Kampung Ambon Cengkareng Kembali Digerebek: Siklus Narkoba yang Tak Kunjung Putus
Baca dalam 60 detik
- Aparat kembali menggerebek kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, yang dikenal sebagai Kampung Ambon, menandai pengulangan operasi serupa di lokasi yang sama.
- Penggerebekan berulang menunjukkan bahwa pendekatan penindakan belum mampu memutus rantai peredaran narkoba di wilayah tersebut.
- Diperlukan strategi baru yang menyentuh akar masalah, mulai dari ekonomi warga hingga penegakan hukum yang konsisten.

Jakarta โ Aparat keamanan kembali melakukan penggerebekan terhadap sarang narkoba di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, yang selama ini dikenal dengan sebutan Kampung Ambon. Operasi ini bukan yang pertama; wilayah tersebut berulang kali menjadi target razia terkait peredaran narkoba.
Penggerebekan terbaru ini menegaskan bahwa Kampung Ambon masih menjadi simpul peredaran narkoba di ibu kota. Meski sudah sering dirazia, praktik haram itu seolah tidak pernah benar-benar hilang. Pola ini memunculkan pertanyaan mendasar: mengapa pendekatan penindakan yang dilakukan bertahun-tahun belum juga membuahkan hasil permanen?
Sejumlah pengamat menilai bahwa penggerebekan berulang di lokasi yang sama menandakan adanya akar masalah yang lebih dalam, seperti kemiskinan, minimnya lapangan kerja, dan lemahnya pengawasan sosial di lingkungan tersebut. Tanpa intervensi yang menyeluruh, razia hanya akan menjadi siklus yang berputar tanpa ujung.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah dan aparat penegak hukum memang gencar memberantas narkoba. Namun, kasus Kampung Ambon memperlihatkan bahwa upaya tersebut belum menyentuh lapisan paling bawah. Warga setempat kerap kali terjebak dalam lingkaran setan: di satu sisi menjadi korban, di sisi lain terpaksa terlibat karena tekanan ekonomi.
"Penggerebekan berulang di lokasi yang sama menunjukkan bahwa pendekatan represif saja tidak cukup. Perlu ada pendekatan sosial-ekonomi yang menyertai penegakan hukum," ujar seorang pengamat kepolisian saat dihubungi terpisah.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebenarnya memiliki program pemberdayaan masyarakat di kawasan rawan narkoba. Namun, implementasinya sering kali terkendala koordinasi antarinstansi dan minimnya anggaran. Akibatnya, program tersebut tidak berjalan optimal dan tidak mampu menyaingi daya tarik ekonomi dari bisnis ilegal.
Selain itu, faktor geografis Kampung Ambon yang padat penduduk dan labirin gang sempit mempersulit pengawasan. Aparat sering kali kesulitan mendapatkan informasi akurat karena warga enggan bekerja sama, bisa jadi karena takut atau karena sudah terlanjur bergantung pada ekosistem tersebut.
Ke depan, tanpa perubahan strategi yang signifikan, penggerebekan hanya akan menjadi rutinitas tanpa hasil. Diperlukan kolaborasi lintas sektor: kepolisian, pemerintah daerah, lembaga sosial, dan masyarakat itu sendiri. Pendekatan berbasis komunitas yang melibatkan tokoh lokal dan menyediakan alternatif mata pencaharian bisa menjadi jalan keluar.
Pertanyaannya, apakah kali ini akan ada tindak lanjut yang berbeda? Ataukah Kampung Ambon akan kembali masuk daftar penggerebekan berikutnya tanpa ada perubahan berarti? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi publik berhak menuntut hasil yang lebih dari sekadar operasi simbolis.



