Hadjar Tolak Rompi Pendingin di F1: "Balapan Harus Tetap Berat"
Baca dalam 60 detik
- Isack Hadjar menyerukan pelarangan rompi pendingin di F1 karena dianggap mengurangi tantangan fisik balapan.
- Max Verstappen menilai perangkat itu tidak diperlukan dan mengganggu pergerakan pembalap di kokpit.
- Kontroversi muncul setelah cuaca panas ekstrem di Sirkuit Sepang, Malaysia, memicu perdebatan efektivitas sistem pendingin.

Pembalap Red Bull Racing, Isack Hadjar, mengusulkan agar rompi pendingin (cooling vest) dilarang dari kejuaraan Formula 1. Menurutnya, tantangan fisik ekstrem merupakan bagian tak terpisahkan dari balapan dan tidak boleh direduksi oleh bantuan teknologi.
Pernyataan itu muncul setelah topik rompi pendingin kembali mencuat pada Grand Prix Bahrain di Malaysia pekan lalu, di mana suhu dan kelembapan di Sirkuit Internasional Sepang mencapai level yang menguras stamina. Hadjar menilai perangkat tersebut tidak memiliki tempat dalam olahraga ini. "Saya pikir itu harus dilarang. Karena ini seharusnya sulit," ujarnya kepada Motorsport.com dan media lain di Singapura.
Pandangan Hadjar diperkuat oleh rekan setimnya, Max Verstappen. Juara dunia empat kali itu menyatakan tidak akan menggunakan rompi pendingin meskipun perangkat tersebut mampu menjaga suhu tubuh selama satu setengah jam penuh. "Bagi saya tidak perlu. Ya, panas, tapi ini bukan sauna, dan dengan rompi pendingin ini ada kabel-kabel bodoh di mobil, jadi itu membatasi pergerakan Anda," kata Verstappen. Ia juga meragukan efektivitas sistem tersebut dalam jangka panjang.
Perdebatan tentang rompi pendingin sebenarnya bukan hal baru. Sejak diperkenalkan sebagai opsi dalam kondisi cuaca ekstrem, perangkat ini telah memicu pro dan kontra di kalangan pembalap. Mereka yang mendukung berargumen bahwa keselamatan dan kesehatan pembalap harus diutamakan, terutama di sirkuit dengan iklim tropis seperti Sepang. Namun, kelompok yang menolak—termasuk Hadjar dan Verstappen—melihatnya sebagai bentuk pelemahan esensi kompetisi.
Dalam balapan, setiap detail teknis dan fisik dapat menentukan hasil. Penggunaan rompi pendingin dinilai sebagian pembalap dapat mengubah dinamika pertarungan, terutama pada fase akhir lomba ketika konsentrasi dan ketahanan fisik diuji. Verstappen bahkan menyebut kabel-kabel perangkat tersebut mengganggu kebebasan bergerak di kokpit yang sempit.
"Bagi saya itu tidak perlu. Ya, panas, tapi ini bukan sauna, dan dengan rompi pendingin ini ada kabel-kabel bodoh di mobil, jadi itu membatasi pergerakan Anda," tegas Verstappen.
Regulasi F1 sendiri memberikan kelonggaran bagi pembalap untuk memilih menggunakan rompi pendingin atau membawa pemberat sebagai kompensasi bobot. Opsi ini dirancang agar tidak ada pihak yang dirugikan secara teknis. Namun, bagi Hadjar, pilihan itu tetap tidak seharusnya ada. Ia menegaskan bahwa ketangguhan adalah bagian dari identitas pembalap F1.
Kontroversi ini juga menyoroti perdebatan lebih luas tentang sejauh mana teknologi boleh campur tangan dalam olahraga. Di satu sisi, inovasi bertujuan melindungi atlet dari risiko kesehatan akibat panas ekstrem. Di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa bantuan semacam itu mengikis nilai-nilai tradisional balapan yang menuntut ketahanan fisik dan mental luar biasa.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, isu ini relevan mengingat beberapa sirkuit di Asia Tenggara kerap menghadirkan cuaca panas dan lembap. Jika rompi pendingin dilarang, pembalap akan menghadapi tekanan fisik lebih besar, yang bisa memengaruhi performa dan keselamatan. Sebaliknya, jika tetap diizinkan, perdebatan tentang keadilan kompetisi akan terus berlanjut.
Ke depan, keputusan mengenai penggunaan rompi pendingin akan bergantung pada diskusi antara FIA, tim, dan pembalap. Hadjar dan Verstappen telah memberikan suara kontra yang kuat, tetapi belum tentu mewakili seluruh grid. Apakah F1 akan memprioritaskan keselamatan dengan mempertahankan perangkat ini, atau kembali ke akar ketangguhan murni? Waktu yang akan menjawab, tetapi perdebatan ini dipastikan akan memanas seiring musim berjalan.



