Skandal Keuangan Manchester City Memicu Kekhawatiran Investasi Uni Emirat Arab di Inggris
Baca dalam 60 detik
- Mantan pemimpin Dewan Kota Manchester, Sir Richard Leese, membela kemitraan dengan pemilik Manchester City meskipun ada skandal pelanggaran aturan keuangan.
- Kemitraan Manchester Life senilai £1 miliar dianggap sukses mengembangkan kawasan Ancoats, namun dikritik karena kurang transparan dan tidak menyediakan rumah terjangkau.
- Ancaman penghentian investasi UAE senilai miliaran poundsterling dapat berdampak luas pada perekonomian Inggris, termasuk proyek-proyek di Manchester.

Mantan pemimpin Dewan Kota Manchester, Sir Richard Leese, angkat bicara membela kemitraan antara otoritas kota dan pemilik Manchester City, Abu Dhabi United Group (ADUG), di tengah skandal pelanggaran aturan keuangan yang menjerat klub. Leese, yang memimpin dewan selama 25 tahun hingga 2021 dan kini menjabat presiden kehormatan klub, menegaskan bahwa kesepakatan yang terjalin sejak satu dekade lalu membawa manfaat nyata bagi kota Manchester.
Kemitraan antara dewan kota dan ADUG, perusahaan milik Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan, kembali menjadi sorotan setelah Manchester City dinyatakan bersalah atas 115 pelanggaran regulasi keuangan Premier League, termasuk penggunaan kontrak komersial palsu. Klub telah menyatakan banding dan membantah semua tuduhan. Namun, vonis ini memicu pertanyaan baru tentang hubungan antara klub, pemiliknya, dan pemerintah kota yang telah berjalan selama bertahun-tahun.
Pada 2014, dewan kota dan ADUG membentuk perusahaan patungan bernama Manchester Life, dengan rencana investasi lebih dari £1 miliar selama satu dekade untuk membangun ribuan rumah di kawasan Ancoats dan New Islington, dekat Stadion Etihad. Proyek ini digadang-gadang sebagai katalis pembangunan kembali wilayah timur pusat kota Manchester yang saat itu lesu akibat krisis finansial 2008. Namun, laporan University of Sheffield pada 2022 berjudul "Manchester Offshored" mempertanyakan nilai publik dari skema tersebut, terutama karena tidak adanya rumah terjangkau dan kurangnya transparansi keuangan.
Laporan itu juga menyoroti kesepakatan tahun 2015 yang memberikan ADUG hak istimewa untuk memilih lahan di Ancoats dan New Islington dengan harga yang dianggap di bawah pasar. Leese membantah tudingan bahwa tanah dijual terlalu murah. Menurutnya, kesepakatan itu dimediasi oleh pemerintah Inggris dan Uni Emirat Arab, dan investasi dari Abu Dhabi-lah yang menciptakan nilai tambah. "Saat itu pembangunan di Manchester terhenti. Kami masih merasakan dampak krisis 2008," ujarnya. "Investasi dari Abu Dhabi yang memicu pengembangan, terutama di area Ancoats. Semua terdokumentasi dan melalui proses due diligence dewan."
Sejak diambil alih ADUG, Manchester City menjelma menjadi kekuatan dominan di sepak bola Inggris, meraih gelar Premier League delapan kali antara 2012 dan 2024, serta berbagai trofi lainnya. Kesuksesan ini tidak lepas dari suntikan dana besar-besaran, termasuk pembangunan fasilitas latihan dan kantor pusat City Football Group. Namun, penyelidikan Premier League yang dimulai pada 2018 dan berujung pada vonis minggu lalu telah mencoreng reputasi klub dan memicu kekhawatiran lebih luas tentang dampak investasi asing di Inggris.
Perdana Menteri Andy Burnham, yang juga mantan walikota Greater Manchester, menyatakan keprihatinan mendalam jika pemilik City menarik investasinya. "Mereka telah menjadi mitra besar dalam pembangunan Manchester modern dan menjadikan Manchester City kekuatan global," katanya. Kekhawatiran ini diperkuat laporan bahwa UAE mungkin menghentikan skema investasi di seluruh Inggris senilai miliaran poundsterling sebagai buntut dari keputusan Premier League.
"Saya berharap Manchester tidak kehilangan investasi UAE. Abu Dhabi pasti merasa diperlakukan tidak adil mengingat kontribusi mereka, tidak hanya untuk Manchester tetapi juga sepak bola Inggris," ujar Sir Richard Leese.
Leese menambahkan bahwa investasi Abu Dhabi di Manchester sangat signifikan, termasuk untuk klub, kompleks latihan, dan kantor pusat City Football Group. "Bagi kota ini, bekerja dengan Abu Dhabi berarti semua yang dijanjikan telah ditepati. Mereka memiliki kredibilitas nyata. Saya tidak berpikir mereka akan meninggalkan kita," tegasnya. Ia juga menekankan bahwa tidak ada klub sepak bola lain yang memberikan kontribusi sebesar itu kepada komunitas lokalnya.
Dewan Kota Manchester sendiri membela kemitraan Manchester Life sebagai platform pengembangan yang sukses. "Klaim bahwa kerja sama dengan pemilik Manchester City tidak menguntungkan telah terbantahkan berulang kali," ujar perwakilan dewan. Mereka menepis anggapan tanah dijual murah karena saat itu tidak ada minat pasar, dan nilai lahan meningkat justru berkat investasi Manchester Life. Dewan juga menekankan bahwa kemitraan ini menciptakan kepercayaan investor dan membuka jalan bagi pengembang lain untuk masuk ke Manchester.
Kasus ini menyoroti dilema yang dihadapi banyak kota di Inggris dan Eropa: antara menarik investasi asing untuk mendorong pembangunan dan menjaga transparansi serta kepentingan publik. Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi cermin bagaimana masuknya dana asing besar dalam proyek infrastruktur atau olahraga perlu diimbangi dengan tata kelola yang ketat dan akuntabilitas. Ketika investasi asing menjadi tulang punggung pembangunan, pertanyaan tentang siapa yang diuntungkan dan sejauh mana negara berdaulat mengawasi menjadi semakin relevan.
Ke depan, nasib hubungan Manchester dengan Abu Dhabi akan sangat bergantung pada hasil banding Manchester City dan sikap pemerintah Inggris. Jika UAE benar-benar menarik investasinya, bukan hanya klub yang terdampak, tetapi juga proyek-proyek pembangunan kota dan hubungan bilateral kedua negara. Akankah skandal ini menjadi titik balik dalam cara Inggris mengelola investasi asing di sektor olahraga dan properti? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi tekanan politik dan ekonomi sudah terasa nyata.



