Tuan Rumah COP31 Diguncang Skandal Metana: TPA Silivri di Turki Jadi Salah Satu Pencemar Terburuk Dunia
Baca dalam 60 detik
- Satelit UCLA mendeteksi kebocoran metana raksasa dari TPA Silivri, Turki, dengan laju 7,4 ton per jam—setara emisi 1,5 juta SUV.
- Temuan ini muncul menjelang KTT Iklim COP31 di Antalya, November mendatang, di mana Turki menjadikan pengurangan metana sebagai agenda utama.
- Pemerintah Turki menolak berkomentar, sementara warga sekitar mengeluh bau menyengat dan takut melapor karena tekanan politik.

Sebuah investigasi berbasis citra satelit mengungkap bahwa Turki—yang akan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Iklim COP31 pada November mendatang—memiliki sejumlah tempat pembuangan akhir (TPA) dengan kebocoran metana terburuk di dunia. Temuan ini menjadi pukulan telak bagi kredibilitas negara tersebut yang gencar mendorong pengurangan emisi metana global.
Data dari tim peneliti University of California (UCLA) menunjukkan TPA Silivri di pinggiran Istanbul melepaskan metana dengan laju rata-rata 7,4 ton per jam. Angka itu menjadikannya salah satu sumber pencemaran metana terbesar yang pernah diidentifikasi dari fasilitas limbah mana pun. Dampak pemanasan global dari satu kebocoran ini setara dengan emisi 1,5 juta kendaraan sport utility vehicle (SUV) yang terus menyala.
Metana, komponen utama gas alam, tidak berwarna dan tidak berbau sehingga kebocorannya tak terlihat mata telanjang. Namun, satelit mampu menangkap gumpalan gas tersebut. Selain Silivri, UCLA menemukan sembilan TPA super-emitor lain di Turki, tersebar dari İzmir di barat, Ankara di tengah, hingga Antalya di selatan. "Banyak dari lokasi ini memiliki laju emisi metana yang luar biasa besar, bahkan dalam konteks global," ujar Cara Horowitz, yang memimpin proyek Stop Methane UCLA, seperti dikutip dari laporan eksklusif The Guardian.
Ironi semakin dalam karena Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan dan Ibu Negara Emine Erdoğan telah lama mengkampanyekan zero waste dan pengurangan metana di panggung internasional. Emine Erdoğan bahkan menjabat sebagai ketua Dewan Penasihat PBB untuk Zero Waste. Namun, di dalam negeri, kebocoran metana dari TPA justru terus berlangsung. Pemerintah Turki menolak memberikan komentar saat dihubungi, dan otoritas Kota Istanbul juga menolak menjawab pertanyaan serta melarang pengambilan foto di lokasi.
Di tingkat lokal, warga di sekitar Silivri telah bertahun-tahun menanggung bau busuk yang menyengat. "Baunya tidak halus. Menyesakkan," kata Kemalettin Özenç, seorang warga Desa Yolçatı, kepada The Guardian. Ia dan warga lain berupaya menyuarakan keluhan, tetapi banyak yang enggan menandatangani petisi karena takut akan pembalasan pihak berwenang. "Mereka punya kekuasaan dan bisa mengatakan apa pun," ujarnya. Ketakutan itu diperkuat oleh keberadaan penjara supermaximum di dekat desa, tempat Wali Kota Istanbul Ekrem İmamoğlu ditahan pada 2025 atas tuduhan korupsi—kasus yang dianggap bermotif politik.
Pihak pengelola TPA, İstaç, mengakui adanya kebocoran. Fatih Arslan dari İstaç berdalih bahwa emisi berasal dari area yang belum tertutup tanah liat. "Itu tidak terhindarkan... tentu kami harus melakukan perbaikan," katanya. Ia menekankan bahwa fasilitas di lokasi telah mengekstraksi 6.000 meter kubik metana per jam untuk dibakar menjadi energi. Kepala fasilitas, Ebu Bekir Ikinci, bahkan mengklaim situasi saat ini jauh lebih baik dibanding era 1990-an ketika sampah menumpuk dan ledakan metana pada 1993 menewaskan 39 orang.
Namun, para ahli menilai pembakaran metana tidak serta-merta menyelesaikan masalah. "Tidak semua lokasi yang memiliki sistem penangkapan gas sama efektifnya. Itu tergantung desain, efisiensi sistem, dan praktik manajemen harian," jelas Dr. Tia Scarpelli dari Carbon Mapper. Penyebab kebocoran besar antara lain kurangnya perawatan, kegagalan menjaga flare tetap menyala, atau hanya menangkap gas berkualitas baik dan membuang sisanya ke atmosfer.
Metana bertanggung jawab atas seperempat pemanasan global dan telah meningkat tajam sejak 2007. Para ilmuwan menyebut pengurangan metana sebagai "rem darurat" iklim karena efeknya cepat terasa. Sayangnya, upaya Turki masih terkendala regulasi: undang-undang pemantauan emisi yang disahkan Agustus lalu hanya mencakup karbon dioksida dan mengecualikan fasilitas yang menggunakan biomassa seperti TPA.
Kegagalan Turki membersihkan TPA-nya berpotensi menjadi bumerang politik. Kota-kota besar seperti Istanbul, Ankara, dan İzmir dikuasai oposisi, sementara pemerintah pusat gencar menyerang mereka. Jika isu ini terus diabaikan, janji COP31 untuk menjadikan pengurangan metana sebagai prioritas akan terdengar hampa. Mampukah Turki membuktikan komitmennya, atau akankah skandal ini menenggelamkan agenda iklim global?



