Google Cloud dan RemotiveLabs Kolaborasi Percepat Rekayasa Virtual Kendaraan
Baca dalam 60 detik
- Kemitraan ini menggabungkan platform RemotiveTopology milik RemotiveLabs dengan Horizon milik Google Cloud untuk menciptakan digital twin kendaraan yang dapat diuji secara kolaboratif.
- Perusahaan mengklaim efisiensi biaya pengembangan fitur hingga 40% dan pengujian perangkat lunak 9 kali lebih cepat melalui simulasi virtual.
- Langkah ini berpotensi mengubah lanskap industri otomotif global dan menawarkan pelajaran bagi sektor otomotif Indonesia yang tengah mengembangkan kendaraan listrik.

Perusahaan teknologi asal Swedia, RemotiveLabs, resmi menjalin kemitraan strategis dengan Google Cloud untuk mempercepat siklus pengembangan kendaraan melalui simulasi virtual. Kolaborasi yang diumumkan awal pekan ini menggabungkan platform visualisasi RemotiveTopology milik RemotiveLabs dengan Horizon, platform pengembangan perangkat lunak open-source besutan Google Cloud. Tujuannya satu: memangkas waktu dan biaya riset sebelum satu pun komponen fisik diproduksi.
Kemitraan ini menyasar konsep "system of systems" yang diusung Google Cloud, di mana seluruh kendaraan virtual—dikenal sebagai digital twin—dapat dirancang dan diuji secara kolaboratif di cloud oleh berbagai tim pengembang. Florian Haubner, Industry Architect Lead di Google, menjelaskan bahwa pendekatan ini memungkinkan iterasi lebih cepat dan skala yang dibutuhkan untuk agen otonom. "Kami melihat pengurangan biaya pengembangan fitur hingga 40%, peningkatan kualitas karena cakupan pengujian yang lebih tinggi, dan pengujian perangkat lunak hingga 9 kali lebih cepat secara virtual," ujarnya dalam wawancara melalui email. Dengan RemotiveLabs, Google memperluas manfaat pengembangan virtual dari sekadar Android ke seluruh kendaraan.
RemotiveTopology sendiri bukan teknologi baru. Platform ini telah digunakan selama beberapa tahun oleh perusahaan-perusahaan besar seperti Volvo Cars, Ford, Horse Powertrain, HERE Technologies, dan Arm. Kini, integrasi dengan Horizon memungkinkan platform tersebut membawa seluruh aspek kendaraan ke cloud, sehingga tim pengembang dapat membangun dan menguji fungsionalitas secara terintegrasi. "Kami membawa sisa kendaraan ke cloud, sehingga mereka memiliki sesuatu untuk diintegrasikan," kata Per Sigurdson, CEO dan co-founder RemotiveLabs. "Anda akan menggunakan Horizon untuk membangun dan menyebarkan fungsionalitas, lalu menggunakan integrasi RemotiveLabs untuk menghadirkan seluruh kendaraan saat ingin melakukan pengujian."
Pendekatan yang dikenal sebagai left-shifting ini memungkinkan deteksi dini berbagai masalah sebelum komponen fisik yang mahal diproduksi. Sigurdson menekankan bahwa hal ini sangat berharga dalam menangani sistem kelistrikan dan elektronik yang melibatkan banyak pemasok dengan versi sinyal berbeda. "Anda ingin menyelesaikan semua ketidakcocokan dan potensi kesalahpahaman pada tahap yang sangat awal," tambahnya. Simulasi virtual sendiri sudah ada sejak lima dekade lalu, tetapi kemampuan kolaborasi di cloud yang ditingkatkan dengan bantuan AI menjadi pembeda utama.
David Heiny, co-founder dan CEO SimScale, perusahaan yang berspesialisasi dalam simulasi, menyoroti pentingnya kecepatan rekayasa. "Pada akhirnya, jika sebuah organisasi mampu melakukan out engineering untuk mendapatkan kecepatan rekayasa yang lebih tinggi, mereka dapat memenuhi permintaan pelanggan lebih cepat," ujarnya. Namun, mencapai kecepatan tersebut sering menjadi tantangan bagi perusahaan otomotif yang kompleks, di mana berbagai fungsi sering terpisah dalam silo organisasi. Sigurdson menambahkan bahwa salah satu silo utama adalah antara domain perangkat lunak dan perangkat keras, yang memiliki kompetensi, peralatan, dan perspektif waktu berbeda. Kemitraan ini bertujuan menjembatani silo tersebut.
Arm, yang telah bekerja sama dengan RemotiveLabs selama 10-12 bulan terakhir, menyediakan fondasi komputasi untuk virtual twin. Barrie Mullins, Senior Director of Arm Total Design for Physical AI, menjelaskan bahwa Arm menciptakan platform virtual dan virtual system on a chip (vSoC) yang secara akurat merepresentasikan silikon dan papan pengembangan berbasis Arm. Hasilnya, pengembang dapat memulai pengembangan perangkat lunak, integrasi, pengujian, dan verifikasi sebelum perangkat keras fisik tersedia. RemotiveLabs memperluas lingkungan virtual ini dari platform komputasi ke seluruh kendaraan, menambahkan arsitektur listrik/elektronik, jaringan, sinyal, unit kontrol elektronik virtual, dan antarmuka perangkat lunak.
"Sekali arsitektur produk atau faktor bentuk ditentukan, pengembang mendapatkan akses ke beban kerja yang representatif dan berkelanjutan tanpa harus menunggu perangkat keras fisik. Integrasi perangkat lunak, pengujian sistem, dan validasi model AI dapat dimulai jauh lebih awal menggunakan skenario realistis." - Barrie Mullins, Arm
Integrasi antara RemotiveLabs dan Google Horizon sebenarnya telah selesai dilakukan, namun baru diumumkan sekarang. Langkah ini merupakan bagian dari upaya lebih besar untuk memanfaatkan AI, komputasi cloud, dan kolaborasi guna meningkatkan kecepatan, efisiensi, dan kualitas dalam proses pengembangan kendaraan. Bagi industri otomotif Indonesia yang sedang bertransformasi menuju kendaraan listrik, pendekatan ini menawarkan pelajaran berharga. Dengan mengadopsi teknologi digital twin dan simulasi virtual, produsen dalam negeri dapat mempercepat riset dan pengembangan, mengurangi ketergantungan pada prototipe fisik, serta meningkatkan daya saing di pasar global. Meskipun infrastruktur cloud dan sumber daya manusia menjadi tantangan, kolaborasi dengan penyedia teknologi global seperti Google Cloud dan RemotiveLabs dapat menjadi jalan pintas untuk mengadopsi praktik terbaik.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa cepat adopsi teknologi ini meluas ke seluruh rantai pasok otomotif, termasuk di negara berkembang. Jika berhasil, bukan tidak mungkin siklus pengembangan kendaraan yang biasanya memakan waktu bertahun-tahun dapat dipangkas secara signifikan, membuka era baru di mana inovasi otomotif tidak lagi didikte oleh mahalnya prototipe fisik, melainkan oleh kecerdasan simulasi digital.



