Bitcoin Terjun Bebas di Bawah US$84.000, Ketegangan Selat Hormuz Guncang Pasar Kripto
Baca dalam 60 detik
- Harga Bitcoin merosot tajam ke level US$83.840, dipicu eskalasi serangan tanker Iran di Selat Hormuz yang mendorong lonjakan harga minyak dan penguatan dolar AS.
- Tekanan jual meluas ke aset kripto utama lain seperti Dogecoin dan Ether, sementara imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik ke 5,31%.
- Pelaku pasar kini menantikan risalah rapat The Fed untuk mengukur arah kebijakan suku bunga, dengan level US$83.000 menjadi penentu apakah tren bearish berlanjut ke US$80.000.

Harga Bitcoin ambruk di bawah ambang US$84.000 pada perdagangan Rabu pagi waktu Asia, tertekan oleh lonjakan harga minyak mentah dunia akibat meningkatnya serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. Mata uang kripto terbesar itu sempat menyentuh level terendah US$83.840, turun sekitar 1,5% dari posisi sebelumnya di kisaran US$86.600 pada Selasa.
Penurunan ini bukan sekadar koreksi teknis biasa. Serangan yang dilancarkan Iran terhadap kapal tanker di jalur pelayaran strategis tersebut telah memicu kekhawatiran global akan gangguan pasokan energi, mendorong harga minyak Brent naik hampir 1% menjadi sekitar US$101,50 per barel. Dampaknya terasa luas: dolar AS menguat terhadap seluruh mata uang utama Grup-10, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik tiga basis poin ke 5,31%.
Tekanan jual tidak hanya menghantam Bitcoin. Dogecoin (DOGE) memimpin pelemahan di antara aset kripto utama dengan penurunan 5% ke sekitar 9 sen. HYPE turun hampir 4% ke US$91, sementara Ether (ETH) kehilangan 3,5% menjadi US$2.610. XRP melemah hampir 3% ke US$1,46, diikuti BNB, SOL, ZEC, dan TRX yang masing-masing turun antara 1% hingga 2,5%.
Menurut analis FxPro, penurunan di bawah US$84.000 menandakan kemenangan bagi para bear. Saat ini, Bitcoin hanya berada sekitar US$1.200 di atas level US$83.000 yang disebut akan mengonfirmasi kendali penuh penjual. Jika level tersebut jebol, jalur cepat menuju US$80.000 terbuka lebar.
Sentimen pasar juga dibayangi oleh risalah rapat The Federal Reserve bulan September yang akan dirilis Rabu malam. Dalam pertemuan itu, The Fed menaikkan suku bunga sebesar seperempat poin. Dan Khus, kepala analis di LVRG Research, menyatakan bahwa data ketenagakerjaan yang lebih lemah membuat kenaikan suku bunga lagi bulan ini tampak semakin kecil kemungkinannya. "Pasar sudah memperhitungkan kenaikan tersebut, jadi trader kini mencermati apakah nada risalah menunjukkan sikap sabar atau masih mengisyaratkan satu kenaikan lagi sebelum akhir tahun," ujarnya.
Di sisi lain, pasar saham Asia justru tertekan. Indeks MSCI Asia Pasifik turun 0,6% karena saham teknologi di Korea Selatan dan Hong Kong melemah, sementara futures saham AS berbalik arah dari kenaikan awal. Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun Wall Street mencetak rekor, kekhawatiran geopolitik dan prospek suku bunga masih membebani sentimen global.
Bagi investor Indonesia, dinamika ini patut dicermati. Pelemahan Bitcoin dan aset kripto lainnya sering kali berdampak pada pasar keuangan domestik, terutama melalui pergerakan nilai tukar rupiah dan arus modal asing. Ketika dolar AS menguat dan imbal hasil obligasi AS naik, tekanan terhadap mata uang emerging market termasuk rupiah cenderung meningkat. Selain itu, kenaikan harga minyak dunia dapat memperlebar defisit neraca perdagangan Indonesia, yang pada gilirannya memengaruhi stabilitas makroekonomi.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada dua hal: perkembangan konflik di Selat Hormuz dan sinyal kebijakan moneter dari The Fed. Jika ketegangan geopolitik mereda dan risalah The Fed mengindikasikan sikap dovish, aset berisiko termasuk kripto berpotensi bangkit. Sebaliknya, eskalasi lebih lanjut dapat mempercepat aksi jual. Akankah Bitcoin mampu bertahan di atas US$83.000, atau justru terperosok lebih dalam? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal pasti: volatilitas tinggi masih membayangi pasar kripto dalam jangka pendek.



