas MotoGP Indonesia.
- Insiden ini mengulang kritik serupa tahun lalu ketika Marc Marquez mengalami kecelakaan hebat di tikungan yang sama, memicu pertanyaan tentang standar keselamatan sirkuit.
- Para pembalap mendesak penyelenggara dan MGPSEG untuk segera memperbaiki kontur gravel trap yang dinilai terlalu tinggi dan membahayakan.

Fabio Quartararo menjadi sorotan setelah terjatuh dari motornya dan menghantam gravel trap di Sirkuit Internasional Mandalika, Jumat (27/9/2025), dalam sesi latihan bebas untuk Grand Prix Indonesia. Pembalap Monster Energy Yamaha itu kehilangan kendali di pertengahan sesi, dan meski sempat meluncur mulus di aspal, tubuhnya terlempar ke udara begitu menyentuh kerikil. Insiden ini langsung memicu kembali perdebatan tentang standar keselamatan gravel trap di sirkuit yang terletak di Lombok, Nusa Tenggara Barat tersebut.
Quartararo mengaku masih bisa melanjutkan sesi dan lolos ke Kualifikasi 2, tetapi ia harus menahan nyeri di beberapa bagian tubuh. Dalam konferensi pers usai sesi, ia terlihat mengompres pergelangan tangannya dengan es. Ia menyebut mengalami cedera jempol, serta nyeri di leher dan bahu. "Saya sedikit nyeri di sisi kiri," ujarnya dalam sesi wawancara berbahasa Inggris. "Kecelakaannya cepat tapi tidak terlalu besar, namun bagian terburuknya adalah saat masuk ke gravel. Untungnya tidak ada yang patah, hanya masalah otot di jempol, jadi saya bisa kembali ke motor. Tapi besok saya akan bangun dengan rasa nyeri."
Insiden serupa juga dialami pembalap Tech3 KTM, Enea Bastianini, yang terjatuh di akhir sesi dan mengalami efek 'step' yang sama, meski tidak cedera. Quartararo menegaskan bahwa gravel trap di Tikungan 9, tempat ia terjatuh, perlu segera dibenahi. "Saya pikir kita perlu menempatkan kerikil setidaknya setinggi aspal. Karena menurut saya posisinya sedikit lebih tinggi, jadi saat Anda tiba, Anda terpental ke udara. Menurut saya terlalu tinggi," jelasnya. "Hari ini saya beruntung karena kecelakaannya tidak spektakuler, tapi begitu menghantam kerikil, rasanya buruk. Jadi mereka harus melakukan sesuatu di area ini."
Marc Marquez, yang menjadi pusat perhatian tahun lalu setelah kecelakaannya di tikungan yang sama, juga dimintai komentar. Ia menilai bahwa kondisi gravel trap memang tidak ideal, baik untuk pembalap maupun motor. "Kami selalu mengeluh," kata Marquez. "Memang benar itu tidak baik untuk keselamatan pembalap. Bahkan tidak baik untuk motor. Karena mereka selalu berusaha menghemat anggaran. Tapi cara terbaik untuk menghemat anggaran adalah mencoba menyelamatkan pembalap dan motor dari kecelakaan seperti ini. Area itu, seperti yang kita tahu, sangat cepat. Dan ketika Anda masuk ke kerikil dengan kecepatan tinggi, kerusakannya nyata."
Meski demikian, baik Marc maupun adiknya, Alex Marquez, yang tahun lalu vokal mengkritik, kali ini memilih tidak memperkeruh suasana. Mereka menegaskan bahwa perbaikan adalah tugas penyelenggara dan MGPSEG (MotoGP Safety and Environment Group). "Pembalap tidak bisa memeriksa tikungan demi tikungan," ujar Marc. "Itu tugas orang-orang yang bekerja untuk itu." Alex menambahkan, "Itu pekerjaan yang harus dilakukan MGPSEG. Bukan tugas pembalap. Jadi semoga mereka meningkatkan dari pengalaman tahun lalu."
Kritik terhadap gravel trap Mandalika bukan hal baru. Sejak tahun lalu, para pembalap telah memperingatkan bahwa transisi antara aspal dan kerikil terlalu tinggi, menciptakan efek 'step' yang berbahaya. Meski demikian, hingga kini belum ada perbaikan signifikan. Insiden Quartararo dan Bastianini menjadi pengingat bahwa risiko yang sama masih mengintai setiap kali pembalap keluar dari lintasan.
Bagi Indonesia, Sirkuit Mandalika adalah aset strategis yang tidak hanya menjadi tuan rumah MotoGP tetapi juga menjadi magnet pariwisata dan investasi. Keselamatan pembalap adalah faktor kunci untuk menjaga reputasi sirkuit dan kelangsungan event internasional. Jika masalah ini dibiarkan, bukan tidak mungkin para pembalap dan tim akan menuntut standar yang lebih tinggi, bahkan mengancam boikot. Pemerintah dan pengelola sirkuit perlu segera berkoordinasi dengan MGPSEG untuk melakukan audit keselamatan menyeluruh, terutama pada area run-off dan gravel trap.
Pertanyaannya kini: akankah insiden Quartararo menjadi pemicu perubahan nyata, atau hanya menjadi catatan keluhan yang terulang setiap tahun? Publik menantikan langkah konkret dari para pemangku kepentingan sebelum balapan utama digelar.



