Trump Bentuk Komite Investigasi Gubernur Fed Lisa Cook, Tekanan Politik ke Bank Sentral AS Memanas
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump resmi membentuk komite khusus untuk menyelidiki dugaan pernyataan palsu Gubernur Federal Reserve Lisa Cook terkait instrumen hipotek.
- Langkah ini merupakan babak baru upaya Trump menyingkirkan Cook dari dewan bank sentral setelah Mahkamah Agung memblokir pemecatan pertamanya.
- Komite berisi tiga pejabat eksekutif tanpa arbiter independen, memicu kekhawatiran intervensi politik terhadap independensi Fed.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi membentuk "komite penyelidikan" untuk mengusut dugaan pernyataan palsu yang dibuat Gubernur Federal Reserve Lisa Cook terkait "satu atau lebih instrumen hipotek". Pengumuman Gedung Putih pada Jumat (9/10/2026) itu menandai babak terbaru dalam upaya panjang Trump menyingkirkan Cook dari kursi dewan bank sentral AS.
Komite tersebut terdiri dari tiga pejabat cabang eksekutif: Kevin Hassett, penasihat ekonomi utama Trump yang juga pembela vokal catatan ekonomi pemerintahan; Keith Sonderling, kepala sementara Kantor Etika Pemerintah; dan Andrea Lucas, Ketua Komisi Kesempatan Kerja Setara. Memorandum presiden tertanggal Rabu itu tidak menyertakan satu pun arbiter independen dari luar. Baik The Fed maupun kuasa hukum Cook belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari CNBC.
Upaya Trump untuk memecat Cook bukan kali pertama. Sebelumnya, Mahkamah Agung memblokir percobaan awal pemecatan terhadap gubernur yang dicalonkan Presiden Joe Biden tersebut. Trump, yang kerap mendesak The Fed menurunkan suku bunga, baru-baru ini menyalahkan ketua pilihannya sendiri, Kevin Warsh, karena dianggap gagal menurunkan bunga akibat dewan yang "bermusuhan".
Langkah ini memunculkan pertanyaan serius tentang independensi The Fed. Sejak lama, bank sentral AS dirancang agar bebas dari tekanan politik jangka pendek, dengan gubernur yang menjalani masa jabatan panjang dan hanya bisa diberhentikan karena alasan sah. Pembentukan komite yang seluruhnya diisi pejabat eksekutif—tanpa melibatkan pihak netral—dinilai analis sebagai manuver untuk menciptakan dasar hukum bagi pemecatan Cook, meski tuduhan terhadapnya belum terbukti.
"Ini bukan sekadar soal Lisa Cook. Ini soal apakah presiden bisa memakai aparat pemerintah untuk menekan bank sentral agar tunduk pada keinginan politiknya," ujar seorang pengamat kebijakan moneter yang enggan disebut namanya.
Bagi Indonesia, dinamika ini bukan perkara jauh. The Fed adalah penentu arah suku bunga global, dan setiap gejolak politik di tubuhnya langsung memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS. Ketika independensi The Fed dipertanyakan, investor global cenderung menuntut premi risiko lebih tinggi, yang bisa memperlemah mata uang negara berkembang seperti rupiah dan mempersempit ruang gerak Bank Indonesia dalam menurunkan suku bunga.
Sejumlah ekonom memperkirakan, jika tekanan politik terhadap The Fed berlanjut, pasar obligasi AS akan menghadapi volatilitas tambahan. Imbal hasil surat utang jangka panjang berpotensi naik jika pelaku pasar meragukan komitmen bank sentral dalam menahan inflasi. Dampaknya menjalar ke pasar emerging market, termasuk Indonesia, melalui arus modal keluar dan pelemahan nilai tukar.
Yang lebih mendesak, preseden ini bisa menginspirasi negara lain untuk mencampuri urusan bank sentral. Di banyak negara berkembang, independensi bank sentral masih rapuh dan sering menjadi sasaran kepentingan politik. Jika AS—yang kerap menjadi rujukan tata kelola—justru menunjukkan contoh sebaliknya, tekanan serupa di negara lain akan semakin sulit dibendung.
Pertanyaannya kini: apakah komite ini akan bekerja secara transparan dan berbasis bukti, atau hanya menjadi alat untuk mencapai tujuan politik yang sudah ditentukan? Jawabannya akan menentukan bukan hanya nasib Lisa Cook, tetapi juga kredibilitas The Fed di mata dunia.



