Burnham Buka Pintu Brexit, Partai Konservatif di Simpang Jalan
Baca dalam 60 detik
- Andy Burnham secara terbuka menyatakan Brexit gagal dan mendesak Inggris mempertimbangkan alternatif, memicu reaksi beragam di parlemen.
- Partai Konservatif pimpinan Kemi Badenoch terjebak antara janji pertumbuhan ekonomi dan komitmen membalikkan kebijakan Brexit tanpa landasan intelektual yang jelas.
- Sikap diam Badenoch berpotensi membiarkan Burnham mengambil risiko politik, sementara Eropa menunggu kepastian stabilitas politik Inggris sebelum negosiasi ulang.

Perdana Menteri Inggris Andy Burnham secara mengejutkan menyatakan bahwa Brexit telah gagal dan Inggris perlu mempertimbangkan opsi alternatif, sebuah pernyataan yang mengguncang lanskap politik Westminster dan memaksa Partai Konservatif menghadapi dilema strategis yang mendalam.
Pernyataan itu disampaikan Burnham pekan lalu di Liverpool, menandai pergeseran tajam dari pendekatan Partai Buruh yang selama bertahun-tahun menyembunyikan sikap sebenarnya terhadap Brexit. Menurut analis politik, langkah ini menempatkan Burnham pada posisi berani namun berisiko, karena secara implisit mengakui bahwa keluarnya Inggris dari Uni Eropa tidak membawa manfaat ekonomi yang dijanjikan.
Yang menarik, reaksi awal dari dalam kabinet Burnham sendiri terbilang minim. Sejumlah menteri dikabarkan terkejut dengan gaya pengambilan keputusan sang perdana menteri yang cenderung langsung dan tanpa konsultasi luas. Namun, respons publik yang relatif tenang menunjukkan bahwa pernyataan tersebut justru membuat sebagian lawan politik kehilangan momentum untuk menyerang.
Di sisi lain, Partai Konservatif yang tengah menggelar konferensi di Birmingham menghadapi pilihan sulit. Kemi Badenoch, yang menjabat sebagai pemimpin partai, jarang menyinggung Brexit dalam pidato-pidatonya. Dalam esai setebal 95 halaman berjudul The Right Way, ia hanya menyebut isu tersebut secara singkat, seolah menganggap trauma politik akibat referendum 2016 sebagai sejarah yang sudah usang.
Namun, janji partainya untuk membatalkan setiap kebijakan Buruh yang dianggap menggerogoti Brexit menciptakan kontradiksi dengan narasi pertumbuhan ekonomi yang ia usung. Sejumlah pengamat menilai posisi ini tidak memiliki dasar intelektual yang kokoh, terutama bagi seorang pemimpin yang mengklaim diri sebagai pemikir serius dengan pendekatan setara Margaret Thatcher pada 1970-an.
"Partai Konservatif tidak akan pernah membuka kembali pintu Brexit, tetapi sekarang setelah perdana menteri melakukannya, menguntungkan bagi mereka untuk membiarkan Burnham melangkah masuk," tulis kolumnis Guardian, Gaby Hinsliff, dalam analisisnya.
Badenoch menjadikan pertumbuhan sebagai alasan utama hampir semua kebijakan, mulai dari rencana membubarkan Badan Lingkungan Hidup hingga pemberian subsidi pengasuhan anak gratis bagi orang tua berpenghasilan di atas ยฃ100.000. Namun, dengan mengabaikan dampak Brexit terhadap perdagangan dan PDB, ia dinilai telah melumpuhkan misi pertumbuhannya sendiri.
Nigel Farage dari Partai Reformasi menjadi satu-satunya tokoh yang menyambut pernyataan Burnham dengan gembira. Ia melihatnya sebagai peluang emas untuk menyusun manifesto berikutnya: selamatkan Brexit, hentikan perahu migran, dan jangan pilih partai yang tidak bisa menang.
Sementara itu, Partai Liberal Demokrat dan Partai Hijau yang selama ini mengklaim sebagai satu-satunya kekuatan pro-Eropa di kiri spektrum politik kini terjebak dalam posisi sulit. Mereka berusaha mengklaim kredit karena telah mendorong Partai Buruh ke arah yang benar, namun kehilangan narasi pembeda yang selama ini menjadi identitas mereka.
Dalam konteks yang lebih luas, sikap Burnham mencerminkan pergeseran opini publik Inggris yang semakin lelah dengan drama Brexit berkepanjangan tanpa manfaat nyata. Survei terbaru menunjukkan bahwa mayoritas pemilih kini melihat keluarnya Inggris dari Uni Eropa sebagai keputusan yang merugikan secara ekonomi, meskipun isu imigrasi tetap menjadi kekhawatiran utama.
Bagi Indonesia, perkembangan politik di Inggris ini memiliki implikasi tidak langsung terhadap hubungan dagang dan investasi. Sebagai mitra dagang strategis, stabilitas kebijakan Inggris terhadap Uni Eropa akan memengaruhi iklim investasi global, termasuk bagi negara-negara berkembang yang mengandalkan akses pasar Eropa melalui Inggris. Ketidakpastian yang berkepanjangan dapat mendorong investor mencari tujuan alternatif di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Ke depan, pertanyaan kuncinya adalah apakah Badenoch akan tetap pada posisi diamnya atau justru memanfaatkan momen ini untuk mendefinisikan ulang arah partainya. Jika Burnham berhasil merancang kesepakatan baru dengan Uni Eropa yang mampu meningkatkan perdagangan tanpa memicu kemarahan pemilih anti-imigrasi, ia akan dikenang sebagai pemimpin yang berani. Namun jika gagal, Badenoch bisa bergabung dalam paduan suara kritik tanpa harus mengambil risiko politik apa pun.
Yang jelas, Eropa tidak akan kembali ke meja perundingan yang melelahkan sebelum ada kepastian bahwa kesepakatan apa pun akan bertahan melewati pergantian pemerintahan di Inggris. Itu berarti diperlukan penerimaan lintas partai, setidaknya secara diam-diam, bahwa Inggris bisa melakukan yang lebih baik. Badenoch tidak perlu mengatakan ya pada gagasan tersebut. Ia hanya perlu, untuk sekali ini, tidak mengatakan tidak.



