SpaceX Crew-13 Cetak Rekor Baru AS: Dock ke ISS dalam 7 Jam 55 Menit
Baca dalam 60 detik
- Misi Crew-13 SpaceX berhasil mencapai Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) hanya dalam waktu 7 jam 55 menit, memecahkan rekor sebelumnya untuk pesawat antariksa AS.
- Rekor ini lebih ditentukan oleh geometri orbit yang menguntungkan daripada kemajuan teknologi, menurut Direktur Program Dragon SpaceX, Julianna Scheiman.
- Meski mengesankan, waktu ini belum menyaingi rekor dunia Soyuz Rusia yang mampu mencapai ISS dalam 3 jam 3 menit pada 2020, dan tidak bisa dijadikan patokan tetap untuk misi mendatang.

SpaceX kembali menorehkan sejarah dalam penerbangan antariksa Amerika Serikat. Kapsul Crew Dragon yang membawa misi Crew-13 berhasil merapat ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) hanya dalam waktu 7 jam 55 menit setelah lepas landas dari Florida pada 1 Oktober 2026. Catatan ini menjadi waktu tercepat yang pernah diraih pesawat antariksa AS dari peluncuran hingga docking, mengalahkan rekor sebelumnya.
Peluncuran menggunakan roket Falcon 9 pada pukul 11:10 EDT, dan docking di modul Harmony terjadi pada 19:05 EDT, menurut blog misi NASA. Waktu tersebut memecahkan rekor keseluruhan AS sebelumnya sekitar 12 jam 33 menit yang dicetak oleh misi kargo tak berawak CRS-31 pada November 2024. Untuk misi berawak, rekor sebelumnya adalah 14 jam 43 menit oleh Crew-11 pada Agustus 2025.
Keberhasilan ini bukan semata-mata hasil rekayasa teknologi canggih, melainkan karena posisi ISS yang berada di titik strategis saat peluncuran. "Stasiun luar angkasa berada di posisi yang menguntungkan, dan mekanika orbit, fisika semuanya, bekerja sehingga menjadi waktu peluncuran-ke-docking terpendek yang kami miliki hingga saat ini," ujar Julianna Scheiman, Direktur Program Dragon SpaceX, seperti dikutip Space.com.
ISS mengorbit Bumi pada kecepatan sekitar 28.000 kilometer per jam dan menyelesaikan satu putaran penuh setiap 90 menit. Untuk mencapai stasiun, pesawat antariksa tidak bisa sekadar terbang lurus dan mempercepat. Ia harus masuk ke bidang orbit yang kompatibel, lalu menggunakan orbit yang lebih rendah untuk mendekat secara bertahap melalui beberapa kali lintasan. Pada peluncuran 1 Oktober, posisi ISS sangat ideal sehingga Dragon dapat mulai memangkas jarak hampir segera setelah mencapai orbit. Penundaan singkat saja bisa memaksa profil pertemuan yang lebih lama atau bahkan penjadwalan ulang.
Meski demikian, pencapaian ini masih kalah jauh dari rekor dunia yang dipegang program Soyuz Rusia. Pada 2020, sebuah misi Soyuz mencapai ISS hanya dalam waktu sekitar 3 jam 3 menit. Soyuz secara historis menggunakan jendela peluncuran yang sangat ketat untuk mencapai kecepatan tersebut, dengan konsekuensi jadwal yang kaku: keterlambatan kecil dapat menutup opsi jalur cepat sepenuhnya. "Kami beruntung kali ini," kata Scheiman kepada wartawan, sebagaimana dikutip Space.com.
Waktu pertemuan yang lebih cepat memiliki nilai praktis: kru menghabiskan lebih sedikit jam di dalam kapsul yang sempit, dan logistik misi menjadi lebih fleksibel ketika jarak antara peluncuran dan ketersediaan kru di stasiun menyusut. Namun, angka 7 jam 55 menit tidak bisa dianggap sebagai standar baru untuk penerbangan Dragon. Durasi tersebut mencerminkan keselarasan orbit spesifik yang hanya dimungkinkan oleh geometri misi yang menguntungkan, bukan kemampuan yang bisa dijamin Dragon setiap saat. Rekor ini menunjukkan apa yang mungkin terjadi dalam kondisi ideal, tetapi kondisi semacam itu tidak tersedia pada jadwal tetap.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menegaskan bahwa efisiensi akses ke luar angkasa semakin menjadi faktor penting dalam operasi stasiun antariksa dan misi berawak. Meskipun Indonesia belum memiliki program antariksa berawak, kemampuan negara-negara seperti AS dan Rusia dalam memangkas waktu tempuh orbit dapat memengaruhi kerja sama internasional di bidang riset dan teknologi antariksa, termasuk peluang partisipasi dalam eksperimen mikrogravitasi. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang kini bergabung ke BRIN terus mengembangkan satelit dan teknologi pendukung, namun untuk misi berawak masih bergantung pada mitra global.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah SpaceX dapat mengulangi waktu ini dalam misi-misi berikutnya, atau apakah rekor ini hanya kebetulan geometris semata. Dengan semakin padatnya jadwal peluncuran komersial dan misi ISS, kemampuan beradaptasi dengan jendela orbit yang sempit akan menjadi keunggulan kompetitif. Jika SpaceX mampu mengembangkan sistem navigasi yang lebih fleksibel, bukan tidak mungkin rekor ini akan terus diperbarui, meski tantangan fisika orbit tetap menjadi batas yang sulit dilampaui.



