Steiner Puji Kepemimpinan Tenang Mekies di Tengah Badai Red Bull
Baca dalam 60 detik
- Guenther Steiner menilai Laurent Mekies sukses menstabilkan Red Bull Racing setelah kepergian Christian Horner pada Juli 2025.
- Pendekatan tanpa ego dan kemampuan meredam tekanan eksternal menjadi kunci kebangkitan tim, yang berujung kemenangan perdana Max Verstappen musim ini di Sirkuit Sepang.
- Keberhasilan ini menegaskan bahwa ketenangan di kursi bos bisa lebih efektif daripada gebrakan besar dalam menghadapi transisi regulasi dan kehilangan personel kunci.

Mantan principal Haas F1, Guenther Steiner, melontarkan pujian kepada Laurent Mekies atas kepemimpinannya yang tenang di Red Bull Racing. Menurut Steiner, sikap tersebut menjadi faktor utama di balik pemulihan tim asal Milton Keynes itu setelah ditinggal Christian Horner pada Juli 2025.
Mekies tidak hanya mewarisi tim yang limbung akibat sejumlah kepergian tokoh sentral seperti Adrian Newey, Helmut Marko, dan Jonathan Wheatley, tetapi juga harus mengawal transisi besar: pengenalan power unit anyar hasil kolaborasi Red Bull Powertrains dengan Ford, bersamaan dengan perubahan regulasi 2026. Saat ini, Red Bull bercokol di peringkat keempat klasemen konstruktor.
Momen puncak datang di Grand Prix Bahrain di Sirkuit Sepang, Malaysia, ketika Max Verstappen—juara dunia empat kali—meraih kemenangan pertamanya musim ini sekaligus kemenangan perdana bagi proyek Red Bull Powertrains. Dalam podcast The Red Flags usai balapan, Steiner mengapresiasi cara Mekies mengabaikan kebisingan eksternal dan menstabilkan tim.
"Dia mewarisi tim yang sedikit di luar kendali," ujar Steiner. "Laurent dengan tenang membereskan semuanya, selalu ramah, selalu tersenyum, selalu sopan. Dia tidak pernah membuang mainan dari kereta dorong ketika Max Verstappen berteriak, 'Ini tidak bisa diterima.' Dia hanya terus bekerja. Beberapa orang pergi, ada yang bilang, 'Tim ini tidak akan ke mana-mana.' Tebak apa? Dia membawanya kembali."
Steiner menambahkan bahwa banyak pihak hanya mengkritik kepergian Horner tanpa menyadari kerja senyap Mekies. "Dia datang tanpa ego, melakukan pekerjaan yang solid, dan mereka menang dengan cukup dominan. Jadi hormat untuknya," kata Steiner.
Ketika ditanya apa yang membuat Mekies begitu penting, Steiner menyoroti pengalaman dan ketenangannya. "Dia tidak pernah bereaksi berlebihan, selalu menemukan cara mengatasi masalah, dan menutup telinga dari kebisingan luar—itu seni tersendiri karena bisa membuatmu gila. Selama bertahun-tahun, Laurent belajar: 'Saya lakukan yang terbaik, tidak terganggu oleh suara luar. Saya kerjakan tugas saya, jika berhasil syukur, jika tidak, kita lihat nanti.' Dia bisa mengandalkan banyak pengalaman karena telah menduduki berbagai posisi di F1."
Pujian Steiner ini menyoroti dinamika kepemimpinan di F1 yang kerap luput dari sorotan. Di tengah eksodus personel dan tekanan regulasi, kemampuan Mekies menjaga fokus dan stabilitas internal menjadi pembeda. Pendekatan low-profile-nya membuktikan bahwa tidak semua kesuksesan tim memerlukan gebrakan besar; terkadang, ketenangan dan konsistensi justru lebih efektif.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, kisah ini relevan dengan tantangan yang dihadapi tim-tim nasional atau bahkan organisasi olahraga tanah air yang sering menghadapi gejolak internal. Kunci keberhasilan Mekies—pengalaman, ketenangan, dan kemampuan menepis gangguan—bisa menjadi pelajaran berharga dalam mengelola tim di bawah tekanan.
Ke depan, apakah pendekatan Mekies mampu membawa Red Bull kembali bersaing di puncak klasemen? Ataukah kepergian tokoh-tokoh kunci akan tetap menjadi beban jangka panjang? Yang jelas, kemenangan di Sepang memberi sinyal bahwa tim ini belum selesai—dan sosok tenang di kursi bos mungkin justru alasan di baliknya.



