Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026: Emil Audero Pahlawan, Tangis Ridho hingga Herdman Gendong Sumardji
Baca dalam 60 detik
- Timnas Indonesia menutup final FIFA ASEAN Cup 2026 dengan kemenangan adu penalti 4-2 atas Thailand di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (5/10/2026).
- Kiper Emil Audero menjadi penentu setelah menepis eksekusi Nattapong Sayriya, sementara empat algojo Indonesia—Kevin Diks, Dean James, Elkan Baggott, dan Shayne Pattynama—menunaikan tugas dengan sempurna.
- Selebrasi sarat emosi mewarnai gelar ini: Rizky Ridho dan Egy Maulana Vikri menangis, Joey Pelupessy terisak, dan pelatih John Herdman sampai menggendong Ketua BTN PSSI Sumardji.

Timnas Indonesia memastikan diri sebagai kampiun Premier Division FIFA ASEAN Cup 2026 setelah menaklukkan Thailand melalui adu penalti 4-2 (2-2) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (5/10/2026) malam WIB. Kemenangan ini menjadi penutup dramatis perjalanan panjang Skuad Garuda di turnamen yang berformat baru tersebut.
Emil Audero menjadi sosok sentral di balik gelar juara. Kiper naturalisasi itu menepis eksekusi penalti Nattapong Sayriya—penendang keempat Thailand—sehingga memastikan keunggulan Indonesia tak terkejar. Audero langsung berlari ke sudut lapangan, disambut rekan-rekan setim yang menumpahkan kegembiraan di hadapan puluhan ribu suporter yang memadati GBK.
Namun, momen paling menyentuh justru datang dari pemain yang baru masuk di babak kedua. Rizky Ridho, bek Persija Jakarta, tak mampu membendung air mata setelah peluit panjang berbunyi. Ia masuk menggantikan Luke Vickery pada menit ke-60 dan langsung memberi dampak besar: umpan silangnya berbuah gol penyama kedudukan yang dicetak Elkan Baggott menjelang akhir babak tambahan. Gol tersebut memaksa laga berlanjut ke adu penalti.
Ekspresi haru tidak hanya ditunjukkan Ridho. Egy Maulana Vikri juga terlihat menangis, sementara Joey Pelupessy terisak di tengah kerumunan rekan setim. Para pemain diaspora seperti Kevin Diks, Calvin Verdonk, Justin Hubner, dan Elkan Baggott tampak bersuka cita; Ole Romeny bahkan membawa bendera Merah-Putih dan beberapa kali tertawa lepas. Pelatih John Herdman ikut larut, memeluk satu per satu pemain, dan sempat menggendong Sumardji, Ketua Badan Tim Nasional PSSI. Sekjen PSSI Yunus Nusi pun terlihat berjingkrak merayakan gelar.
"Kemenangan ini bukan sekadar trofi, tetapi bukti bahwa proses pembinaan dan naturalisasi berjalan seiring," ujar seorang pengamat sepak bola nasional yang menyaksikan langsung pertandingan.
Dari kacamata taktik, keputusan Herdman memasukkan Ridho di babak kedua menjadi kunci. Umpan silangnya ke kotak penalti memaksa lini belakang Thailand bekerja ekstra, dan bola liar disambar Baggott untuk menyamakan skor. Sebelumnya, Thailand sempat unggul dan tampak akan mengunci kemenangan, tetapi gol telat Indonesia mengubah arah pertandingan.
Di adu penalti, mental para eksekutor Indonesia teruji. Kevin Diks, Dean James, Elkan Baggott, dan Shayne Pattynama tampil tenang. Sebaliknya, dua algojo Thailand—Sarach Yooyen dan Nattapong Sayriya—gagal menunaikan tugas. Audero menjadi tembok terakhir yang mematahkan harapan Thailand.
Gelar ini memperkuat posisi Indonesia di kancah sepak bola Asia Tenggara dan menjadi modal berharga menjelang agenda internasional berikutnya. Bagi para pemain diaspora, turnamen ini membuktikan bahwa integrasi mereka ke dalam skuad berjalan mulus. Sementara bagi publik sepak bola nasional, malam di GBK menjadi pengingat bahwa drama dan air mata masih menjadi bumbu utama perjalanan Timnas.
Pertanyaannya kini: mampukah Indonesia menjaga konsistensi dan menjadikan trofi ini sebagai batu loncatan menuju prestasi yang lebih tinggi di level Asia? Sebab, selebrasi malam itu boleh saja mengundang haru, tetapi ujian sesungguhnya baru dimulai.



