Fotografer Ini Pakai Lensa Pentax 50 Tahun untuk Abadikan Tanaman Karnivora
Baca dalam 60 detik
- Florent Chouffot, fotografer makro asal Prancis, mengandalkan lensa Pentax K SMC 50mm F4 macro produksi 1975 untuk memotret detail tanaman karnivora dengan tingkat ketajaman tinggi.
- Kombinasi Panasonic S1R dan lensa lawas dinilai mampu menghadirkan keseimbangan antara akurasi ilmiah dan sentuhan artistik, sekaligus menekan biaya peralatan.
- Pendekatan ini membuka peluang bagi fotografer Indonesia untuk bereksperimen dengan gear terjangkau tanpa mengorbankan kualitas visual.

Di tengah perlombaan teknologi kamera yang kian canggih, seorang fotografer asal Prancis, Florent Chouffot, justru memilih jalan berbeda. Ia mengandalkan lensa Pentax K SMC 50mm F4 macro yang diproduksi pada 1975—hampir setengah abad lalu—untuk mengabadikan keindahan tanaman karnivora. Pilihan ini bukan sekadar nostalgia, melainkan strategi untuk mendapatkan detail maksimal dengan karakter optik yang khas.
Chouffot, yang dikenal di komunitas sebagai Adynatoon, telah menekuni fotografi sejak awal 2000-an. Ketertarikannya pada fenomena cuaca ekstrem, terutama badai petir, membawanya pada dunia fotografi. "Momen-momen itu sangat fana, kadang hanya bertahan beberapa menit atau milidetik," ujarnya. Namun, kecintaannya pada tanaman karnivora tumbuh bersamaan. Baginya, tanaman ini adalah ekspresi adaptasi ekstrem alam dengan bentuk, warna, dan detail halus yang sulit dilihat mata telanjang.
Dalam wawancara dengan DPReview, Chouffot mengungkapkan bahwa ia menggunakan kamera Panasonic DC-S1R. Menurutnya, kamera itu menawarkan keseimbangan terbaik antara noise ISO rendah dan detail tinggi—dua hal yang ia butuhkan. Ia tidak memerlukan autofokus canggih atau kecepatan burst. "Yang saya nilai adalah ketenangan dalam bekerja dan kemampuan memasang berbagai lensa lawas," tuturnya.
Bagi Chouffot, lensa 50mm adalah focal length yang mudah digunakan dan cocok untuk tanaman. Ia memuji ketiadaan distorsi serta rendering warna yang tajam. "Menggunakan lensa ini sungguh menyenangkan, terutama karena cincin fokusnya yang halus," katanya. Selain itu, ia juga memakai Samyang 135mm F2 untuk subjek yang lebih jauh, dan Pentax K SMC 28mm F3.5 untuk wide-angle—meski lebih sering dipakai untuk makro dengan reverse ring.
"Saya selalu berusaha menyeimbangkan aspek ilmiah dan puitis. Saya tertarik pada fitur morfologi sekaligus atmosfer yang tercipta," ujar Chouffot.
Pendekatan ini menghasilkan karya yang tidak hanya mendokumentasikan tanaman secara botanis, tetapi juga menggugah imajinasi. Ia sering memotret tanaman karnivora dengan pencahayaan dari belakang untuk memperlihatkan struktur internal perangkap. "Daun sering terlihat lebih menarik saat backlit karena cahaya mengungkap struktur dalam, bukan sekadar permukaan," jelasnya. Teknik ini menciptakan citra unik dan sedikit misterius.
Chouffot juga berbagi pengalaman menggunakan peralatan tak biasa, seperti digital back medium format Imacon Ixpress 528C dengan hard drive eksternal yang harus diikat ke pinggang. "Berat dan canggung, tapi saya menyukai rendisi gambarnya," kenangnya. Ia pun menyesal telah menjualnya. Pengalaman ini menunjukkan bahwa keterbatasan peralatan justru bisa memacu kreativitas.
Dalam hal perlengkapan, Chouffot setia pada tas Manfrotto Gear Backpack M yang dibeli pada 2014. Ia membawa flash Godox kecil dengan diffuser, remote controller, close-up lens Canon, dan reverse ring. Tripod selalu dibawa untuk pemotretan malam atau badai petir. Menurutnya, reverse ring adalah aksesori favorit karena mampu mengubah lensa wide-angle menjadi alat makro magnifikasi tinggi dengan biaya murah.
Pelajaran berharga dari Chouffot adalah pentingnya latihan dan eksplorasi. "Jangan menahan diri. Kamera dan lensa jauh lebih serbaguna daripada yang sering ditulis online," pesannya. Ia menekankan bahwa hasil akhir memang penting, tetapi prosesnya juga memberi kepuasan. Dengan lensa Pentax lawas, memutar cincin fokus yang halus membuatnya merasa lebih terhubung dengan fotografi.
Bagi fotografer Indonesia, kisah Chouffot bisa menjadi inspirasi. Di tengah harga kamera dan lensa baru yang melambung, memanfaatkan peralatan vintage atau aksesori sederhana seperti reverse ring dapat menjadi solusi kreatif. Komunitas fotografi Tanah Air yang besar, terutama di platform seperti Instagram dan forum diskusi, dapat meniru pendekatan ini untuk menghasilkan karya makro yang memukau tanpa harus menguras kantong.
Ke depan, pertanyaannya adalah sejauh mana teknologi modern dan peralatan lawas dapat berdampingan? Chouffot membuktikan bahwa batas antara keduanya justru bisa menjadi ruang eksplorasi yang subur. Dengan semangat eksperimen, siapa pun dapat menemukan gaya uniknya sendiri—tanpa harus selalu mengikuti arus utama.



