Sigma 50-150mm F2.8: Lensa APS-C Legendaris yang Kembali Setelah 20 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Sigma merilis lensa zoom fast 50-120mm F2.8 untuk APS-C, penerus spiritual dari APO 50-150mm F2.8 EX yang legendaris.
- Lensa ini menawarkan ukuran dan bobot lebih ringkas dibanding lensa full-frame 70-200mm F2.8, dengan harga lebih terjangkau.
- Kehadirannya berpotensi mengubah lanskap fotografi APS-C, terutama di segmen pengguna yang mendambakan portabilitas tanpa mengorbankan kualitas.

Dua dekade setelah Sigma memperkenalkan APO 50-150mm F2.8 EX HSM DC, perusahaan asal Jepang itu kembali menghadirkan semangat lensa tersebut melalui rilis terbaru 50-120mm F2.8 untuk sistem APS-C. Lensa anyar ini bukan sekadar produk biasa; ia adalah jawaban atas kerinduan para fotografer akan zoom cepat yang ringkas, ringan, dan terjangkau—sesuatu yang jarang ditemui di pasar kamera modern.
Pada 2005, Sigma mengejutkan pasar dengan lensa 50-150mm F2.8 yang memberikan rentang setara 75-225mm pada sensor APS-C. Saat itu, pengguna DSLR APS-C hanya bisa mengandalkan lensa 70-200mm F2.8 full-frame yang berat dan mahal. Kehadiran lensa ini membuka peluang baru: fotografer bisa mendapatkan jangkauan telefoto cepat tanpa harus membawa beban ekstra. Mark II dirilis pada 2008 dengan spesifikasi serupa, dan lensa ini sempat menjadi favorit di ruang redaksi DPReview karena kepraktisannya.
Richard, jurnalis senior DPReview, mengaku jatuh cinta pada lensa ini. “Saya memiliki 70-200mm F2.8 full-frame, tetapi jarang memakainya karena terlalu besar dan berat. Lensa 50-150mm adalah wahyu: ukurannya kurang dari dua per tiga lensa 70-200mm, bobotnya pun demikian, dan harganya sekitar dua per tiga,” kenangnya. Ia bahkan menyebut lensa ini sebagai salah satu pembelian paling tidak efektif—justru karena ia lebih sering menggunakan lensa APS-C tersebut.
Meski sukses secara fungsional, lensa ini tidak pernah menjadi klasik arus utama. Ketika Sigma merilis versi stabilisasi (OS) pada 2010, mereka menggunakan housing yang sama dengan 70-200mm F2.8, sehingga menghilangkan keunggulan ukuran dan bobot yang menjadi daya tarik utamanya. Keputusan itu mengecewakan para penggemar setia, termasuk Richard, yang berharap Sigma mempertahankan desain ringkas.
Bertahun-tahun kemudian, Richard tak henti menanyakan penerus 50-150mm kepada CEO Sigma, Kazuto Yamaki. “Saya hampir setiap bertemu dengannya menanyakan hal itu. Responsnya tampak positif, tetapi saya takut terlalu berharap,” ujarnya. Harapan itu akhirnya terwujud ketika Sigma mengumumkan lensa 50-120mm F2.8 untuk APS-C. Yang mengejutkan, lensa baru ini bahkan lebih kecil dan lebih ringan dari pendahulunya, serta lebih tajam dan responsif dalam hal fokus.
Bagi pasar Indonesia, kehadiran lensa ini berpotensi menggairahkan komunitas fotografi APS-C yang selama ini terpinggirkan oleh dominasi full-frame. Pengguna kamera seperti Sony A6000 series, Fujifilm X-series, atau Nikon Z50 kini memiliki opsi zoom cepat yang tidak membebani tas dan dompet. Ini bisa menjadi angin segar bagi fotografer jalanan, potret, dan even olahraga yang mengutamakan mobilitas.
Pertanyaannya, akankah Sigma 50-120mm F2.8 ini mengulang kesuksesan pendahulunya dan bertahan selama puluhan tahun? Atau justru menjadi produk transisi di tengah pergeseran menuju mirrorless full-frame yang semakin murah? Yang jelas, langkah Sigma ini menegaskan bahwa format APS-C masih memiliki tempat di hati fotografer—asalkan didukung lensa yang tepat.



