Reggie McFadden, Bintang 'In Living Color', Meninggal di Tanzania pada Usia 57
Baca dalam 60 detik
- Reggie McFadden, komedian yang dikenal lewat 'In Living Color' dan 'Def Comedy Jam', meninggal di Tanzania pada usia 57 tahun.
- Kabar duka disampaikan oleh saudarinya, penulis Bernice McFadden, setelah keluarga dihubungi Departemen Luar Negeri AS; penyebab kematian belum diungkap.
- McFadden menghabiskan 18 tahun terakhir di Tanzania dan sempat terpisah dari keluarganya, meninggalkan warisan komedi yang berpengaruh.

Komedian dan aktor Reggie McFadden, yang mencuri perhatian melalui acara sketsa legendaris In Living Color, menghembuskan napas terakhir di Tanzania pada usia 57 tahun. Kabar duka ini dikonfirmasi oleh saudarinya, penulis Bernice McFadden, kepada TMZ setelah pihak keluarga menerima pemberitahuan resmi dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Hingga kini, belum ada keterangan resmi mengenai waktu dan penyebab pasti kematiannya.
McFadden bukan nama asing di panggung komedi Amerika era 1990-an. Ia dikenal sebagai salah satu komika yang tampil rutin di Def Comedy Jam, sekaligus penulis naskah acara tersebut antara 1991 dan 1995. Penampilannya di musim kelima In Living Color semakin memperkuat posisinya di industri hiburan. Setelah pindah ke Los Angeles, ia memperluas karier aktingnya dengan peran di berbagai serial televisi seperti Coach, Martin, Hangin' With Mr Cooper, dan Getting Personal. Ia juga sempat muncul sebagai Officer Burt, tetangga Larry David, dalam episode Curb Your Enthusiasm tahun 2001.
Perjalanan karier McFadden tidak selalu mulus. Ia mengaku harus mengikuti audisi The Late Show hingga 12 kali sebelum akhirnya diundang tampil. Dalam wawancara dengan Los Angeles Times pada 1996, ia mengungkapkan tekadnya untuk tidak melakukan kesalahan saat tampil. "Saya sudah lama menunggu untuk bisa tampil di acaranya. Jadi ketika saya tampil, saya berkata pada diri sendiri, 'Tidak boleh ada kesalahan'," ujarnya saat itu. Salah satu leluconnya tentang kokain bahkan sempat membuat produser gugup, meski akhirnya tetap ditayangkan.
"Saya hanya bercerita tentang bagaimana [kokain] menyebar begitu luas, dan saya tidak mengerti. Saya ceritakan bagaimana tetangga saya menghisapnya di teras seperti minum limun. Dia akan menyapa saya saat saya lewat, 'Hei, bagaimana pekerjaanmu? Sibuk tidak?' Saya tidak tahu harus jawab apa: 'Bagaimana kokainnya? Pipa masih panas?'"
— Reggie McFadden, dalam wawancara dengan LA Times (1996)
Meski namanya sempat meredup dari sorotan Hollywood, McFadden memilih jalur hidup yang tak biasa: menetap di Tanzania selama hampir dua dekade. Keputusan ini sejalan dengan gelombang komedian Afrika-Amerika yang mencari ruang kreatif dan ketenangan di luar Amerika Serikat. Namun, sumber keluarga menyebut ia sempat terpisah dari kerabat karena persoalan internal. Bernice McFadden mengungkapkan bahwa pihaknya tidak mendapatkan detail kronologis dari pemerintah AS, menambah misteri sekitar kepergiannya.
Bagi publik Indonesia, sosok McFadden mungkin tidak sepopuler bintang komedi arus utama lainnya. Namun, bagi penggemar komedi Amerika era 90-an, namanya lekat dengan gaya stand-up yang tajam dan berani mengangkat realitas sosial. Ia adalah bagian dari generasi komedian kulit hitam yang membuka jalan bagi nama-nama seperti Dave Chappelle dan Kevin Hart. Warisannya mengingatkan bahwa panggung komedi sering kali menjadi cermin ketimpangan sosial, bukan sekadar hiburan.
Ke depan, industri hiburan Amerika mungkin akan kembali mengenang kontribusi McFadden melalui berbagai penghormatan pascakematian. Namun, pertanyaan yang tersisa: akankah dunia komedi memberikan ruang yang layak bagi para pelawak yang memilih hidup di luar pusat industri, jauh dari kilau lampu sorot? Kisah McFadden adalah pengingat bahwa di balik tawa, ada perjalanan hidup yang kompleks dan tak selalu terungkap di panggung.



