Survei Morgan Stanley Ungkap Kesenjangan Gender dalam Penerimaan AI, Perempuan Lebih Skeptis
Baca dalam 60 detik
- Survei Morgan Stanley terhadap 2.000 konsumen AS menunjukkan sentimen neto perempuan terhadap AI berada di -1%, sementara laki-laki +30%.
- Kekhawatiran utama perempuan meliputi pembangunan pusat data di dekat rumah (44%) dan kurangnya pengamanan (57%), yang berujung pada penundaan proyek di beberapa daerah.
- Kesenjangan ini berpotensi memperlebar jurang upah gender, terutama karena perempuan hanya menempati seperempat atau kurang dari pekerjaan AI bergaji tinggi.

Perempuan di Amerika Serikat jauh lebih negatif terhadap kecerdasan buatan dibandingkan laki-laki, menurut survei terbaru Morgan Stanley yang dirilis pekan ini. Survei tersebut melibatkan 2.000 konsumen pada akhir September dan mengukur sentimen neto—selisih antara pandangan positif dan negatif—terhadap AI. Hasilnya mengejutkan: laki-laki mencatat +30%, sedangkan perempuan berada di -1%.
Kesenjangan ini bukan fenomena baru. Sejak bank investasi itu memulai survei pada April, perempuan konsisten menunjukkan sikap lebih skeptis. Saat itu, sentimen perempuan masih +6%, namun kini merosot tajam. Sebaliknya, pandangan laki-laki relatif stabil. Data ini menggarisbawahi bahwa perempuan tidak merasakan manfaat ledakan AI, terutama di pasar kerja, dan lebih mengkhawatirkan risiko keamanan serta pembangunan pusat data.
Alasan di balik penolakan pun berbeda. Baik laki-laki maupun perempuan yang berpandangan negatif sama-sama menyoroti penyalahgunaan AI untuk penipuan dan penyebaran misinformasi. Namun, 44% perempuan menolak pusat data dibangun dekat rumah mereka, dibandingkan 36% laki-laki. Selain itu, 57% perempuan menilai AI berkembang terlalu cepat tanpa pengamanan memadai, sementara laki-laki 54%. Menariknya, laki-laki lebih mengkhawatirkan privasi data (49% berbanding 39% perempuan).
Pandangan negatif ini tidak hanya berhenti di tingkat individu. Di beberapa wilayah, penolakan warga telah memperlambat bahkan menghentikan pembangunan pusat data. Michelle Weaver, kepala riset tematik Morgan Stanley, menyebut fenomena ini sebagai "bottleneck" bagi ekspansi AI secara keseluruhan. Dengan pemilu sela yang semakin dekat, para pembuat kebijakan mulai memberi perhatian serius pada gelombang ketidakpuasan ini.
Survei juga mengungkap disparitas sentimen di kelompok lain. Responden berusia 55 tahun ke atas mencatat -14%, jauh di bawah kelompok di bawah 55 tahun yang sekitar +25%. Konsumen berpenghasilan di atas $100.000 memiliki sentimen +27%, sedangkan yang berpenghasilan di bawah $50.000 hanya +7%. Kaum liberal berada di angka 0, sementara kaum konservatif +31%. Pola ini menunjukkan bahwa ketidakpuasan terhadap AI cenderung terkonsentrasi pada kelompok yang merasa terpinggirkan atau kurang mendapat manfaat ekonomi.
"Kita tidak boleh membiarkan kesenjangan gender dalam AI menjadi jurang yang mengakar," ujar Bridget Griswold, CEO LeanIn, seperti dikutip Axios.
Di dunia kerja, ketimpangan ini semakin nyata. Data LinkedIn menunjukkan perempuan hanya menempati seperempat atau kurang dari posisi AI bergaji tinggi, dan untuk peran eksekutif, porsinya bahkan lebih kecil. Sementara itu, otomatisasi diprediksi akan mengganggu pekerjaan di sektor administrasi, klerikal, dan layanan pelanggan yang banyak diisi perempuan. Jika tren ini berlanjut, kesenjangan upah gender yang sudah lama ada berpotensi semakin melebar.
LeanIn juga menemukan bahwa perempuan sering dikritik ketika menggunakan AI di tempat kerja, sementara laki-laki justru dipuji. Selain itu, AI sendiri terbukti menunjukkan bias terhadap perempuan. Temuan ini diperkuat oleh survei Pew awal tahun yang menunjukkan perempuan lebih skeptis dan laki-laki lebih sering menggunakan teknologi tersebut.
Bagi Indonesia, dinamika ini patut menjadi perhatian. Meskipun survei berfokus pada konsumen AS, pola serupa bisa muncul di sini seiring masifnya adopsi AI. Perempuan Indonesia yang mendominasi sektor administrasi dan layanan berisiko terdampak gelombang otomatisasi. Tanpa kebijakan inklusif—seperti pelatihan ulang dan pengawasan etika AI—kesenjangan digital berbasis gender bisa memperdalam ketimpangan ekonomi. Pemerintah dan pelaku industri perlu memastikan bahwa manfaat AI tidak hanya dinikmati segelintir kelompok.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan mengubah lanskap kerja, melainkan siapa yang akan menuai keuntungan dan siapa yang tertinggal. Akankah industri teknologi mampu menjawab kekhawatiran perempuan, atau justru memperlebar jurang yang sudah ada? Waktu yang akan menjawab, tetapi data Morgan Stanley menjadi alarm bahwa inklusi gender dalam revolusi AI tidak bisa ditunda.



