Peter Zumthor Rampungkan Galeri Beton Rp2,3 Triliun di Basel, Kritikus Pertanyakan Estetika Butik Mewah
Baca dalam 60 detik
- Arsitek Swiss Peter Zumthor merampungkan perluasan Yayasan Beyeler senilai ยฃ110 juta di Basel, proyek pertamanya di kota kelahirannya setelah enam dekade berkarier.
- Galeri beton tumbuk tiga lantai ini menampilkan material Jura limestone yang dipadatkan manual, tetapi interiornya dinilai beberapa pengamat terlalu bernuansa butik mewah ketimbang ruang pamer seni.
- Perdebatan soal jejak karbon beton dan relevansi estetika arsitektur global menjadi sorotan di tengah dorongan industri konstruksi dunia menuju material rendah emisi.

Peter Zumthor akhirnya membangun di kota kelahirannya. Setelah lebih dari enam dekade berkarier dan menyelesaikan proyek-proyek ikonik di Jerman, Norwegia, hingga Amerika Serikat, arsitek berusia 83 tahun itu meresmikan perluasan Yayasan Beyeler di Riehen, pinggiran Basel, Swiss โ sebuah galeri monolitik senilai ยฃ110 juta (sekitar Rp2,3 triliun) yang menjadi proyek pertamanya di Basel.
Bangunan ini bukan sekadar tambahan ruang pamer. Yayasan Beyeler, yang didirikan pedagang seni Ernst Beyeler dan istrinya Hildy pada 1997, menyimpan koleksi Monet, Mirรณ, Matisse, dan Picasso yang termasuk paling berharga di dunia. Desain awal karya arsitek Italia Renzo Piano telah lama dianggap sebagai model pengekangan elegan โ kontras dengan gaya "ikonik" yang mendominasi era 1990-an. Namun sejak hari pertama dibuka, museum itu sudah kekurangan ruang. Perluasan 12 meter pada 1999 tak cukup menampung 500.000 pengunjung per tahun, menjadikannya museum seni paling banyak dikunjungi di Swiss.
Zumthor terpilih pada 2016 dari daftar pendek 11 arsitek, setelah sekitar 100 nama diajukan. Ia menggarap tiga struktur sekaligus: galeri utama, blok kantor dan penanganan karya seni berlantai lima berlapis kayu, serta paviliun auditorium yang dirancang sebagai ruang publik tanpa tiket. "Sembilan puluh persen waktu, auditorium museum itu ruang mati," kata Direktur Yayasan Beyeler, Sam Keller. "Kami mengubahnya menjadi ruang sosial โ tempat orang membaca buku, mendengarkan podcast, atau bekerja."
Yang membedakan galeri ini adalah pendekatan materialnya. Zumthor mencampur batu kapur Jura โ yang ia sebut "batu masa mudaku" โ ke dalam beton, lalu meminta pekerja memadatkan campuran kering itu dengan tangan, tidak lebih dari 45 sentimeter sehari. Sambungan bergelombang antarhari kerja sengaja dibiarkan terlihat, menyerupai lapisan batuan sedimen. "Saya menyebutnya beton petani," ujarnya. "Anda lihat itu di mana-mana di pegunungan. Mereka membuatnya sendiri, tidak menggetarkan campuran, jadi terlihat kasar seperti ini. Kalau terlalu mulus, Anda hanya terlihat seperti majalah mode."
"Saya tidak bisa membuat museum kayu. Menurut saya itu tidak baik untuk seni. Seni klasik semacam ini butuh substansi." โ Peter Zumthor, saat ditanya soal jejak karbon beton.
Namun pendekatan itu memicu kritik. Setelah fasad batu yang berkilau, interior galeri terasa seperti gua โ lukisan waterlily Monet tampak lebih keruh di lantai dasar yang remang. Lantai teraso batu kapur, dinding kapur, dan langit-langit beton pucat menciptakan dunia beige yang menyeluruh, yang oleh sebagian pengamat dinilai meredam karya seni. Seorang pengunjung asal Los Angeles bahkan menyamakannya dengan "toko Skims baru". Kritikus lain merindukan cahaya atap galeri Piano di sebelahnya.
Zumthor tidak menyangkal. Ia justru menegaskan bahwa arsitektur harus punya tekstur, sejarah, dan jejak tangan manusia. "Sebuah bangunan adalah sesuatu yang sesekali harus bisa Anda sandari," katanya, merujuk pada bangku batu yang menyatu dengan fasad museum. Di atasnya, patung anak penabuh drum karya Maurizio Cattelan bertengger di tepi atap, sesekali menabuh drum dari ketinggian.
Proyek ini juga menghadirkan narasi personal. Dalam dokumenter dua jam garapan Wim Wenders berjudul From Inside Out, Zumthor mengenang masa kecilnya di Basel, bagaimana air mancur desa dan palung ternak "semuanya bersinar". Ia ingin bangunannya pun bersinar. Namun di balik sentimen itu, pertanyaan soal jejak karbon beton tetap menggantung. Industri konstruksi global menyumbang sekitar 37% emisi karbon dunia, dan beton adalah salah satu material paling intensif karbon. Zumthor berargumen bahwa museum seni klasik membutuhkan "substansi" yang tidak bisa digantikan kayu.
Perdebatan ini relevan bagi Indonesia, yang tengah mendorong pembangunan infrastruktur dan ruang publik baru. Arsitek Tanah Air menghadapi dilema serupa: antara estetika monolitik yang tahan lama dan komitmen terhadap material rendah emisi. Beberapa proyek museum dan galeri seni di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta mulai mengadopsi material lokal seperti bambu dan kayu daur ulang, meski skala dan daya tahannya masih diuji.
Yang jelas, perluasan Beyeler menegaskan posisi Zumthor sebagai arsitek yang menolak arus utama. Ia tidak membangun gedung pencakar langit atau museum dengan bentuk spektakuler. Ia membangun sesuatu yang bisa disentuh, disandari, dan dihuni. Apakah pendekatan "beton petani" ini akan bertahan di tengah tekanan dekarbonisasi industri konstruksi, atau justru menjadi monumen terakhir dari era arsitektur yang tak lagi mungkin diulang?



