Kemenangan Labour di Holborn dan St Pancras: Ujian Pertama Burnham, Pukulan bagi Partai Hijau
Baca dalam 60 detik
- Kandidat Labour, Sagal Abdi-Wali, memenangkan pemilihan sela Holborn dan St Pancras dengan 12.292 suara, mengalahkan pemimpin Partai Hijau Zack Polanski yang meraih 8.928 suara.
- Tingkat partisipasi hanya 38,7%, terendah dalam pemilihan sela di Inggris pada parlemen ini, menandakan meningkatnya apatisme pemilih.
- Kemenangan ini memperkuat posisi Perdana Menteri Andy Burnham menjelang ujian elektoral berikutnya, sementara Partai Hijau harus menelan pil pahit setelah menargetkan kursi aman Labour.

Partai Buruh (Labour) berhasil mempertahankan kursi Holborn dan St Pancras dalam pemilihan sela yang digelar pada Rabu (8/10), setelah kandidatnya, Sagal Abdi-Wali, mengumpulkan 12.292 suara. Ia mengalahkan pemimpin Partai Hijau, Zack Polanski, yang hanya meraih 8.928 suara. Kemenangan ini menjadi sinyal penting bagi pemerintahan Perdana Menteri Andy Burnham, yang tengah menghadapi tekanan politik pasca-mundurnya Keir Starmer dari kursi tersebut pada September lalu.
Pemilihan sela ini digadang-gadang sebagai pertarungan sengit antara dua kubu kiri: Labour yang berkuasa dan Partai Hijau yang semakin vokal mengkritik kebijakan pemerintah. Meski Labour menang, selisih suara tidak terlalu mencolok mengingat Holborn dan St Pancras secara historis merupakan basis kuat Labour. Partai Hijau bahkan berani mencalonkan pemimpin mereka sendiri, sebuah langkah yang jarang dilakukan di daerah pemilihan yang dianggap 'aman' bagi Labour. Strategi itu gagal, tetapi Partai Hijau mengklaim telah membuat terobosan dengan menantang Labour di wilayah inti mereka.
Yang menjadi sorotan utama adalah rendahnya partisipasi pemilih. Hanya 38,7% pemilih yang menggunakan hak suaranya, turun 15,4 poin persentase dibandingkan pemilu 2024. Angka ini merupakan yang terendah untuk pemilihan sela di Inggris pada periode parlemen saat ini. Fenomena ini bisa dibaca sebagai kekecewaan publik terhadap kelas politik, atau justru sebagai indikasi bahwa pemilih merasa hasil sudah bisa diprediksi. Bagi Labour, rendahnya partisipasi tetap menjadi alarm karena basis legitimasi mereka dipertanyakan.
Partai Hijau mengakui kekalahan beberapa saat sebelum hasil resmi diumumkan. Juru bicara partai menyatakan bahwa keberanian mereka menantang Labour di salah satu kursi teraman menunjukkan perkembangan signifikan partai tersebut. Pernyataan itu menyiratkan bahwa Partai Hijau akan terus menggarap basis pemilih perkotaan yang selama ini menjadi lumbung Labour, terutama di kawasan dengan kesadaran lingkungan tinggi seperti Holborn dan St Pancras.
"Mengambil pertarungan melawan Labour di salah satu kursi teraman mereka menunjukkan seberapa jauh Partai Hijau telah berkembang," ujar juru bicara Partai Hijau.
Kemenangan ini menjadi angin segar bagi Andy Burnham, yang baru saja menggantikan Starmer sebagai perdana menteri. Ini adalah ujian elektoral besar pertamanya, dan hasilnya memperkuat polling yang menunjukkan bahwa ia telah memulihkan sebagian dukungan publik yang hilang di era Starmer. Namun, Burnham tidak bisa berpuas diri. Partisipasi rendah dan kemunculan Partai Hijau sebagai penantang serius di kursi perkotaan menjadi catatan penting bagi strategi Labour ke depan.
Bagi Indonesia, dinamika politik Inggris ini memberikan pelajaran tentang bagaimana partai tengah-kiri berupaya mempertahankan basis tradisionalnya di tengah kebangkitan partai alternatif yang mengusung isu lingkungan dan keadilan sosial. Di banyak negara, termasuk Indonesia, partai-partai besar menghadapi tantangan serupa: mempertahankan pemilih inti sambil merespons tuntutan baru, terutama dari generasi muda yang semakin peduli pada isu iklim dan tata kelola. Kemenangan Labour di Holborn dan St Pancras menunjukkan bahwa mesin partai masih efektif, tetapi penurunan partisipasi menjadi peringatan akan bahaya apatisme yang bisa menggerogoti legitimasi demokrasi.
Ke depan, perhatian akan tertuju pada langkah Partai Hijau. Apakah mereka akan terus menantang Labour di kursi-kursi perkotaan, atau mengalihkan fokus ke daerah pinggiran? Sementara itu, Burnham perlu membuktikan bahwa kemenangan ini bukan sekadar efek dari basis tradisional, melainkan cerminan kepemimpinan yang mampu menjawab kebutuhan pemilih. Pemilihan sela berikutnya di Inggris akan menjadi indikator apakah tren partisipasi rendah ini berlanjut atau justru berbalik.



