Data Okupansi Ubah Cara Venue Olahraga Bersih-bersih, Hemat Air hingga Rp40 Juta
Baca dalam 60 detik
- ABM menerapkan pembersihan berbasis data okupansi dan heat mapping di stadion, memangkas konsumsi air hingga 198.000 galon per bulan.
- Pendekatan ini menggeser model seragam 'bersihkan semua' menjadi berbasis kebutuhan riil pengunjung, menghemat biaya tenaga kerja dan utilitas.
- Tantangan utama bukan teknologi, melainkan disiplin verifikasi lapangan dan menghindari jebakan analisis berlebihan.

Pengelolaan fasilitas olahraga dan hiburan di Amerika Serikat mulai meninggalkan pola pembersihan seragam yang memakan banyak sumber daya. Brian Grant, Vice President Sports and Entertainment di ABM, mengungkapkan bahwa pemanfaatan data okupansi dan pemetaan panas (heat mapping) memungkinkan tim kebersihan menentukan area mana yang benar-benar perlu diservis, sehingga menghemat air, energi, dan biaya tenaga kerja secara signifikan.
Perubahan ini didorong oleh kemajuan teknologi toilet pintar yang mampu memantau konsumsi tisu, sabun, dan handuk kertas secara real-time. Menurut Grant, data tersebut kini jauh lebih mudah diakses dibanding lima tahun lalu. "Kami sekarang benar-benar melihat bagaimana memastikan upaya pembersihan kami efisien, dengan model berbasis kinerja dan memanfaatkan data yang tersedia," ujarnya kepada Facilities Dive.
Inti dari pendekatan ini adalah pembersihan berbasis patron. Dengan mengintegrasikan manifes tiket dan pemetaan tempat duduk, tim kebersihan dapat memprediksi area mana yang paling padat dan paling banyak menghasilkan limbah—biasanya sekitar toilet dan area konsumsi makanan-minuman. "Siapa duduk di mana? Berapa banyak orang? Seberapa besar kemungkinan dan volume yang harus kami bersihkan?" jelas Grant.
Grant mencontohkan, jika tribun atas di stadion baseball tidak terisi selama pertandingan siang di hari kerja, kru tidak perlu menyemprotnya dengan air bertekanan tinggi yang bisa menghabiskan ratusan galon. Cukup satu petugas yang memastikan tidak ada sampah atau sisa makanan. "Saya bisa menanganinya per titik. Jika keputusan itu membuahkan hasil positif, mungkin lain kali kami mencari cara berbeda untuk membersihkan area tersebut," katanya.
Selain penghematan air, ABM juga mengoptimalkan penggunaan air bertekanan. Nozel pengurang air dan sistem aerator di wastafel membantu mengurangi volume air tanpa mengorbankan kualitas pembersihan. Namun, Grant menekankan bahwa prioritas utama di toilet adalah ketersediaan stok dan waktu servis. "Tidak ada pengunjung yang lebih frustrasi selain menemukan toilet tanpa tisu, handuk kertas, atau sabun habis. Itu berdampak negatif pada pengalaman tamu," tegasnya.
"Data yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan analisis yang tepat, dapat menghasilkan keputusan. Mulailah dari keputusan kecil hingga menengah, lalu lihat apakah hasilnya sesuai harapan." — Brian Grant, VP Sports and Entertainment ABM
Meski data semakin melimpah, Grant memperingatkan bahaya kelumpuhan analisis. Menurutnya, pengelola fasilitas harus berada di jalur tengah: tidak anti-teknologi, tapi juga tidak mengandalkan data secara berlebihan. Verifikasi lapangan tetap diperlukan untuk memastikan standar kebersihan terpenuhi. Ke depan, ia melihat potensi pemanfaatan infrastruktur yang sudah ada—seperti kamera keamanan dan sensor di area food court—untuk mengurangi ketergantungan pada inspeksi manual.
Bagi Indonesia, pendekatan ini relevan untuk venue besar seperti Gelora Bung Karno atau stadion-stadion yang baru direnovasi. Dengan biaya operasional yang terus meningkat, pengelola bisa meniru strategi berbasis data untuk menekan pemborosan air dan energi, sekaligus meningkatkan kenyamanan penonton. Tantangannya adalah kesiapan infrastruktur digital dan sumber daya manusia yang mampu menerjemahkan data menjadi tindakan.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah venue olahraga akan mengadopsi teknologi ini, melainkan seberapa cepat mereka bisa beradaptasi. Apakah pengelola di Indonesia siap meninggalkan cara lama dan beralih ke pembersihan cerdas yang lebih hemat dan presisi?



