Malaysia Bangun 'Silicon Island' di Penang, Targetkan Investasi RM75 Miliar dan 220 Ribu Lapangan Kerja
Baca dalam 60 detik
- Malaysia memulai proyek reklamasi 2.300 hektare di Penang untuk membangun Silicon Island, kawasan industri semikonduktor dan AI terintegrasi.
- Proyek senilai RM14 miliar ini ditargetkan menarik investasi RM75 miliar dan menyumbang RM1,1 triliun ke ekonomi Malaysia hingga 2050.
- Silicon Island berpotensi menyerap 220.000 tenaga kerja dan menjadi pesaing baru bagi Indonesia dalam menarik investasi chip global.

Malaysia resmi memulai pembangunan Silicon Island, sebuah pulau buatan seluas 2.300 hektare di lepas pantai selatan Penang, yang diproyeksikan menjadi pusat industri semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI) terbesar di Asia Tenggara. Proyek reklamasi ini menargetkan investasi hingga RM75 miliar (sekitar Rp265 triliun) dan kontribusi RM1,1 triliun terhadap perekonomian nasional pada 2050.
Langkah ini diambil untuk mengatasi keterbatasan lahan di Penang, yang selama lebih dari lima dekade telah menjadi markas bagi raksasa teknologi seperti Intel, AMD, dan ASE Technology. Ketua Menteri Penang Chow Kon Yeow menegaskan bahwa ruang untuk ekspansi di pulau utama semakin sempit, sehingga Silicon Island menjadi solusi strategis untuk mempertahankan posisi Penang sebagai pusat manufaktur elektronik.
Proyek ini bukan sekadar perluasan kawasan industri. Pemerintah Malaysia ingin naik kelas dari sekadar perakitan dan pengujian chip menuju desain semikonduktor, pengemasan canggih, dan pengujian otomatis. Di pusat pulau akan dibangun Green Technology Park seluas 700 hektare yang seluruh fase pertamanya ditargetkan menggunakan energi terbarukan. Kawasan ini akan terhubung dengan pulau utama melalui jembatan sepanjang 380 meter dan berada dekat dengan Bandara Internasional Penang, memudahkan pengiriman komponen via udara.
Permintaan global yang melonjak terhadap chip dan infrastruktur AI menjadi pendorong utama. Presiden Asosiasi Industri Semikonduktor Malaysia Wong Siew Hai memperkirakan ekspor produk listrik dan elektronik Malaysia tahun ini melewati RM900 miliar, dengan hampir tiga perempat berasal dari semikonduktor. Malaysia kini merupakan eksportir semikonduktor terbesar keenam dunia. "Komitmen yang diminta perusahaan-perusahaan ini adalah berapa banyak dan seberapa cepat Anda dapat memproduksi," ujar Wakil Direktur Proyek Silicon Island Development Tan Jun Jing, menggambarkan tekanan kapasitas yang dialami produsen.
Ketegangan dagang Amerika Serikat dan China turut membuka peluang. Banyak perusahaan mencari lokasi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada China, dan Penang dinilai unggul karena ekosistem pabrik, tenaga kerja terampil, serta pemasok yang sudah mapan. Tan mengungkapkan bahwa perusahaan dari Taiwan dan Jepang telah menunjukkan minat, dengan satu calon investor Jepang mengunjungi lokasi proyek tiga kali dalam dua bulan terakhir.
Meski demikian, Silicon Island tidak akan langsung beroperasi. Reklamasi diperkirakan memakan waktu tiga hingga empat tahun, dan pembangunan keseluruhan kawasan bisa berlangsung hingga 15 tahun. Operasi industri pertama ditargetkan mulai awal 2029, sementara penjualan lahan industri dimulai awal 2027. Proyek ini juga mencakup pembangunan 20.000 rumah, ruang hijau seluas hampir seperlima pulau, dan jalur kereta ringan Mutiara sepanjang 29,5 kilometer yang ditargetkan beroperasi akhir 2031.
Persaingan tidak hanya datang dari luar Malaysia. Singapura, Vietnam, dan India gencar mengembangkan industri semikonduktor, sementara di dalam negeri, Kedah dan Selangor juga berupaya menarik produsen chip. Silicon Island pun sering dibandingkan dengan Forest City di Johor, proyek reklamasi raksasa yang dikembangkan Country Garden. Namun, Tan menolak perbandingan itu. "Banyak orang membandingkan kami dengan Forest City, tetapi saat ini jika Anda melihatnya, ini murni kawasan perumahan dan komersial. Katalis utama kami akan berupa sektor industri," tegasnya.
Bagi Indonesia, proyek ini menjadi pengingat bahwa persaingan menarik investasi semikonduktor di ASEAN semakin ketat. Indonesia memiliki ambisi serupa melalui pengembangan Kawasan Industri Terpadu Batang dan rencana ekosistem chip di beberapa daerah, tetapi masih menghadapi tantangan infrastruktur dan kepastian regulasi. Jika Malaysia berhasil membangun Silicon Island, aliran investasi bernilai tinggi berpotensi mengalir ke utara, meninggalkan Indonesia dalam posisi mengejar. Pertanyaannya, mampukah Indonesia mempercepat reformasi iklim usaha dan menyediakan ekosistem yang setara sebelum gelombang investasi chip benar-benar mengalir deras?



