Thailand Tumbang di Adu Penalti, Chanathip: Kualitas Kami Tak Jauh Beda dari Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Thailand gagal meraih gelar FIFA ASEAN Cup 2026 setelah kalah adu penalti dari Indonesia pada laga final yang berakhir 2-2 hingga waktu normal.
- Kapten Thailand, Chanathip Songkrasin, menilai kekalahan ini bukan karena ketimpangan kualitas individu, melainkan ketidakmampuan memaksimalkan peluang emas.
- Chanathip menyebut laga ini sebagai bahan evaluasi penting sebelum kedua tim kembali bersua di Piala Asia, dengan penekanan pada variasi taktik dan kedalaman skuad.

Ambisi Thailand mengangkat trofi FIFA ASEAN Cup 2026 pupus di hadapan Indonesia melalui drama adu penalti, Senin (5/10/2026). Kapten tim, Chanathip Songkrasin, menegaskan bahwa jarak kualitas antara kedua tim tidak sebesar yang terlihat dari hasil akhir.
Laga final yang berlangsung sengit itu berakhir 2-2 hingga waktu normal. Thailand harus bermain dengan sepuluh pemain sejak menit ke-81 setelah bek Nicholas Mickelson menerima kartu kuning kedua. Keunggulan jumlah pemain dimanfaatkan Indonesia untuk menekan pertahanan Thailand, memaksa pertandingan ditentukan lewat tos-tosan.
Dalam adu penalti, Indonesia tampil lebih tenang dan memastikan gelar juara, sementara Thailand harus puas sebagai runner-up. Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi pasukan asuhan Anthony Hudson yang sempat berada dalam kepercayaan diri tinggi untuk mengamankan trofi.
Seusai pertandingan, Chanathip memberikan apresiasi tinggi terhadap semangat juang para pemain muda Thailand. "Hari ini semua orang, terutama para pemain muda, sudah berjuang sangat luar biasa. Suasana di dalam tim sangat bagus," ujarnya.
Pemain yang dijuluki Messi Jay itu mengakui bahwa dinamika kartu merah mengubah jalannya pertandingan. Meski demikian, ia menolak menyalahkan faktor eksternal. Menurutnya, Thailand hanya kurang beruntung dalam memaksimalkan peluang emas yang didapat.
"Kami bermain sangat baik hari ini. Indonesia memang memiliki beberapa pemain keturunan, tetapi jika dibandingkan secara individu, kualitas mereka tidak jauh di atas kami. Kami hanya melewatkan beberapa peluang kecil di laga ini."
โ Chanathip Songkrasin
Pernyataan Chanathip menyoroti perdebatan yang lebih luas tentang peta kekuatan sepak bola Asia Tenggara. Kehadiran pemain keturunan di skuad Indonesia memang menambah kedalaman, tetapi menurut Chanathip, secara individu kualitas kedua tim relatif berimbang. Hal ini menggarisbawahi bahwa faktor non-teknis seperti mentalitas, disiplin, dan efisiensi penyelesaian akhir kerap menjadi penentu di laga puncak.
Bagi Indonesia, kemenangan ini memperkuat posisi sebagai kekuatan dominan di kawasan. Namun, bagi Thailand, kekalahan ini menjadi bahan evaluasi berharga menjelang Piala Asia. Chanathip menekankan pentingnya menambah variasi taktik dan kedalaman skuad, meski ia menyadari keputusan akhir ada di tangan pelatih kepala Anthony Hudson.
Duel Thailand versus Indonesia di final ASEAN Cup 2026 menjadi cerminan persaingan sengit di level regional. Kedua tim diprediksi akan kembali bentrok di Piala Asia dengan persiapan yang lebih matang. Pertanyaannya, mampukah Thailand membalikkan keadaan, atau akankah Indonesia terus mendominasi? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal pasti: rivalitas keduanya semakin memanas.



