Mantan Peneliti Anthropic: Memperlambat AI Justru Sia-sia, Mata-mata China Sudah di Dalam
Baca dalam 60 detik
- Jacob Coxon, peneliti yang mundur dari Anthropic, menilai upaya memperlambat pengembangan AI tidak akan efektif karena dugaan infiltrasi mata-mata China di laboratorium AS.
- Ia mengklaim 90% yakin ada penyusup di OpenAI dan Anthropic, namun tidak memberikan bukti dan menolak menyebut nama.
- Pernyataan ini muncul di tengah seruan para CEO AI untuk memperlambat laju inovasi, yang dikritik sebagai taktik bisnis menjelang IPO.

Jacob Coxon, mantan peneliti di Anthropic yang mengundurkan diri bulan lalu, menilai bahwa memperlambat pengembangan kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat tidak akan efektif. Dalam wawancara dengan pengusaha Patrick Bet-David yang dirilis Selasa, ia beralasan bahwa mata-mata China diduga telah menyusup ke laboratorium-laboratorium AI terkemuka dan dapat mencuri kemajuan kapan saja.
Coxon, yang sebelumnya menuduh Anthropic dan OpenAI "mempertaruhkan nyawa" dengan pengembangan AI yang agresif, mengklaim memiliki keyakinan 90% bahwa agen intelijen China telah menembus OpenAI dan Anthropic. Menurutnya, memperlambat riset di AS hanya akan memberi China waktu untuk mengejar ketertinggalan. "Jika kita lanjut, mereka akan mengaksesnya. Jika kita berhenti, China akan membuatnya sendiri. Jadi, China pada akhirnya akan mengaksesnya juga," ujarnya.
Namun, ketika diminta merinci identitas para penyusup, Coxon menolak dan menyatakan tidak ingin memicu perburuan. Sumber yang dekat dengan Anthropic membantah klaim tersebut, menegaskan tidak ada bukti yang mendukung. Anthropic menyatakan telah menerapkan prosedur ketat dalam menyaring personel, kontrol akses, dan pemantauan risiko orang dalam.
Kekhawatiran Coxon juga menyoroti serangan distilasi, yaitu penggunaan model AI canggih untuk melatih model yang lebih lemah. Anthropic menuduh laboratorium China seperti Alibaba, Moonshot, DeepSeek, dan Zhipu meluncurkan jutaan serangan semacam itu sepanjang musim panas. Praktik ini memungkinkan pihak lain meniru kemampuan model tanpa mengembangkan riset dasar secara mandiri.
"Jika kita terus maju, mereka akan mendapat akses. Jika tidak, China akan menciptakannya sendiri. Jadi, China pada akhirnya akan mendapatkannya," kata Coxon.
Pernyataan Coxon muncul setelah para eksekutif puncak industri AI—termasuk CEO Anthropic Dario Amodei, CEO OpenAI Sam Altman, dan CEO xAI Elon Musk—menyerukan perlambatan pengembangan AI untuk menambahkan pengamanan. Altman dalam unggahan September mengatakan kemajuan OpenAI "cepat dan akan terus berlanjut," tetapi akan sedikit diperlambat demi keamanan. Namun, banyak pihak mengkritik seruan itu sebagai upaya membangun hype menjelang IPO Anthropic dan OpenAI yang dinanti, sekaligus merugikan pesaing AI yang lebih kecil.
Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi peringatan. Ketergantungan pada teknologi AI impor dari AS atau China menempatkan negara pada posisi rentan jika terjadi pergeseran kebijakan atau gangguan rantai pasok. Pemerintah perlu mempercepat pengembangan talenta AI lokal dan memperkuat keamanan siber nasional, agar tidak sekadar menjadi pasar bagi inovasi asing. Investasi dalam riset AI yang etis dan berdaulat menjadi semakin mendesak.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah memperlambat AI bisa mencegah penyalahgunaan, tetapi juga bagaimana negara-negara seperti Indonesia dapat memanfaatkan momentum ini untuk membangun ekosistem AI yang mandiri dan aman. Tanpa langkah strategis, ketergantungan pada kekuatan besar akan terus berlanjut.



