Tiga Kelurahan Jakarta Barat Melaju ke Final Benyamin S Award, Siap Presentasi 15 Oktober
Baca dalam 60 detik
- Srengseng, Sukabumi Utara, dan Taman Sari menjadi wakil Jakarta Barat di babak final Benyamin S Award setelah melewati penilaian lapangan.
- Ketiganya menonjolkan pendekatan berbeda: ekologi perkotaan, pemberdayaan warga, dan harmoni multietnis.
- Penilaian tatap muka pada 15 Oktober akan menentukan pemenang, dengan puncak acara dijadwalkan akhir bulan.

Tiga kelurahan di Jakarta Barat—Srengseng, Sukabumi Utara, dan Taman Sari—memastikan diri masuk sepuluh besar finalis Benyamin S Award (BSA), penghargaan tahunan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang menilai tata kelola lingkungan dan kesejahteraan warga. Penilaian lapangan oleh dewan juri berlangsung Kamis (8/10), dengan masing-masing kelurahan menampilkan program unggulan.
BSA bukan sekadar ajang seremonial. Penghargaan ini menguji sejauh mana kelurahan mampu menerjemahkan empat kriteria—bersih, nyaman, indah, dan sejahtera—menjadi praktik harian. Bagi Jakarta, yang tengah mendorong kota layak huni, hasil BSA bisa menjadi indikator keberhasilan pembangunan berbasis komunitas di tingkat paling bawah.
Kelurahan Srengseng mengandalkan Festival Hutan Kota bertema "Hutan, Kota, dan Kita". Tim juri diajak menyusuri empat zona: hijau, komunitas, UMKM, dan budaya. Lurah Srengseng, Tariswan, menyatakan festival ini merangkum kegiatan yang sudah berjalan, lalu dikemas ulang agar terlihat utuh. Ia yakin Srengseng unggul karena seluruh kategori BSA telah diterapkan.
"Kegiatan yang kami tampilkan adalah yang sudah biasa kami lakukan. Tinggal kami kemas menjadi satu wadah yang menggambarkan proses dari awal hingga akhir," ujar Tariswan.
Sementara itu, Kelurahan Sukabumi Utara menekankan kearifan lokal dan partisipasi warga. Lurah Ali Syahidin mengklaim telah memperbaiki berbagai kekurangan sejak penilaian sebelumnya. Menurutnya, warga yang guyub dan kental budaya Betawi menjadi modal utama. Ia juga berharap pembangunan tidak berhenti pada ajang penghargaan, melainkan berlanjut melalui destinasi wisata budaya Kampung Silat Rawa Belong yang telah diakui Kemenparekraf dan Dinas Kebudayaan.
Kelurahan Taman Sari menampilkan wajah Jakarta yang lain: multietnis namun rukun. Lurah Abdul Malik Raharusun menyebut rasa kekeluargaan sebagai fondasi. Ia merujuk sejarah panjang dari era Sunda Kelapa, Batavia, hingga percampuran Arab, Tionghoa, dan Hindustan yang membentuk identitas "Betawi Taman Sari". Menurutnya, keragaman itu justru memperkuat kolaborasi untuk Jakarta.
BSA menjadi motivasi tersendiri bagi para lurah. Abdul menyatakan siap berjuang menunjukkan penerapan empat kategori di Taman Sari. Ali berharap Sukabumi Utara terus bersinar meski tanpa penghargaan. Tariswan optimistis Srengseng mampu menyabet gelar.
Yang menarik, ketiga kelurahan ini menawarkan model pembangunan yang berbeda. Srengseng fokus pada ekologi dan ekonomi lokal, Sukabumi Utara pada pemberdayaan warga dan pelestarian budaya, sedangkan Taman Sari pada kohesi sosial di tengah keberagaman. Perbedaan pendekatan ini menunjukkan bahwa BSA tidak menuntut keseragaman, melainkan menghargai konteks masing-masing wilayah.
Namun, tantangan sesungguhnya adalah keberlanjutan. Penghargaan sering kali menjadi puncak semangat, tetapi setelahnya program bisa meredup. Publik akan menilai apakah inisiatif seperti Festival Hutan Kota, Kampung Silat Rawa Belong, dan Festival Budaya Taman Sari tetap berjalan atau hanya menjadi proyek musiman.
Pada 15 Oktober, ketiga lurah akan mempresentasikan seluruh rangkaian kegiatan di hadapan dewan juri. Pemenang akan diumumkan pada acara puncak akhir Oktober. Jika BSA ingin berdampak jangka panjang, ia perlu memastikan bahwa semangat kolaborasi yang ditunjukkan para finalis tidak berhenti di atas panggung.



