Ferrari 'Kehilangan' Akun Instagram, Hamilton dan Leclerc Bikin Kekacauan Jelang GP Singapura
Baca dalam 60 detik
- Lewis Hamilton dan Charles Leclerc mengambil alih akun Instagram resmi Ferrari, mengganti foto profil dan mengunggah konten di luar prosedur tim.
- Ferrari merilis pernyataan resmi bernada bercanda yang menyebut dua individu dalam organisasi telah membajak saluran media sosial mereka.
- Aksi ini menuai respons positif penggemar dan menjadi fenomena jelang balapan sprint di Grand Prix Singapura.

Tim Formula 1 Ferrari mendadak menjadi perbincangan setelah dua pembalapnya, Lewis Hamilton dan Charles Leclerc, mengambil alih akun Instagram resmi tim menjelang Grand Prix Singapura. Aksi tersebut berlangsung selama kurang lebih dua jam dan menghasilkan serangkaian unggahan yang menyimpang dari citra formal Scuderia.
Kekacauan dimulai ketika foto profil ikonik kuda jingkrak diganti dengan swafoto close-up keduanya. Setelah itu, muncul berbagai konten santai seperti Leclerc yang menanyakan pendapat penggemar soal gaya rambutnya, tur garasi dan area hospitality oleh Hamilton, serta video keduanya mengganggu rapat tim dan saling menggunakan filter lucu. Ferrari kemudian merilis pernyataan resmi bernada bercanda yang menyebut dua individu dalam organisasi telah mengambil kendali tanpa izin atas saluran media sosial mereka.
Dalam pernyataan tersebut, Ferrari mengklaim telah mengidentifikasi kedua pelaku dan situasi sudah terkendali. Mereka juga berterima kasih kepada penggemar atas pengertiannya. Respons publik pun beragam, namun mayoritas bernada positif. Banyak penggemar mengaku terhibur dan berharap aksi semacam itu terulang. "Ini seharusnya terjadi setiap akhir pekan," tulis seorang penggemar. Komentar lain menyebut mereka rela mengabaikan pekerjaan penting karena terus memantau akun Ferrari.
Meski terkesan sekadar lelucon, insiden ini menyoroti pergeseran strategi komunikasi tim balap dalam beberapa tahun terakhir. Media sosial bukan lagi sekadar alat promosi, melainkan kanal untuk membangun kedekatan dengan penggemar. Ferrari, yang selama ini dikenal tertutup dan sangat formal, tampaknya mulai melonggarkan protokol demi menarik audiens yang lebih luas, terutama generasi muda. Langkah ini juga bisa dilihat sebagai upaya meningkatkan engagement menjelang balapan yang krusial.
"Kami dapat mengonfirmasi bahwa kedua tersangka telah diidentifikasi dan situasi kini telah terkendali. Kendali penuh atas akun kami telah dipulihkan," demikian bunyi pernyataan resmi Ferrari.
Dari sudut pandang pemasaran olahraga, aksi ini efektif menciptakan viralitas organik. Tanpa biaya iklan tambahan, Ferrari berhasil menarik perhatian media dan penggemar di tengah jadwal balapan yang padat. Namun, muncul pula pertanyaan tentang batas antara humor dan profesionalisme. Beberapa pengamat menilai bahwa tim sekelas Ferrari tetap perlu menjaga wibawa, terutama ketika sedang mengejar gelar juara dunia.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, fenomena ini menunjukkan bahwa tim papan atas pun bisa tampil santai di media sosial. Antusiasme terhadap F1 di Tanah Air terus tumbuh, seiring dengan meningkatnya liputan dan kehadiran balapan di kawasan Asia. Momen seperti ini bisa menjadi pintu masuk bagi audiens baru untuk mengenal lebih dekat kepribadian para pembalap, di luar aksi di lintasan.
Ke depan, apakah Ferrari akan menjadikan aksi ini sebagai format tetap, atau justru membatasi keterlibatan pembalap di media sosial? Jawabannya mungkin akan terlihat dari bagaimana tim mengelola citra mereka di sisa musim. Yang jelas, untuk sesaat, Hamilton dan Leclerc berhasil membuktikan bahwa mereka juga bisa menghibur di luar kokpit.



