Pherai Ungkap Rasisme di Guatemala: 'Pertandingan Terburuk dalam Karier Saya'
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Hamburg Immanuel Pherai melaporkan hinaan rasial masif dari penonton saat Suriname bertandang ke Guatemala di CONCACAF Nations League.
- CONCACAF tengah menyelidiki dugaan perilaku diskriminatif setelah Federasi Sepak Bola Suriname mengajukan keluhan resmi.
- Insiden ini menambah daftar panjang kasus rasisme di sepak bola Amerika Latin dan menuntut respons lebih tegas dari otoritas sepak bola.

Gelandang Hamburg, Immanuel Pherai, mengungkap pengalaman traumatis yang dialaminya saat membela timnas Suriname dalam laga CONCACAF Nations League melawan Guatemala. Dalam wawancara dengan situs resmi klub, ia menyebut pertandingan tersebut sebagai yang terburuk sepanjang kariernya akibat hinaan rasial yang terus-menerus dilontarkan penonton di stadion.
Pherai menceritakan bahwa intimidasi sudah dimulai sejak lagu kebangsaan Suriname dikumandangkan. "Sorakan dan cemoohan saat lagu kebangsaan kami sudah melewati batas sportivitas dan rasa hormat. Begitu pertandingan dimulai, rasanya seperti 25.000 orang meneriakkan 'Negro, Negro, Negro'," ujarnya. Ia menambahkan bahwa situasi memburuk setelah rekan setimnya, Richonell Margaret, mendapat kartu merah. "Ada segala macam hinaan yang diarahkan kepadanya: makian, botol dilempar, suara monyet. Kami tidak bisa dan tidak akan menerima itu sebagai rekan setim. Kami mendatangi wasit dan mengatakan bahwa itu tidak benar," lanjut Pherai.
Kasus ini bukan insiden pertama di kawasan CONCACAF. Sepak bola Amerika Latin dan Karibia kerap menghadapi tantangan serius dalam menegakkan disiplin suporter, terutama terkait rasisme. Pada 2023, CONCACAF sempat menjatuhkan sanksi kepada federasi Meksiko akibat nyanyian homofobik dari pendukung, namun implementasi di lapangan masih jauh dari memadai. Insiden di Guatemala menambah tekanan bagi otoritas untuk tidak sekadar mengeluarkan pernyataan, tetapi juga menerapkan sanksi tegas seperti penutupan stadion atau denda berat.
"Saya belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Mengingat situasinya, ini adalah pertandingan terburuk dalam karier saya sejauh ini." — Immanuel Pherai
Dari kacamata pemain, Pherai mengakui bahwa emosi sempat memuncak dan semua pihak bisa bertindak lebih baik. "Tentu, dalam situasi seperti itu, Anda harus berpikir dua kali tentang perilaku Anda ketika emosi memuncak. Kami semua bisa menangani diri lebih baik, tetapi saya tidak akan pernah menerima rekan setim saya diserang," tegasnya. Pernyataan ini menyiratkan bahwa meski provokasi rasial tidak dapat ditoleransi, pemain tetap dituntut menjaga profesionalisme.
Bagi Pherai sendiri, insiden ini menjadi pukulan di tengah kariernya yang sedang menanjak. Setelah membantu Elversberg promosi pada paruh kedua musim lalu, ia kembali ke Hamburg namun belum mendapat kesempatan tampil di Bundesliga 2026/27. Pengalaman pahit bersama timnas Suriname bisa berdampak pada kondisi mentalnya, tetapi juga memperkuat tekadnya untuk memperjuangkan kesetaraan di sepak bola.
Kasus ini semestinya menjadi alarm bagi FIFA dan konfederasi di seluruh dunia. Tanpa penegakan hukum yang konsisten, rasisme akan terus meracuni sepak bola. Pertanyaannya, apakah CONCACAF berani mengambil langkah progresif, ataukah insiden ini akan menguap seperti banyak kasus sebelumnya?



