Ritsu Dōan Bawa Jepang Juara Kirin Cup 2026, Modal Penting Menuju Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Ritsu Dōan mencetak gol kemenangan di menit ke-71 saat Jepang mengalahkan Selandia Baru di final Kirin Cup 2026.
- Kemenangan ini menjadi gelar ke-12 Jepang di turnamen yang telah bergulir sejak 1978 dengan berbagai format.
- Sejumlah pemain yang berkarier di Bundesliga turut menyumbang kontribusi, menegaskan peran liga Jerman dalam pengembangan sepak bola Asia.

Jepang menutup gelaran Kirin Cup 2026 dengan trofi ke-12 mereka setelah mengalahkan Selandia Baru di partai puncak. Kapten timnas sekaligus winger Eintracht Frankfurt, Ritsu Dōan, menjadi penentu kemenangan lewat golnya pada menit ke-71, memecah kebuntuan setelah Ben Old menyamakan kedudukan lebih dulu di babak pertama.
Laga final yang berlangsung di Tokyo itu berjalan ketat. Jepang sempat unggul lebih dulu melalui Ayase Ueda, namun Selandia Baru mampu merespons. Dōan, yang dipercaya mengenakan ban kapten, tampil sebagai pembeda dengan penyelesaian klinisnya. Kemenangan ini melengkapi perjalanan Jepang di turnamen empat negara tersebut, setelah sebelumnya menundukkan Ekuador melalui adu penalti di semifinal.
Menariknya, komposisi skuad Samurai Blue dalam laga ini banyak diisi pemain yang berkarier di Jerman. Bek Bayern Munich, Hiroki Ito, dan gelandang Mainz, Kaishu Sano, tampil sejak awal. Sementara itu, Satoshi Tanaka (Schalke) dan Kento Shiogai (Wolfsburg) masuk dari bangku cadangan. Kehadiran mereka menegaskan bahwa Bundesliga tetap menjadi tujuan utama pesepak bola Jepang untuk mengasah kemampuan sebelum membela negara.
Kirin Cup sendiri memiliki sejarah panjang. Turnamen ini pertama kali digelar pada 1978 dan sempat diikuti klub serta tim nasional. Werder Bremen tercatat dua kali juara di era awal, sedangkan Borussia Mönchengladbach berbagi gelar perdana dengan Palmeiras. Sejak formatnya berubah menjadi khusus tim nasional, Jepang mendominasi. Kemenangan atas Selandia Baru ini menambah koleksi trofi mereka, sekaligus menjadi pemanasan penting menjelang agenda internasional berikutnya.
"Gol Dōan menunjukkan kualitasnya sebagai pemimpin. Ia tenang di momen krusial," ujar seorang pengamat sepak bola Asia yang enggan disebutkan namanya.
Bagi Jepang, hasil ini bukan sekadar trofi. Kirin Cup kerap dijadikan ajang uji coba sebelum turnamen besar. Pelatih dapat mengevaluasi kombinasi pemain yang berlaga di Eropa dengan mereka yang berkarier di dalam negeri. Keberhasilan Dōan dan rekan-rekan menjadi sinyal bahwa kedalaman skuad Jepang semakin solid, terutama di lini serang.
Dari kacamata Bundesliga, penampilan para pemainnya di level internasional memberikan nilai tambah. Klub-klub Jerman dikenal getol merekrut talenta Asia, dan keberhasilan mereka di panggung global memperkuat reputasi liga sebagai batu loncatan menuju karier internasional. Hal ini juga berdampak pada popularitas Bundesliga di pasar Asia, termasuk Indonesia, di mana penggemar sepak bola Eropa terus tumbuh.
Ke depan, tantangan bagi Jepang adalah menjaga konsistensi. Turnamen seperti Kirin Cup memang bergengsi, tetapi ujian sesungguhnya menanti di kualifikasi Piala Dunia dan kejuaraan regional. Apakah Dōan dan kawan-kawan mampu menerjemahkan performa ini ke panggung yang lebih besar? Publik sepak bola Asia, terutama di Indonesia, akan menyoroti langkah mereka sebagai tolok ukur kemajuan sepak bola kawasan.



