Dolar AS Sentuh Puncak 18 Bulan, Bitcoin Bertahan di $86.000
Baca dalam 60 detik
- Indeks Dolar AS (DXY) menembus level 102,5, tertinggi sejak awal 2025, setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan ke 3,75%-4%.
- Penguatan greenback menekan aset berisiko, namun bitcoin tetap stabil di kisaran $86.000 berkat arus masuk ETF dan ekspektasi halving.
- Pelemahan euro dan ketidakpastian politik Eropa memperkuat dolar, sementara investor kripto mencermati kebijakan moneter ketat yang berkepanjangan.

Indeks Dolar AS (DXY) melonjak ke level tertinggi dalam 18 bulan terakhir, mencapai sekitar 102,5 pada perdagangan Senin, seiring dengan sikap hawkish Federal Reserve dan melemahnya mata uang utama Eropa. Sementara itu, bitcoin (BTC) tetap bertahan di kisaran $86.000, menunjukkan ketahanan di tengah tekanan makroekonomi global.
Kenaikan DXY dari sekitar 99 pada awal September menandai momentum bullish yang solid, dengan posisi saat ini jauh di atas moving average 200-hari yang juga berada di kisaran 99. Penguatan dolar biasanya menjadi angin sakal bagi aset berisiko seperti saham dan kripto, karena meningkatkan biaya utang berbasis dolar di luar AS dan menekan daya beli investor asing. Ketika dibarengi dengan suku bunga tinggi, imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi lebih menarik, sehingga menaikkan ambang batas investasi di instrumen berisiko.
Keputusan Federal Reserve pada September lalu untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke rentang 3,75%-4% menjadi katalis utama penguatan dolar. Pasar kini memperkirakan pengetatan lanjutan, dengan target 4,5%-4,75% pada Juni 2027 sebagai skenario paling mungkin. Imbal hasil obligasi tenor panjang AS telah menyentuh level tertinggi dalam lebih dari dua dekade, dipicu kekhawatiran inflasi, pembiayaan pemerintah, dan keberlanjutan fiskal.
Pelemahan euro menjadi pendorong signifikan karena bobotnya mencapai 57,6% dalam keranjang DXY. Mata uang tunggal Eropa itu merosot mendekati 1,12, level terendah dalam 17 bulan, akibat kekhawatiran fiskal dan politik yang membebani kepercayaan pasar. Prancis menghadapi tekanan defisit dan biaya pinjaman menjelang pemilihan presiden tahun depan, sementara Perdana Menteri Spanyol Pedro Sรกnchez mengumumkan pemilihan umum dipercepat pada 29 November, menambah ketidakpastian regional.
"Kombinasi suku bunga tinggi AS dan fragmentasi politik Eropa menciptakan lingkungan yang menantang bagi aset berisiko, namun bitcoin menunjukkan ketahanan yang luar biasa," ujar seorang analis pasar yang enggan disebutkan namanya.
Meski demikian, bitcoin tetap bertahan di sekitar $86.000 setelah awal Oktober yang positif. Arus masuk ke ETF bitcoin spot dan ekspektasi halving mendatang menjadi penopang utama. Namun, analis memperingatkan bahwa penguatan dolar yang berkepanjangan dapat membatasi ruang gerak kripto, terutama jika The Fed terus menaikkan suku bunga.
Bagi investor Indonesia, dinamika ini berdampak langsung pada nilai tukar rupiah dan imbal hasil aset dolar. Penguatan greenback berpotensi menekan rupiah, sementara bitcoin menjadi alternatif lindung nilai yang semakin populer di kalangan investor ritel dalam negeri. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia terus memantau perkembangan aset kripto, dengan regulasi yang semakin ketat untuk melindungi konsumen.
Ke depan, pasar akan mencermati sinyal dari pertemuan The Fed berikutnya dan data inflasi AS. Jika dolar terus menguat, tekanan terhadap bitcoin dan aset berisiko lainnya bisa meningkat. Namun, jika The Fed melunak, ruang pemulihan bagi kripto akan terbuka. Pertanyaannya, apakah bitcoin mampu mempertahankan level $86.000 atau justru tertekan lebih dalam?



