Kioxia Pamer SSD E1.L 122,88 TB untuk Pusat Data AI, tapi Spesifikasi Kunci Masih Gelap
Baca dalam 60 detik
- Kioxia memperkenalkan SSD LD4-series dengan kapasitas hingga 122,88 TB untuk hyperscaler, namun belum mengungkap performa, daya tahan, dan konsumsi dayanya.
- SSD ini mengandalkan NAND QLC BiCS8 3D dan faktor bentuk E1.L, memungkinkan kepadatan penyimpanan ekstrem di server 1U.
- Ketidakjelasan spesifikasi teknis dapat menyulitkan operator pusat data dalam menilai biaya total kepemilikan, sementara pasar Indonesia masih menanti ketersediaan global.

Kioxia resmi meluncurkan jajaran solid-state drive (SSD) LD4-series dalam faktor bentuk E1.L dengan kapasitas puncak 122,88 TB, menyasar pusat data hyperscale yang membutuhkan kepadatan penyimpanan masif. Pengumuman ini disampaikan Jumat lalu, menandai langkah agresif produsen asal Jepang itu dalam merebut ceruk pasar penyimpanan baca-intensif untuk repositori data AI dan object storage.
SSD anyar ini dibangun di atas NAND QLC BiCS8 3D yang sudah terbukti, dikombinasikan dengan platform proprietary Kioxia yang mematuhi spesifikasi NVMe 2.0e. Meski mencantumkan kompatibilitas PCIe 5.0, drive tersebut beroperasi pada kecepatan PCIe 4.0 x4 hingga 16 GT/s per lane, memberikan bandwidth teoretis sekitar 7,88 GB/s per arah. Saat ini, kapasitas yang tersedia secara komersial baru mencapai 30,72 TB, tetapi Kioxia mengklaim telah memvalidasi arsitektur yang mampu mendukung drive 122,88 TB—meski tanpa memberi tenggat kapan versi raksasa itu akan dijual.
Yang mencolok, Kioxia tidak membeberkan satu pun angka performa riil: kecepatan baca-tulis sekuensial, IOPS acak, latensi, rating daya tahan, hingga konsumsi daya. Padahal, data semacam ini krusial bagi operator hyperscale yang sedang menghitung biaya, performa, dan umur pakai infrastruktur penyimpanan mereka. Tanpa transparansi tersebut, klaim kapasitas jumbo bisa jadi sulit diterjemahkan menjadi keputusan investasi yang terukur.
Keunggulan utama LD4-series terletak pada faktor bentuk E1.L yang memungkinkan penempatan banyak paket NAND flash pada papan sirkuit memanjang. Alhasil, beberapa drive dapat dipasang dalam server 1U tipis, memaksimalkan kapasitas tanpa menambah ruang rak. Bagi produsen sistem yang membangun server sesuai standar Open Compute Project (OCP), ini menawarkan jalan pintas untuk memperbesar kapasitas penyimpanan di tengah keterbatasan lahan dan daya di pusat data modern.
"Kioxia tidak mengungkap karakteristik performa apa pun, termasuk kecepatan baca dan tulis sekuensial, IOPS acak, atau latensi," catat laporan tersebut, menyoroti minimnya detail teknis yang biasanya menjadi acuan evaluasi.
Dalam konteks Indonesia, kebutuhan akan penyimpanan berkapasitas besar kian mendesak seiring pertumbuhan layanan cloud, pusat data lokal, dan adopsi AI di sektor korporasi. Operator pusat data dalam negeri, seperti yang dikelola Telkom dan sejumlah penyedia swasta, tengah berlomba meningkatkan kapasitas untuk memenuhi permintaan komputasi AI dan penyimpanan data pemerintah. Namun, ketiadaan spesifikasi rinci membuat perencanaan pengadaan menjadi spekulatif. Selain itu, siklus ketersediaan global yang panjang—di mana NAND 3D dijual jauh sebelum produksi massal—berarti Indonesia kemungkinan baru merasakan dampaknya dalam beberapa tahun ke depan.
Kioxia saat ini hanya menyalurkan sampel 15,36 TB dan 30,72 TB ke pelanggan terpilih. Perusahaan juga belum memastikan jadwal produksi massal untuk seri LD4 maupun varian 122,88 TB. Demonstrasi publik akan dilakukan pada OCP Global Summit di San Jose, pertengahan Oktober, yang bisa menjadi ajang pembuktian nyata di depan para hyperscaler.
Pertanyaannya, apakah Kioxia akan segera membuka data performa yang selama ini disembunyikan, atau justru membiarkan kapasitas sebagai satu-satunya daya tarik? Tanpa kejelasan itu, para pembeli besar mungkin menahan diri, dan pasar SSD kelas enterprise bisa kembali menuntut transparansi yang lebih tinggi.



