Pixel 11 Kalah Performa dari 10 Ponsel Android Ini, Harganya Bisa Dua Kali Lipat
Baca dalam 60 detik
- Google Pixel 11 kembali menuai kritik karena chipset Tensor miliknya tertinggal jauh dari pesaing Android dalam uji benchmark sintetis.
- Sepuluh ponsel Android unggulan, mulai dari Samsung Galaxy S26 Ultra hingga RedMagic 11S Pro, mencatatkan keunggulan performa CPU dan GPU yang signifikan atas Pixel 11.
- Dominasi Snapdragon 8 Elite Gen 5 dan MediaTek Dimensity 9500 menegaskan bahwa pengguna yang menginginkan tenaga mentah punya banyak alternatif, meski harus merogoh kocek lebih dalam.

Google Pixel 11 resmi meluncur, tetapi bagi sebagian pengguna yang menuntut performa puncak, ponsel ini justru dianggap sebagai langkah mundur. Chipset Tensor rancangan Google kembali menjadi titik lemah yang membuat Pixel 11 tertinggal jauh dari sejumlah ponsel Android lain dalam pengujian benchmark sintetis. Meski demikian, bagi mayoritas konsumen, kemampuan Pixel 11 tetap memadai untuk aktivitas harian, termasuk bermain game sesekali.
Data dari NanoReview yang membandingkan skor benchmark secara langsung menunjukkan kesenjangan yang mencolok. Samsung Galaxy S26 Ultra, misalnya, mencatatkan keunggulan 41% pada performa single-core, 83% pada multi-core, dan 369% pada GPU dibandingkan Pixel 11. Angka ini bukan sekadar selisih kecil, melainkan bukti bahwa chipset Tensor masih tertinggal beberapa generasi dari Qualcomm Snapdragon 8 Elite Gen 5 yang digunakan sebagian besar pesaing.
Kesenjangan performa ini bukan hal baru. Selama beberapa tahun terakhir, Pixel memang dikenal mengorbankan tenaga mentah demi mengakomodasi fitur AI on-device. Namun, ketika ponsel seperti Galaxy S26 yang dijual di kisaran harga sama—sekitar US$899—mampu menawarkan performa 38% lebih baik di single-core dan 70% lebih baik di multi-core, pilihan konsumen menjadi semakin rumit. Pixel 11 memang unggul dalam hal harga dan fitur AI, tetapi untuk urusan tenaga, ia harus mengakui keunggulan rival.
Daftar ponsel yang mengalahkan Pixel 11 tidak hanya diisi oleh model flagship mahal. Motorola Razr Ultra 2026, yang menggunakan chipset Snapdragon 8 Elite generasi sebelumnya, tetap mencatatkan keunggulan 12% di single-core, 47% di multi-core, dan 326% di GPU. Fakta ini membuktikan bahwa pengguna tidak selalu perlu chipset terbaru untuk mendapatkan performa di atas Pixel 11. Bahkan, ponsel lipat seperti Galaxy Z Fold8 dan Honor Magic V6—yang harganya menembus US$1.800—juga menawarkan peningkatan performa signifikan, meski perbandingannya kurang setara karena faktor bentuk dan harga.
"Ponsel-ponsel ini bukan hanya lebih bertenaga, tetapi juga menawarkan spesifikasi hardware yang lebih unggul, seperti kamera 200MP, pengisian daya 100W, dan baterai silikon-karbon berkapasitas besar," demikian catatan dalam analisis tersebut.
Menariknya, beberapa ponsel yang masuk daftar ini tidak dijual resmi di pasar Amerika Serikat, seperti OnePlus 15, Honor Magic8 Pro, dan Xiaomi 17T Pro. Namun, semuanya masih bisa dibeli melalui platform e-commerce internasional. OnePlus 15, misalnya, mengandalkan baterai 7.300 mAh dengan teknologi silikon-karbon yang belum diadopsi Google, serta dukungan pengisian 120W. Sementara itu, Honor Magic8 Pro menawarkan kamera periskop 200MP dan pengisian nirkabel 80W, meski harganya di Inggris mencapai £1.099 atau sekitar US$1.470.
Bagi konsumen di Indonesia, fenomena ini menjadi cerminan betapa cepatnya lanskap ponsel Android berkembang. Pasar dalam negeri sendiri didominasi oleh merek-merek seperti Samsung, Xiaomi, Oppo, dan Vivo yang gencar menghadirkan chipset Snapdragon dan MediaTek terbaru. Pixel 11 memang tidak dijual resmi di Indonesia, tetapi perbandingan ini relevan untuk memahami trade-off antara performa dan fitur AI. Pengguna di Tanah Air yang menginginkan tenaga mentah biasanya akan melirik lini flagship Xiaomi atau iQOO, yang sering kali menawarkan spesifikasi lebih agresif dengan harga lebih kompetitif.
Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa adalah seberapa jauh Google akan membenahi chipset Tensor di generasi mendatang. Jika tren ini berlanjut, Pixel berisiko terus kehilangan pangsa pasar di segmen pengguna yang mementingkan performa. Di sisi lain, ponsel-ponsel pesaing semakin mendekati batas kemampuan hardware, sehingga peningkatan generasi ke generasi mungkin tidak lagi menjadi faktor penentu utama. Apakah Google akan mengubah strategi chipsetnya, atau tetap bertahan dengan pendekatan AI-first yang mengorbankan tenaga mentah?



