Erick Thohir: Kemenangan di FIFA ASEAN Cup 2026 Bukan Sekadar Trofi, Ini Misi Besar untuk Sepak Bola Kawasan
Baca dalam 60 detik
- Ketua PSSI Erick Thohir menegaskan gelar perdana FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi fondasi penguatan ekosistem sepak bola Asia Tenggara, bukan hanya prestasi sesaat Timnas Indonesia.
- Turnamen di bawah naungan FIFA ini dipandang membuka akses kompetisi internasional lebih luas, mendorong investasi pembinaan, dan menaikkan standar permainan negara peserta.
- Keberhasilan Indonesia sebagai tuan rumah dinilai memperkuat posisi diplomasi olahraga, sekaligus menguji kesiapan infrastruktur jelang agenda sepak bola global berikutnya.

Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyatakan bahwa keberhasilan Timnas Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026 bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk bagi agenda jangka panjang pembenahan sepak bola Asia Tenggara. Pernyataan itu disampaikan menyusul kemenangan dramatis Indonesia atas Thailand di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, yang memastikan gelar juara edisi perdana turnamen bentukan FIFA tersebut.
Menurut Erick, orientasi Indonesia dalam turnamen ini tidak berhenti pada pencapaian tim nasional semata. Ia menilai kemajuan kolektif kawasan akan berbanding lurus dengan kualitas kompetisi yang dihadapi skuad Garuda. "Ketika tim-tim di kawasan kami menjadi lebih kuat, persaingan juga menjadi lebih kuat, dan hal itu menguntungkan semua pihak," ujarnya, dikutip dari laman resmi FIFA.
Pandangan tersebut berangkat dari realitas bahwa negara-negara ASEAN memiliki tingkat pembangunan sepak bola yang tidak seragam. Kehadiran turnamen berformat terstruktur di bawah payung FIFA dinilai memberi pengalaman berharga bagi pemain dan pelatih untuk beradaptasi dengan gaya permainan yang berbeda, sesuatu yang kerap sulit didapat dari laga uji coba biasa.
Lebih dari sekadar ajang kompetisi, Erick melihat FIFA ASEAN Cup sebagai katalis untuk mempererat hubungan antarkomunitas sepak bola di kawasan yang dikenal memiliki basis suporter besar. Ia menyebut turnamen ini sebagai ruang bagi tim nasional, pemain, penggemar, dan komunitas untuk saling terhubung, sekaligus memperkuat identitas sepak bola ASEAN di panggung global.
"Turnamen seperti ini dapat membantu menciptakan lebih banyak kesempatan internasional, mendorong investasi dalam pengembangan sepak bola, dan memperkuat ekosistem sepak bola di seluruh ASEAN," kata Erick Thohir.
Dari sisi penyelenggaraan, keberhasilan Indonesia menjadi tuan rumah dipandang sebagai kelanjutan dari rekam jejak sebelumnya, termasuk Piala Dunia U-17 2023 dan FIFA Series 2026. Erick menilai pengalaman tersebut memperkuat kapasitas Indonesia dalam menggelar event internasional, meski ia mengakui FIFA ASEAN Cup memiliki karakter khas karena secara spesifik menyatukan negara-negara Asia Tenggara dalam satu kompetisi resmi FIFA.
"FIFA ASEAN Cup terasa spesial karena membawa platform global FIFA langsung ke jantung sepak bola Asia Tenggara. Turnamen ini tentang menyatukan kawasan melalui sepak bola," tegasnya.
Bagi Indonesia, gelar juara ini juga menjadi sinyal bahwa pembinaan usia muda dan kompetisi domestik mulai menunjukkan hasil. Namun, tantangan sesungguhnya terletak pada konsistensi: apakah momentum ini mampu mendorong peningkatan kualitas Liga 1, memperbaiki tata kelola klub, dan memperluas basis pemain diaspora yang selama ini menjadi andalan. Tanpa pembenahan struktural, prestasi di level kawasan berisiko berhenti sebagai euforia sesaat.
Di sisi lain, kehadiran FIFA ASEAN Cup membuka peluang ekonomi baru bagi industri olahraga nasional, mulai dari penyelenggaraan event, pariwisata olahraga, hingga investasi di sektor infrastruktur dan akademi sepak bola. Pemerintah dan PSSI dituntut memastikan agar dampak tersebut tidak hanya dinikmati oleh segelintir pihak, tetapi juga dirasakan oleh ekosistem yang lebih luas, termasuk klub-klub daerah dan sekolah sepak bola.
Ke depan, pertanyaan besarnya bukan lagi soal siapa yang menang di edisi perdana, melainkan bagaimana Indonesia memanfaatkan posisi sebagai juara dan tuan rumah untuk mendorong agenda reformasi sepak bola yang lebih mendasar. Jika FIFA ASEAN Cup benar-benar menjadi platform penguatan kawasan, maka ukuran keberhasilannya bukan pada trofi yang diraih, melainkan pada seberapa jauh standar permainan, tata kelola, dan partisipasi publik meningkat dalam beberapa tahun mendatang.



