Aprilia Tantang Dominasi Ducati di MotoGP 2026: Rivola Sebut Kalahkan Marquez Tugas Terberat
Baca dalam 60 detik
- Aprilia Racing mencatatkan tujuh kemenangan dari 16 balapan MotoGP 2026, menyamai total tiga musim sebelumnya.
- Jorge Martin memimpin klasemen dengan keunggulan dua poin atas Marc Marquez, sementara Marco Bezzecchi tertinggal 49 poin di posisi ketiga.
- CEO Aprilia Massimo Rivola menilai mengalahkan Marquez dan Ducati sebagai tantangan terberat, namun yakin kerja keras tim membuahkan hasil.

Aprilia Racing CEO Massimo Rivola mengakui bahwa mengalahkan Marc Marquez dan Ducati dalam perebutan gelar MotoGP 2026 adalah tugas paling berat yang bisa dihadapi timnya. Pernyataan itu muncul menjelang Grand Prix Indonesia di Sirkuit Mandalika, saat persaingan antara dua pabrikan Italia tersebut semakin memanas.
Selama empat musim terakhir, Ducati memang mendominasi MotoGP. Namun, Aprilia bangkit pada 2026 dengan pengembangan besar pada motor RS-GP. Bersama tim pabrikan dan satelit Trackhouse, pabrikan asal Noale itu telah memenangkan tujuh dari 16 balapan yang digelar sejauh ini, menyamai total kemenangan mereka dalam tiga musim sebelumnya.
Meski Aprilia dianggap memiliki motor paling serbaguna di grid, Ducati tetap sejajar dalam klasemen pabrikan menjelang GP Indonesia. Marquez menjadi ujung tombak Ducati dengan memenangkan enam dari sembilan balapan terakhir. Rivola menyebut duet Marquez-Ducati sebagai kombinasi terbaik yang pernah ada, dan mengungkapkan bahwa musim lalu ia mencoba memotivasi timnya dengan menegaskan bahwa juara dunia tujuh kali itu bisa dikalahkan.
"Betapa sulitnya mengalahkan Marc? Saya pikir itu tugas terberat yang bisa kami hadapi," kata Rivola. "Tahun lalu, saya katakan itu mungkin. Itu pesan untuk internal, agar perusahaan percaya. Tahun ini, kami berhasil beberapa kali. Apakah kami akan melakukannya sampai akhir atau tidak, terlalu dini untuk mengatakan. Tapi fakta bahwa kami sudah bertarung adalah kepuasan besar karena kami melawan pasangan terbaik, Marc dan Ducati, yang pernah kita lihat dalam bertahun-tahun."
Aprilia memiliki dua pembalap yang bersaing untuk gelar: Jorge Martin dan Marco Bezzecchi. Keduanya masih berada dalam persaingan dengan enam balapan tersisa. Sebaliknya, Ducati memusatkan seluruh dukungan pada Marquez yang tampil sebagai pemimpin jelas di Borgo Panigale pada 2026. Menjelang GP Indonesia, Martin memimpin klasemen dengan keunggulan tipis dua poin atas Marquez, sementara Bezzecchi tertinggal 49 poin di posisi ketiga.
Ditanya apakah memiliki dua pembalap yang bersaing untuk gelar menguntungkan atau merugikan, Rivola menjawab, "Pertama-tama, itu sebuah kepuasan. Tentu saja, mereka akan saling mengurangi poin. Tapi saya pikir itu bagus untuk kejuaraan dan olahraga. Dan bagus bahwa lebih dari satu pembalap bisa cepat di motor itu. Itu juga pesan baik untuk pembalap masa depan."
Manajer Umum Ducati, Gigi Dall'Igna, yang juga hadir dalam konferensi khusus di Mandalika pada Kamis, setuju bahwa memiliki pembalap kedua dalam perebutan gelar dapat menguntungkan pabrikan. "Saya pikir semakin banyak pembalap di depan, semakin baik. Jadi, saya ingin memiliki lebih dari satu pembalap," ujarnya.
Persaingan antara Aprilia dan Ducati tidak hanya soal gengsi pabrikan, tetapi juga berdampak pada dinamika kejuaraan. Dengan dua pembalap Aprilia yang saling bersaing, poin bisa terbagi, sementara Ducati fokus pada Marquez. Namun, Rivola menegaskan bahwa situasi ini justru memperkaya kompetisi dan memberikan pelajaran berharga bagi tim. Ia juga menekankan bahwa keberhasilan Aprilia bersaing di level teratas merupakan buah kerja keras seluruh tim di Noale.
Bagi Indonesia, GP Mandalika menjadi momen penting untuk menyaksikan langsung pertarungan sengit antara dua raksasa MotoGP. Kehadiran para pembalap top dan tensi juara di Sirkuit Mandalika diharapkan dapat meningkatkan antusiasme penggemar tanah air serta memperkuat posisi Indonesia sebagai tuan rumah event motorsport kelas dunia. Selain itu, persaingan ketat ini bisa menjadi inspirasi bagi industri otomotif nasional untuk terus berinovasi.
Dengan enam balapan tersisa, pertanyaan besarnya adalah apakah Aprilia mampu mempertahankan konsistensi dan mengakhiri dominasi Ducati, atau Marquez akan kembali menunjukkan kelasnya dan membawa gelar ke Borgo Panigale. Yang jelas, duel ini akan menjadi salah satu yang paling menarik dalam sejarah MotoGP modern.



